
[RUSUTSU] Perjuangan keras ditempuh para pemimpin delapan negara maju yang tergabung dalam G-8, guna menyepakati upaya mengatasi perubahan iklim. Hal itu terjadi di tengah upaya mereka mencapai kemajuan dalam rangkaian perundingan yang dimotori Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), menuju terwujudnya kesepakatan pemanasan global yang baru pada akhir 2009.
Perselisihan pendapat tentang perubahan iklim semakin meluas, pada Senin (7/7), ketika pemimpin Komisi Eropa mendesak para pemimpin negara-negara maju di dunia agar bertindak terlebih dahulu menetapkan target-target untuk mereduksi gas rumah kaca. Tekanan tersebut tak urung sedikit demi sedikit kian meletakkan Presiden AS George W Bush pada posisi terkucil dan terisolasi.
Perubahan iklim menjadi isu yang paling panas diperdebatkan dalam KTT G-8 di Jepang, yang dimulai Senin.
Bush mengatakan, negara-negara berkembang harus menempuh langkah-langkah serupa, yakni mengurangi emisi karbon secara signifikan. Bush enggan memperlihatkan sikap antusias untuk menetapkan target-target pengurangan emisi karbon, sepanjang negara-negara berkembang tidak diwajibkan melakukan upaya serupa.
Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso mengatakan, negara-negara G-8 harus bisa mencapai kesepakatan di antara mereka sendiri tentang langkah-langkah apa yang ingin ditempuh untuk mengatasi perubahan iklim. "Mereka seharusnya tidak menempuh pendekatan bahwa 'Saya tidak akan melakukan apa pun jika Anda tidak memulainya terlebih dahulu'. Sikap semacam ini tak ubahnya lingkaran setan," tegas Barroso.
Tiongkok hingga kini menyatakan siap untuk membicarakan penetapan target jangka menengah dan jangka panjang untuk pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, negara itu belum mengubah pandangannya bahwa pihak yang paling bertanggung jawab untuk pengurangan emisi karbon guna mencegah pemanasan global dan perubahan iklim adalah negara-negara maju.
Tidak seperti para pemimpin G-8 yang lain, Bush hingga kini bersikeras agar Tiongkok dan India juga dikenai standar reduksi emisi serupa sama halnya dengan negara-negara lainnya yang lebih dulu maju.
"Saya senantiasa mendukung bahwa ada keperluan untuk mencapai kesepakatan bersama. Tetapi, saya juga cukup realistis untuk menyampaikan kepada Anda semua, bahwa apabila Tiongkok dan India tidak berbagi aspirasi yang sama, kami tidak akan bersedia menyelesaikan problem tersebut," kata Bush.
[AP/E-9]