
SP/Radesman Saragih
Atraksi atlet panahan Jambi peraih medali emas PON XVII, Ria Febrianti, yang juga mahasiswi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Unja, memukau ribuan hadirin pada Peksiminas IX.
ntensitas kegiatan berkesenian berperan penting menangkal merebaknya budaya kekerasan yang belakangan ini kian akrab dengan kehidupan mahasiswa di Tanah Air. Melalui aktivitas seni di lingkungan kampus, para mahasiswa bisa mengekspresikan kegalauan hati dan pergulatan batin dengan karya seni yang sarat nilai estetika dan penuh kedamaian.
Kesan itulah yang bisa terekam ketika mengikuti pembukaan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) IX Tahun 2008 yang diselenggarakan di Kampus Pinang Masak, Universitas Jambi (Unja), di Desa Mendalo, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Sabtu (26/7).
Penampilan tim kesenian mahasiswa Jambi yang membawakan tarian Melayu "Joget Bergurau" pada pembukaan Peksiminas tersebut misalnya, benar-benar mampu menyampaikan pesan kedamaian dan kelemahlembutan dalam pergaulan sosial. Tari yang dibawakan enam gadis kampus dengan penuh gemulai mengisyaratkan bahwa tak semua kesulitan hidup harus dilawan dengan kekerasan. Justru para penari mengingatkan, kekerasan hidup bisa dihadapi dengan sikap kelembutan dan terkadang dengan penuh canda, seperti tari yang mereka bawakan, yakni berjoget sembari bercanda.
Pesan serupa juga terekam dari penampilan tim kesenian mahasiswa Provinsi Aceh yang mementaskan tarian "Kanduri Blang" atau tari panen raya. Tarian tersebut menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu yang dilakoni dalam kehidupan ini perlu dibarengi permohonan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan. Melalui hubungan dekat dengan sang pencipta, apa pun persoalan hidup bisa dihadapi dengan sikap penuh ketenangan, kelemahlembutan, dan kebersamaan.
Apresiasi serupa juga direkam Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo yang hadir pada pembukaan Peksiminas IX tersebut. Menurut Bambang Sudibyo, kegiatan kesenian di lingkungan kampus perlu ditumbuhkembangkan sebagai salah satu cara meredam aksi-aksi kekerasan yang semakin mewarnai kehidupan mahasiswa.
Peningkatan nilai-nilai estetika di tengah kampus akan mampu menumbuhkan rasa kepekaan, kehalusan jiwa, dan harmonisasi perilaku mahasiswa. Estetika juga memampukan mahasiswa melakukan apresiasi seni dan meningkatkan kreativitas pada karya-karya positif serta bermakna bagi sesama.
Bambang Sudibyo mengatakan, terabaikannya kegiatan kesenian di lingkungan kampus selama ini menjadi pemicu utama merebaknya tindak kekerasan mahasiswa di lingkungan kampus. Akibat sikap, perilaku, dan pola pikir mahasiswa yang tidak memiliki estetika, kekerasan di dunia pendidikan yang sebelumnya hanya terjadi di lingkungan sekolah, akhirnya merasuk ke lingkungan kampus.
"Kekerasan yang mewarnai kehidupan kampus bukan kekerasan mahasiswa terhadap dosen karena memang dosen semakin takut kepada mahasiswa. Kekerasan di tengah kampus terjadi antara sesama mahasiswa dan mahasiswa dengan aparat keamanan. Semua ini tarjadi karena terabaikannya nilai-nilai estetika dalam kehidupan kampus," katanya.
Dikatakan, kekerasan di lingkungan kampus sebenarnya bisa dilawan melalui peningkatan kemampuan mahasiswa untuk mengapresiasi seni. Melalui kemampuan tersebut, mahasiswa dapat melihat sisi-sisi keindahan dari setiap pergulatan batin dan menuangkannya dalam karya seni.
Terbangunnya sikap kreatif akan memacu mahasiswa menghasilkan karya-karya terbaik dan penemuan baru dalam kehidupan. Kreasi dan penemuan tersebut tidak hanya di bidang seni, tetapi juga kreasi dan penemuan di bidang teknologi yang berguna bagi kehidupan manusia.
"Proses kreatif dan penemuan baru ini penting membantu manusia mengatasi berbagai problema hidup. Proses kreatif dan penemuan baru ini tentunya paling banyak terjadi di perguruan tinggi. Karena itulah kegiatan kesenian di lingkungan kampus perlu semakin digalakkan," katanya.
Peksiminas, lanjut Bambang, diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan apresiasi seni para mahasiswa dari berbagai daerah dalam rangka melestarikan seni dan budaya bangsa Indonesia. "Perbedaan suku dan budaya yang kita miliki bukan menjadi sesuatu yang menghambat, tetapi justru merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang dapat diciptakan sebagai kekuatan kita untuk meningkatkan daya saing bangsa," paparnya.
Tumpuan Bangsa
Bambang Sudibyo mengatakan, tumpuan harapan bangsa Indonesia pada masa yang akan datang terletak pada generasi muda saat ini, khususnya mahasiswa. Karena itu, pemerintah terus mendorong para mahasiswa agar mampu bersaing dengan mahasiswa negara lain. Namun, peningkatan daya saing itu tidak mudah. Perjuangan dan semangat belajar sangat dibutuhkan. Peningkatan daya saing tersebut juga tidak cukup dengan menguasai ilmu, tetapi juga perlu disertai kepekaan, pengalaman jiwa, dan sikap percaya diri.
Peksiminas merupakan ajang memupuk rasa persaudaraan, kerja sama, dan menjalin persatuan mahasiswa dari berbagai daerah. Kegiatan kesenian mahasiswa secara nasional ini merupakan wadah pembekalan bagi mahasiswa agar mereka mampu melengkapi dirinya dengan segala aktivitas positif. Peksiminas juga akan memampukan mahasiswa mengasah kepekaan sosial, disiplin, kekompakan, kebersamaan, dan kepercayaan diri.
"Melalui kegiatan Peksiminas inilah kita bekali mahasiswa dengan kemampuan mengembangkan olah rasa, yaitu meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas terhadap kehalusan dan keindahan. Kegiatan seni ini juga akan meningkatkan kemampuan ekspresi estetis untuk mengantarkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan," katanya.
Sementara itu, Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin pada kesempatan itu mengungkapkan, Peksiminas merupakan salah satu upaya meningkatkan wawasan dan mengembangkan kepribadian mahasiswa. Kegiatan seni di lingkungan kampus yang berkelanjutan ini akan berdampak positif pada proses perkuliahan. Dengan demikian, para mahasiswa akan lebih kreatif dan inovatif. Hal tersebut akan memampukan mahasiswa mengembangkan seluruh aspek kepribadian. "Kompetisi kesenian seperti ini juga dapat dijadikan sarana merangsang tumbuhnya motivasi para mahasiswa, dosen, pengelola, dan pembina pendidikan, untuk berkompetisi secara sehat dengan mengedepankan sportivitas guna mencapai prestasi tinggi," katanya.
Peksiminas IX di Jambi dihadiri 28 kontingen utusan Pengurus Provinsi Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (Pengprov BPSMI). Jumlah peserta Peksiminas mencapai 1.428 orang. Mereka terdiri dari 563 peserta, 78 kru, 28 Ketua Pengprov BPSMI, 112 pembantu rektor, serta 455 pendamping. Peksiminas yang berlangsung Sabtu (26/7) sampai Rabu (30/7) mempertandingkan 16 cabang lomba seni, di antaranya seni tari, seni pertunjukan, seni penulisan karya sastra, dan seni rupa. [SP/Radesman Saragih]