SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengembangan Panas Bumi Tak Jelas

[JAKARTA] Pemerintah tidak memiliki komitmen yang jelas dalam pengembangan potensi panas bumi atau geothermal. Padahal, dengan perki- raan cadangan hingga 27.000 mega watt ekuivalen (MWe) tenaga listrik, Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi dunia.

"Selama ini, pengembangan panas bumi menemui banyak kendala. Tetapi, sesungguhnya kendala itu muncul karena komitmen pemerintah yang tidak jelas. Kami perlu ketegasan komitmen, apakah pemerintah serius menginginkan pengembangan panas bumi yang tersebar di Indonesia," kata Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Surya Dharma kepada SP di sela-sela diskusi mengenai panas bumi di Jakarta, Selasa (29/7).

Dijelaskan, pemerintah telah berulang kali melontarkan komitmen untuk mengembangkan panas bumi, termasuk mengeluarkan sejumlah kebijakan. "Tetapi, kenyataannya, komitmen itu tidak jelas, tidak didukung dengan kebijakan yang menjawab kebutuhan (investor). Akibatnya, proyek-proyek panas bumi tidak berjalan sesuai harapan. Sampai saat ini pun, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang ada di Indonesia baru berkapasitas total sekitar 1.000 MW. Sedangkan, potensi panas bumi kita sangat besar. Kalau itu digarap dengan serius, tentu akan lebih besar kapasitas PLTP yang kita miliki," katanya.

Menurut Surya Dharma, target pemerintah membangun PLTP berkapasitas total 6.000 MW dalam lima tahun, akan sulit tercapai. "Selama ini implementasi kebijakan-kebijakan yang telah disepakati bersama semua pihak, masih tidak sesuai harapan. API sangat mendukung crash program tahap kedua, yang juga memberi prioritas pada pengembangan PLTP. Agar program ini sukses, yang paling penting adalah komitmen pemerintah harus jelas," tandasnya.

Menarik Investor

Anggota Dewan Penasihat API, Herman Darnel Ibrahim mengatakan, saat ini telah banyak kebijakan mengenai panas bumi yang dikeluarkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk penetapan harga patokan listrik yang dihasilkan PLTP. "Diharapkan, ini akan semakin membuka peluang dan menarik minat investor untuk mengembangkan panas bumi di Indonesia," katanya.

Harus diakui, lambannya pengembangan panas bumi juga antara lain karena investasi yang dibutuhkan cukup besar. Untuk menghasilkan satu megawatt tenaga listrik dari panas bumi, misalnya, diperlukan investasi sekitar US$ 3 juta. [H-13]


Last modified: 31/7/08