SUARA PEMBARUAN DAILY

Ahmad Rizali

Bekerja demi Pendidikan

ABIMANYU - Ahmad Rizali

Namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah.

Ahmad Rizali (48) punya kompetensi untuk bersuara. Dalam kolom-kolom yang ia tulis di berbagai media massa, ia mencantumkan identitas Ketua Dewan Pembina The Centre for the Betterment of Education (CBE) Jakarta. Itu adalah lembaga swadaya masyarakat lokal, yang ia dirikan pada Juni 2000, yang mengkhususkan kegiatan di bidang pendidikan di Indonesia. CBE memiliki jejaring yang luas dengan berbagai organisasi pendidikan di Indonesia.

Nanang, demikian teman-teman akrabnya memanggil, memang mencoba ikut mengurai masalah-masalah yang membelit pendidikan nasional selama ini. Bukan hanya terjun langsung menangani hal-hal praktis, ataupun menjadi fasilitator, narasumber, moderator dalam berbagai seminar atau lokakarya, ia juga memberikan tawaran solusi melalui artikel-artikelnya di berbagai media massa.

Pada tahun 2000, misalnya, ia mengajak guru-guru SMA mengikuti pembelajaran matematika di Institut Teknologi Bandung. Kepeduliannya terhadap keberadaan guru itu mengantar langkahnya menjadi konsultan bidang manajemen sumber daya manusia dalam Program Peningkatan Mutu Guru pada Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas.

Aktivitas mengajak guru-guru ke Bandung itu kemudian menjadi tonggak sejarah terbentuknya Klub Guru. "Saya lalu didapuk jadi ketua. Ada 400 anggotanya. Tujuannya bagaimana guru itu berserikat. Punya duit, dan klub itu yang mengelolanya," kata Nanang, dalam perbincangan penggal awal Juli ini.

Ia memimpikan Klub Guru itu mejadi organisasi profesi. "Benar-benar organisasi profesi, bukan organisasi politis," ia menambahkan. Karena sering mengurusi guru itu pula, ia menjadi Ketua Tim Independen Monitoring dan Evaluasi Sertifikasi Guru.

Berbicara soal pendidikan di Indonesia dengan Nanang memang seolah tiada akhir. Banyak orang pintar bergelar doktor, bergelar profesor di negeri ini, tetapi tidak bisa menuangkan buah pikiran dengan jernih mengenai masalah pendidikan. "Kuncinya ada pada guru. Dan, bicara guru, adalah bicara pendidikan guru," ujar Nanang.

Pendidikan guru di Indonesia, meminjam istilah Nanang, rotten, mulai dari filosofi sampai implementasinya. Ia mengibaratkan ingin menjalankan mobil, tetapi yang tersedia bajaj. Begitu mendapat mobil, arahnya tidak jelas.

Soal arah yang tidak jelas itu ia punya contohnya. Kisah muncul ketika salah seorang filantropis di negeri ini datang ke Depdiknas, menawarkan bantuan. Karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas, filantropis itu pulang dengan perasaan kecewa. "Depdiknas tidak punya pemetaan, tidak ada blue print di bidang pendidikan, yang setiap stakeholder bisa bergabung mengembangkannya saat ini," katanya.

Kegemasan itu sering membuatnya bersuara keras. Tidak asal bersuara keras, karena ia punya dukungan data.

Sangat Berwarna

Dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 28 Januari 1960, dengan nama lengkap Ahmad Rizali Gaffar, ia terdaftar sebagai mahasiswa Departemen Metalurgi Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada 1979. Pada 1981 Nanang pindah ke Departemen Gas dan Petrokimia di fakultas yang sama, dan lulus pada 1985.

"Lulus dari UI saya bekerja di sebuah kontraktor di Pulau Galang, selama setahun," ujarnya. Ia menjadi site manager untuk proyek pengungsi Vietnam PBB (UNHCR's Vietnamese Refugee Camp), yang bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan bangunan, air bersih, dan produksi serta suplai listriknya.

Dari sana, ia kemudian bergabung dengan Catholic Relief Service. Ia menjadi penasihat teknis untuk mitra lokal Bertahan dua tahun, ia keluar.

Ia "kembali" ke kampus pada 1992, bergabung dengan lembaga di bawah UI yang bekerja sama dengan Pertamina. Nanang menjadi Asisten Direktur Program untuk Riset tentang Konversi Gas Alam menjadi Produk Petrokimia. Program itu dibiayai Pertamina. "Riset itu dahsyat. Karena sampai sekarang sisanya masih ada, dan menjadi andalan laboratorium di sana untuk konversi gas alam," katanya.

Ia sendiri mengaku mendapat berkah dari program itu, karena bisa bersekolah di Glasgow, Britania Raya. Ia mengambil program MSc dalam bidang human resources management, di Strathclyde Business School.

