SUARA PEMBARUAN DAILY

Catatan Hari Lahir PKB (23 Juli 1998 -23 Juli 2008)

Konflik Berkepanjangan Menuju 2009

Oleh Gugun El-Guyanie

Sudah genap satu dasawarsa usia Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), namun konflik yang panjang tak kunjung usai. Bahkan menjelang pesta demokrasi, Pemilu 2009, PKB belum menunjukkan soliditas di level internal. Mungkinkah di tengah guncangan badai konflik yang panjang dan melelahkan ini PKB masih menjadi magnet pada 2009?

Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 12 Juni 2008 menyatakan, pemberhentian sementara Muhaimin Iskandar dari jabatan Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Oleh karena itu, Muhaimin perlu dipulihkan harkat, martabat, dan kedudukannya sesuai dengan keputusan Menteri Hukum dan HAM tertanggal 8 Juni 2005. Muhaimin menggugat Dewan Tanfidz PKB dan Dewan Syuro PKB secara kolektif, serta Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid dan Sekjen DPP PKB Zannuba Arifa Chafsoh (Yenni Wahid).

Kemenangan kubu Muhaimin tentu bukan akhir dari sekian panjang konflik yang melanda PKB. Masih membutuhkan deret waktu yang begitu panjang untuk menciptakan PKB yang stabil. Tentu PKB versi MLB Parung, dengan Ketua Ali Masykur Musa dan Sekjen Yenni Wahid tidak pasrah menyerah begitu saja.

Bagi Yenni, putusan itu tidak mewajibkan mengembalikan posisi Muhaimin sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. PKB versi MLB Parung akan mengajukan kasasi atas ketidakpuasan terhadap putusan yang memenangkan PKB versi MLB Ancol atau kubu Muhaimin. Di meja yuridis, kedua kubu akan bertanding hingga satu di antara yang lainnya tersisihkan. Dari kasus demi kasus akan ditemukan satu ilmu mengenai masa depan PKB, kaitannya dengan Gus Dur dan NU.

Faktor Dominan

Belajar dari konflik demi konflik ada satu faktor yang paling dominan dalam tubuh PKB. Faktor itu adalah Gus Dur. Kemudian lahir satu premis pertanyaan yang serbahipotetik, Gus Dur-kah yang membuat PKB selalu bergejolak? Atau sebaliknya, Gus Dur-kah yang membuat PKB tetap eksis di tengah pergolakan panjang tiada tepi? Premis-premis tersebut bisa berkembang menjadi satu kesimpulan bahwa PKB sebagai partai yang mengandalkan public figure masih memiliki interdependensi yang vital terhadap Gus Dur. Hitam-putihnya PKB, ke utara atau ke selatan, Gus Dur faktornya.

Sejak dipecatnya Matori Abdul Jalil, berlanjut sampai kubu Khoirul Anam, dan berlanjut hingga MLB Semarang, yang memutuskan kubu Gus Dur sebagai pemenangnya. Puncaknya kubu Khoirul Anam mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang berisi barisan kiai yang sakit hati terhadap Gus Dur.

Baik PKB maupun PKNU sama-sama mengklaim sebagai partainya para ulama, partainya para kiai yang hidup di bawah bendera NU, sehingga sama-sama melakukan kampanye untuk menarik massa dari umat NU yang jumlahnya kurang lebih 40 juta.

Selama ini memang terbukti bahwa PKB adalah satu-satunya partai yang par-excellence di antara partai lain yang mengklaim sebagai partainya NU. Gus Dur pernah mengatakan, jika NU diibaratkan sebagai induk ayam, maka PKB adalah "telur emas"-nya.

Jika telur emasnya ternyata retak-retak dan nyaris hancur, mungkinkah induk ayam akan mengeluarkan telur emas yang lain? Bahkan retaknya telur emas ternyata juga berdampak pada kondisi induk ayam yang tidak sehat, tidak ada harmoni di antara elemen tubuh induk ayam. Semakin banyak telur yang dikeluarkan, ternyata semakin membuat induk ayam tidak sehat.

Secara prinsip, PKB menjadi wadah representatif bagi politik warga nahdliyin, berasaskan Pancasila yang inklusif dan terbuka. Dalam arti, PKB juga menerima anggota non-nahdliyin, bahkan non-Muslim yang memiliki visi, misi, dan satu ide dengan PKB.

