SUARA PEMBARUAN DAILY

"Anwarku Sayang, Anwarku Malang"

Anwar pun bepergian ke beberapa kota, menjelaskan kepada rakyat bahwa tuduhan sodomi itu mengada-ada.

Rosihan Anwar

Pada Hari Pers Nasional (HPN) 2005 di Pekanbaru di depan para wartawan saya bacakan sebuah sajak yang saya karang saat itu, judulnya Persku sayang, Persku malang. Dengan mengubah kembali kata-katanya, kini saat menulis tentang tokoh Malaysia, Anwar Ibrahim, saya memakai judul Anwarku sayang, Anwarku malang.

Saya bertemu untuk pertama kali dengan Anwar Ibrahim di Colombo, Januari 1980, ketika saya sebagai konsultan UNESCO menatar para wartawan Sri Lanka. Waktu itu, di Colombo diadakan Konferensi Islam Internasional oleh organisasi Arab Saudi, yakni Rabithah Islamy. Departemen Agama RI menunjuk saya sebagai delegasi Indonesia. Di situ saya berkenalan dengan Anwar Ibrahim, pemimpin mahasiswa, Ketua Angkatan Belia Malaysia, ABIM, umur 33 tahun, tipe intelektual, dan pernah ditahan di penjara oleh pemerintah Malaysia karena aksinya.

Waktu makan siang saya duduk dekat Anwar. Dia ceritakan situasi politik Malaysia, sikap pemerintah dan partai UMNO, dan posisinya sebagai oposisi. Saya senang terhadap sifat keterbukaannya. Rupanya dia tengah memikirkan geraknya di masa mendatang. Tanpa dimintanya dan di pihak saya tanpa mau menggurui, saya ucapkan "nasihat politik" dalam bahasa Inggris: if you cannot beat them, join them ("jika Anda tak bisa kalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka").

Kemudian dari jarak jauh saya ikuti perjalanan hidupnya. Setelah bergabung dengan UMNO, Anwar mulai menjabat sebagai menteri dalam Kantor Perdana Menteri, lalu sebagai Menteri Pemuda, Menteri Pendidikan, Menteri Keuangan dan akhirnya sebagai Timbalan (Wakil) Perdana Menteri. Jabatan PM sudah amat dekat, tiba-tiba "kiamat" menerpa dirinya.

Dia dituduh melakukan korupsi dan sodomi. Dipecat sebagai Deputi PM, dipermak dan dipukuli dalam tahanan oleh Abdul Rahim Noor, Kepala Kepolisian Malaysia, disidangkan oleh pengadilan, dan divonis 15 tahun penjara.

Di Malaysia, untuk perbuatan sodomi bisa dihukum penjara 20 tahun. Dari berita koran Utusan Malaysia (24/9/1998) dan Minggu Malaysia (20/9/1998) saya dapat mengetahui padanan kata sodomi dalam bahasa Malaysia, yakni semburit, liwath (bahasa Arab), dan main ponggong. Anwar didakwa "meliwat". Dakwaan sodomi terhadap Anwar kemudian dibatalkan oleh Mahkamah, thrown out of court, karena tidak terbukti dan tidak kuat dasarnya.

Setelah menjalani hukuman penjara enam tahun, Anwar dibebaskan 6 September 2004. Tapi, dia sudah menjadi The fall guy. Karier politiknya hancur dan mendapat aib di depan umum. Karena mengalami nyeri di tulang punggung dia berobat ke Jerman. Setelah dioperasi dia katakan kepada televisi CNN bahwa Mahathir adalah orang kejam (cruel) dan pendendam.

Kunjungi Indonesia

Atas prakarsa Majalah Horison, Anwar beserta istrinya Wan Azizah, Ketua Partai Keadilan, mengunjungi Indonesia (6-10 Desember 2004). Waktu itu, dalam jamuan makan nasi Padang saya bertemu untuk kedua kalinya dengan Anwar. Meskipun sudah berlalu 24 tahun sejak di Colombo, dia langsung mengenali saya, berjabatan tangan dengan hangat, menyapa seperti sahabat lama dan akrab. Sifat Anwar yang begitulah mem-buat dia amat disayangi teman-temannya di sini, seperti: Taufiq Ismail dan Adi Sasono. Anwar berpidato di Gedung Kesenian pada malam 7 Desember dan disambut meriah oleh kawula muda.

Dia kembali aktif di dunia politik, memimpin oposisi terhadap pemerintah PM Abdullah Badawi. Dalam pemilihan parlemen Maret 2008, oposisi berjaya, mengalahkan UMNO di lima negara bagian, seperti: Johor dan Selangor. Ada anggota Barisan Nasional mau menyeberang ke pihak oposisi. Anwar mengatur siasat. Lewat pemilihan sela hendak masuk menjadi anggota parlemen. Selisih antara pemerintah dan oposisi tinggal sekitar 30 kursi parlemen. Bila cross-over dapat terwujud, momentum tiba, dan Anwar beroleh pe- luang mengambil alih pimpinan pemerintahan.

Tiba-tiba "kiamat" kedua menerpanya. Dia kembali dituduh melakukan sodomi. Dia khawatir jiwanya terancam. Dia cari perlindungan di kediaman Dubes Turki. Setelah pulang ke rumah dia dicegat oleh pasukan polisi, ditahan dan akan diambil sampel darahnya untuk tes DNA. Satu malam mencekam, esoknya dia dilepaskan dengan jaminan. Anwar pun bepergian ke beberapa kota, menjelaskan kepada rakyat bahwa tuduhan sodomi itu mengada-ada. Semua itu adalah konspirasi pemerintah untuk menyingkirkannya dari arena politik.

Berpegang kepada asas pemberitaan cover both sides saya dengarkan keterangan dari relasi saya, yakni tokoh-tokoh politik yang dekat dengan Dr Mahathir, petinggi partai UMNO, dan pernah menjadi menteri anggota kabinet, maka diceritakanlah tentang masa Anwar muda, jadi pelajar di sekolah menengah terkemuka di zaman kolonial Inggris, dengan asrama sendiri beserta adat kebiasaan Eaton Boys Collage di Inggris. Ketika itulah Anwar dimangsa oleh pelajar senior kelas atasan, korban sodomi dengan akibatnya dia sendiri kemudian disebut melakukan perbuatan itu. Begitulah ceritanya. Dan berhadapan dengan putusan Mahkamah yang menolak tuduhan sodomi terhadap Anwar di pengadilan, saya pun tidak bisa diyakinkan oleh kisah dan kejadian di asrama pelajar laki-laki di Malaya puluhan tahun yang lalu itu.

Dalam pada itu saya prihatin. Berita-berita yang datang dari Malaysia tidak menggembirakan. Narasumber saya yang dekat dengan Mahathir bilang, PM Abdullah Badawi orang yang lemah dan putra Mahathir, Mukhriz, punya ambisi untuk jadi PM, saya pikir itu urusan yang mesti ditanggulangi mereka sendiri. Tapi, mengingat beberapa orang di sana yang berkuasa bisa menjadi violent men, gampang melakukan tindakan kekerasan, seperti membunuh perempuan Mongolia yang terlibat dalam affair asmara politikus terkemuka dengan meledakkan tubuhnya dengan bom di sebuah hutan dekat Kuala Lumpur, maka sebagaimana Wan Azizah pernah katakan kepada pers, takut suaminya dibunuh, saya pun khawatir sekali. Saya berdoa semoga Tuhan melindungi diri Anwar Ibrahim terhadap tindakan kekerasan oleh orang-orang yang haus kekuasaan.

Penulis adalah wartawan senior


Last modified: 31/7/08