Keterlibatannya di bidang pendidikan dimulai ketika teman-temannya mengajaknya membangun SMP unggulan berasrama di Sukabumi, Jawa Barat, Internat Alkausar. "Enam tahun kami membangun. Saya menyusun sistemnya. Sekarang masih berjalan baik," ujar Nanang, yang menjabat Direktur Eksekutif, 1996 - April 2003. Walau sebagian besar muridnya bukan berasal dari wilayah itu, sekolah etrsebut memberi kesempatan kepada anak-anak sekitar yang pintar untuk memperoleh beasiswa.

Di sela-sela mengurusi sekolah itu, Nanang masih sempat bergabung dengan sebuah perusahaan Jerman yang beroperasi di Pasuruan. Perusahaan itu memproduksi alat penukar kalor.

Masalah pendidikan telanjur menjadi obsesi Nanang. Kesukaannya menyusun ide menjadi sebuah konsep, mengantarnya mendirikan CBE. Ia menyodorkan konsep dan ide itu ke Masyarakat Transparansi Indonesia, yang saat itu diketuai Mar'ie Muhammad dengan sekretaris eksekutif Erry Riyana Hardjapamekas.

Kepedulian Nanang dalam bidang pendidikan makin tersalurkan ketika The Sampoerna Foundation memanggilnya sebagai konsultan pendidikan dan staf ahli (education specialist). Tugas utamanya merancang program-program. Ia tidak hanya mendesain, tetapi juga memberitahu cara menjalankannya. Walau sering berkantor di lembaga itu, Nanang tidak bersedia menjadi karyawan tetap.

Nanang mengaku memilih, didorong, dan tertakdir untuk merdeka mengatur waktu sendiri. Ia merancang, mulai dari program pengembangan sekolah, program peningkatan mutu sekolah, dan memantau serta mengevaluasi proses perjalanannya. Di antaranya, ia sedang mencurahkan perhatian memantau program Madrasah Quality Improvement di Pondok Pesantren Guluk-guluk, Madura, serta program Program Peningkatan Mutu Guru. Selain itu ia juga masih disibukkan menjadi konsultan untuk program kemitraan Sekolah Bertaraf Internasional yang dikembangkan lembaga dana yang sama.

Sepeda untuk Sekolah

Nanang, ayah tiga anak, sangat bersyukur memiliki banyak teman. Pertemanan itu terpupuk sejak ia masuk Mapala UI. Nanang terlibat dalam Ekspedisi Carstensz 1984 bersama almarhum Norman Edwin, Adiseno, Jajo Dondy Raharjo, dan Yadi Sugandhi. Bukan hanya mendaki gunung, ia juga pernah terlibat dalam penjelajahan gua Sanghyang Tikoro. "Terakhir kali naik gunung tahun 1987, Gunung Arjuno," katanya, mengenang.

Pertemanan yang meluas itu pula yang mendorongnya mencanangkan program "Sepeda untuk Sekolah". "Darmaningtyas (pengamat pendidikan dan transportasi, Red) yang mengusik saya. Itu terjadi ketika kenaikan BBM pertama kali, banyak anak di sekolah di Panggang, Gunung Kidul, Yogyakarta, tidak bisa berangkat ke sekolah karena ongkos kendaraan naik. Mereka adalah anak-anak buruh tani. Siapa tahu saya mencarikan sepeda untuk mereka," kata Nanang.

Ia lantas mengetuk hati teman-teman, kenalan, relasi, hingga donatur, untuk ikut dalam program itu. Terkumpul 20 sepeda, yang sudah ia kirim ke Panggang. Ia sempat melibatkan Mapala UI untuk melaksanakan program itu, membagikan sepeda ke sekolah-sekolah di berbagai pinggiran kota besar di Jawa.

Ia mengambil alih proyek itu pada Mei 2008, dalam wadah Konsorsium Program Sepeda untuk Sekolah. Ia memasukkan proposal ke Pertamina, dan mendapat sumbangan 1.300 sepeda. "Pertamina komit menyediakan hingga 5.000 sepeda. Itu belum dari sumbangan berupa uang dari kalangan lain, yang juga saya belikan sepeda. Sepeda-sepeda itu diberikan ke sekolah, dan sekolah meminjamkan kepada murid," katanya.

Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan menjadi prinsip hidupnya. "Dengan pekerjaan seperti ini saya bisa punya rumah, punya anak-anak sehat yang bisa sekolah dengan baik, tidak punya utang. Itu kepuasannya. Itu enaknya, jadi private consultant. Bisa mengatur sendiri waktunya. Kelaparan nggak, tapi kaya juga nggak," kata Nanang menutup percakapan. [SP/Sotyati]


Last modified: 17/7/08