Namun, warga nahdliyin yang berada di bawah rumah besar NU adalah konstituen utama selaku induknya yang asli. NU dan PKB tidak memiliki hubungan struktural, namun memiliki keintiman secara kultural. Keputusan NU bukan keputusan PKB, demikian juga sebaliknya. Namun, fatwa ulama dan kiai NU yang menjadi orang PKB memiliki kekuatan moral yang kuat.

Mungkin ada benarnya analisis Azyumardi Azra (2001), Gus Dur yang pada saat mendirikan PKB masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, sama dengan posisinya Soeharto ketika menjadi presiden sekaligus Dewan Pembina Golkar. Power yang dimiliki selaku pimpinan ormas yang berjumlah puluhan juta, menjadi efektif untuk melakukan propaganda politik ala NU.

Tetapi, jika melihat saat ini, keretakan Gus Dur dengan kiai-kiai NU, juga membuat kekuatan politik NU berkeping-keping. Apakah hal ini menunjukkan bahwa kharisma Gus Dur di tubuh NU sudah mulai luntur? Atau siapakah yang konsisten memperjuangkan demokrasi, Gus Dur ataukah orang-orang yang melawan Gus Dur?

Di hadapan Gus Dur, siapakah yang lebih penting? PKB, NU, ataukah demokrasi sebagai nilai atas segala-galanya? Dan sebaliknya di mata NU, siapakah yang lebih penting dan siapakah yang harus dikorbankan, Gus Dur ataukah PKB? Jika di mata Gus Dur demokrasi adalah di atas segala-galanya, maka tidak ada kekhawatiran bagi Gus Dur jika PKB terpecah-belah bahkan bubar sekalipun. Karena yang diperjuangkan Gus Dur bukanlah PKB, namun PKB hanya dijadikan sebagai alat politik untuk menegakkan demokrasi.

Kemelut di tubuh PKB hanyalah bentuk pertarungan mempertahankan demokrasi. Jika ada hipotesis bahwa Gus Dur adalah penjaga gawang di tubuh PKB, berarti orang-orang yang dipecat Gus Dur adalah orang-orang yang tidak sejalan dengan demokrasi. Tentu hipotesis ini membutuhkan riset yang mendalam untuk membuktikan bahwa yang terpenting dalam hidup Gus Dur adalah demokrasi; vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bekas Murid Setia

Para korban awak PKB yang dipecat Gus Dur adalah bekas murid-murid setianya. Tetapi, mengapa selalu terjadi klimaks, mereka semua pada puncaknya disingkirkan dari PKB. Keputusan model ini membuat Gus Dur dibenci banyak pihak terutama orang dalam PKB yang menganggap Gus Dur sewenang-wenang mempermainkan PKB. Apakah itu kiai khos, kiai langitan, aktivis, politisi NU, atau yang lainnya semuanya secara perlahan memusuhi Gus Dur.

Ulama-ulama terkemuka NU yang ikut membidani lahirnya PKB menganggap Gus Dur yang membuat PKB berantakan, dan politik NU pecah-belah. Wajar jika lahir PKNU yang mengklaim sebagai partainya para ulama, sementara PKB telah dianggap sebagai partai yang berkhianat dan keluar dari cita-cita para ulama.

Jajaran kiai pesantren pun tiba-tiba menganggap Gus Dur telah mengkhianati mereka, para aktivis muda menuduh PKB sebagai Partai Keluarga Berencana.

Ada scenario building yang sedang dimainkan Gus Dur di tengah kegamangan politik NU yang semakin lama mengalami split oriented. Di tengah syahwat politik yang memuncak di kalangan kiai dan warga NU untuk ikut terjun langsung di medan kekuasaan praktis, Gus Dur justru mengobrak-abrik kendaraan-kendaraan politik yang tersedia. PKB sebagai salah satu kendaraan politik warga nahdliyin yang par-exellence, dengan sengaja dihancurkan Gus Dur secara pelan-pelan.

Tujuan Gus Dur hanya satu, mengembalikan para kiai dan warga nahdliyin untuk kembali ke barak mereka. Kaum nahdliyin ternyata belum siap tampil untuk bertempur di medan politik yang penuh trik dan intrik. Gus Dur ingin melakukan pendidikan politik kepada anak-anak muda NU agar tidak mudah tergoda dengan kekuasaan yang lari dari demokrasi.

Benarkah hipotesis tersebut, dan bagaimana nasib politik NU ke depan jika tiba-tiba partai warga Nahdliyin satu demi satu berjatuhan?

Penulis adalah Sekjen Lembaga Kajian Keagamaan dan Kebangsaan (LK3) PW GP Ansor Yogyakarta.


Last modified: 23/7/08