
SP/Alex Suban
Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) bersama Ibu Mufidah Jusuf Kalla (kanan) berbincang dengan loper koran, Ali Maskur, yang memenangi undian sepeda pada acara "Loper's Day" di Pantai Karnaval Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Rabu (30/7). Sekitar 50.000 loper koran se-Jabotabek dan Bandung, Jawa Barat, hadir pada acara tersebut.
udul tulisan ini diambil dari sederetan kata pada baju yang dikenakan orang-orang yang berlalu lalang di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Rabu (30/7). Mereka adalah kumpulan loper koran dan majalah.
Para loper dari tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, berkumpul di sana menghadiri acara Loper's Day 2008. Suatu persembahan dari Yayasan Loper Indonesia (YLI) yang bekerja sama dengan para penerbit media cetak.
Bersama keluarganya, para loper itu datang menggunakan kendaraan umum, seperti bus, angkot, dan kendaraan bermotor roda dua dan empat. Kawasan Ancol pun meriah dengan kehadiran sekitar 50.000 loper berbaju putih kuning.
Menurut Ketua YLI Laris Naibaho, Rabu (30/7), ajang tersebut merupakan ungkapan kasih para penerbit kepada lopernya. Loper pantas diberi penghargaan, mengingat mereka tak kenal lelah menyalurkan informasi, sehingga pantas menyandang gelar pahlawan informasi. Peran strategis loper dalam menjajakan koran dan majalah, seperti rantai yang menggerakkan sepeda. Tanpa rantai, sepeda tidak dapat bergerak. Tanpa loper media cetak tidak akan sampai di tangan pembacanya. Tanpa mereka sistem penerbitan pers lumpuh.
Karena itu, YLI mengimbau penerbit jangan lupakan loper. Laris mengakui, penerbit selama ini sudah memperhatikan para loper, tetapi belum maksimal. "Kami tidak menuntut banyak kok. Berikan sesuai porsinya saja," ujar dia.
Acara itu dihadiri juga oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ketua Umum Partai Golkar itu menyebut para loper sebagai pahlawan informasi. "Jika guru selalu kita katakan pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau loper yang membawa informasi setiap hari, wajar kalau dikatakan loper pahlawan informasi," kata Kalla. Yang mengakui peran penting loper bagi masyarakat, termasuk baginya. Dia menceritakan setiap pagi membutuhkan dua orang, yang tanpa layanan keduanya, dirinya merasa sepi dan ketinggalan. Orang pertama adalah istrinya, Ibu Mufidah Kalla yang setiap pagi membuatkan teh. Orang kedua adalah loper yang membawakan koran setiap hari. "Tanpa loper, kita tidak bisa membaca. Tanpa loper, bangsa ini tak bisa membaca," ujar Wapres.
Karena itu, Wapres menyampaikan penghargaan atas kerja keras loper. "Pada saat kita semua masih tidur, belum berbuat apa-apa. Loper semua sudah di jalan, itu pekerjaan yang sangat penting dan mulia," tuturnya.
Dia juga mengakui, peran koran masih sangat penting, meski saat ini sudah banyak bermunculan stasiun televisi swasta. Karena dia menilai apa yang disajikan koran lebih mendalam.
"Jadi tanpa informasi yang dibawa loper, pada waktu dingin, hujan atau sore hari, di tengah kemacetan kota, tetap melayani kita semua. Terima kasih atas pekerjaan itu untuk kita semua. Jayalah para loper semuanya. Loper berkarya, bangsa membaca," tambah Wapres mengakhiri sambutannya. [RRS/M-16]