SUARA PEMBARUAN DAILY

Muslim ASEAN Jembatan Rekonsiliasi Barat dan Dunia Islam

SP/Elly Burhaini Faizal - Surin Pitsuwan

[JAKARTA] Jalan menuju rekonsiliasi antara Barat dan dunia Muslim terletak di tangan umat Muslim di Asia Tenggara. Indonesia, sebagai salah satu negara di kawasan, masih memegang peran memimpin upaya negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN untuk mendorong terwujudnya rekonsiliasi Barat dan dunia Muslim.

"Umat Muslim di Asia Tenggara sangat terbuka untuk menerima ide-ide baru ketimbang umat Muslim di belahan dunia yang lain," ungkap Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, dalam diskusi The Third International Conference of Islamic Scholars (ICIS III) yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri, Rabu (30/7).

Surin mengakui, rekonsiliasi Barat dan dunia Islam belum sepenuhnya berhasil dicapai. "Tetapi, sedikitnya kita sudah mulai memperlihatkan kepada dunia bahwa Muslim di Asia Tenggara dapat mengakomodasi sekaligus mengatasi globalisasi. Mereka juga sudah membuktikan dapat hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman yang ada di kawasan serta berkontribusi bagi kemajuan umat manusia," ungkap mantan Menteri Luar Negeri Thailand pada masa kepemimpinan PM Thaksin Shinawatra. Konferensi ini dihadiri sejumlah ulama besar dari berbagai negara Muslim, seperti Syeikh Wahbah Zuhaili (Iran), Syeikh Umar Idris Hadrah (Sudan), Ayatollah Ali Tashkiri (Iran), Ahmad Ghafur al-Samani (Irak), Said Sulaiman Hasan Qeeq (Palestina), dan Maulana Fazil Ahmad Ma'nawil (Afghanistan).

Surin berpendapat, umat Muslim seharusnya dapat bersatu di bawah kepercayaan tunggal, yakni meyakini Tuhan yang Maha Esa.

Perpecahan umat Islam yang terjadi di berbagai wilayah, seperti Palestina, Irak, Afghanistan, Sudan, Thailand Selatan, Filipina Selatan, hingga di wilayah Balkan, patut disayangkan.

"Konflik hanya akan melemahkan umat Islam," kata Surin. Ia berpendapat, umat Muslim sudah saatnya bangkit dan menyusun strategi untuk dapat lebih menaruh penghormatan terhadap sesama.

"Mereka harus berupaya menciptakan perdamaian dan menjalin kerja sama tidak hanya dengan sesama umat Muslim, tetapi juga dengan keseluruhan komunitas masyarakat yang beragam," tandasnya.

Bukti

Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan Pancasila sebagai falsafah negara, mampu membuktikan bahwa umat Islam dapat hidup damai di tengah keberagaman.

Malaysia, negara tetangga Indonesia yang beberapa kali digoyang konflik etnis dan agama, terbukti pula mampu mengatasi problem-problem keberagaman yang ada. "Apabila ASEAN berhasil mengatasi konflik yang menimpa negara-negara anggotanya, maka kawasan di dunia yang harus dikhawatirkan akan dapat berkurang satu lagi," ia menandaskan.

"Komunitas ini harus dapat berbuat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Hanya dengan tindakan nyata, maka kita dapat menjadikan Islam benar-benar sebuah rahmat bagi seluruh alam semesta," kata Surin. [E-9]


Last modified: 30/7/08