[YERUSALEM] Menghadapi berbagai dugaan korupsi yang semakin berkembang serta popularitas yang kian terpuruk, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert pada Rabu (30/7) menyatakan akan mengundurkan diri pada bulan September.
Keputusan Olmert tak urung mendorong Israel terperosok ke dalam kekacauan politik sekaligus menyulut keragu-raguan akan prospek upaya perdamaian baik dengan Palestina maupun Suriah.
Olmert mengatakan ia tidak akan mengikuti prapemilihan di partainya, yang dijadwalkan pada 17 September dan akan mengundurkan diri guna memberikan peluang bagi penerusnya untuk membentuk sebuah pemerintahan.
Namun, mengacu pada sistem politik Israel, Olmert masih dapat tetap menjabat hingga tahun depan. Dengan pernyataan tersebut, Olmert mengakhiri karir publiknya yang sudah berlangsung lama, namun dirundung pula dengan berbagai dugaan korupsi.
Sementara dari New York dilaporkan, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak pada hari Rabu (30/7) memuji keputusan Olmert untuk mundur.
Barak juga tidak menepis peluang untuk mencalonkan diri sebagai pengganti Olmert. Barak, yang menjabat sebagai PM Israel dari 1999 hingga 2001, bertemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon sebelum menerima pertanyaan dari para wartawan tentang kunjungan dirinya serta soal pengunduran diri Olmert.
"Jika dalam waktu sekitar enam minggu seorang pemimpin baru akan terpilih untuk partainya, ia akan mundur. Saya pikir ini keputusan bertanggung jawab dan sudah sepantasnya, yang dibuat di saat yang tepat," kata Barak.
Popularitas Olmert merosot drastis hingga di bawah 20 persen, setelah kegagalan Israel dalam perang melawan gerilyawan Hizbullah di Lebanon pada 2006 serta menyeruaknya berbagai dugaan korupsi selama beberapa bulan terakhir yang berbuntut pada penyidikan polisi terhadap dirinya. [AP/AFP/E-9]