
eminisme, di dalam masyarakat Islam, sering kali dipandang tidak sesuai dengan ajaran agama. Ide perjuangan hak-hak kaum perempuan tersebut dinilai semata-mata mengadopsi nilai-nilai sekuler. Tetapi, tidak demikian halnya menurut Margot Badran, sejarawan yang kini menjadi Guru Besar Center for Muslim-Christian Understanding, George Washington University, AS. "Feminisme tidak melampaui nilai-nilai Islam," Margot Badran menjelaskan, menjawab SP di sela-sela diskusi "Feminism in Islam: Secular and Religious Convergences", yang diselenggarakan International Center for Islam and Pluralism (ICIP) bekerja sama dengan Yayasan Paramadina, pertengahan Juni.
Perhatian besar telah dicurahkan sejumlah feminis Islam, seperti Amina Wadud dan Asma Barlas, untuk memperlihatkan betapa budaya patriarki sangat tidak bersifat Islami. Misalnya, dalam ide tauhid. Islam sudah mengajarkan, umat manusia tidak semestinya mempersekutukan dirinya dengan Tuhan. Kenyataannya, kaum laki-laki terkadang menempatkan dirinya sedemikian rupa sehingga nyaris menyerupai "tuhan" atau "dewa" bagi kaum perempuan.
Mereka dipaksa tunduk, patuh, taat atas apa pun yang diperintahkan dan dimaui kaum laki-laki. Bahkan, agama yang sejatinya menyerukan kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan, juga ditafsirkan sedemikian rupa untuk melanggengkan budaya patriarki.
Islam secara tegas mengajarkan, umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan adalah kalifah di muka bumi. "Dan, jika merujuk pada Al-Quran, banyak ayat yang secara spesifik menyebutkan kaum laki-laki dan perempuan berkedudukan setara di hadapan Allah. Hanya takwa yang membedakan mereka," Margot, yang dikenal luas sebagai penulis buku-buku tentang Islam dan gender, memaparkan.
Ayat-ayat yang menyerukan kesetaraan laki-laki dan perempuan harus diakui mudah ditemukan di dalam Al-Quran. Sayang, banyak ayat tidak dipahami secara utuh.
Di dalam masyarakat Islam, dominasi laki-laki atas perempuan sering kali dilakukan dengan alasan mengacu Surah An-Nisa ayat 34, "arrijalu qowwamun'alannisaa", yang berarti "Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan". Padahal, ayat tersebut sebenarnya justru menuntun kaum laki-laki agar bersikap bertanggung jawab.
Ayat tersebut, menurut Margot, bukan semata-mata menegaskan lelaki punya posisi sederajat lebih tinggi daripada kaum perempuan sehingga berhak berbuat apa saja. Poligami, sebagaimana diatur dalam Surah An-Nisa ayat 3, juga dibarengi syarat-syarat yang ketat.
"Kesetaraan laki-laki dan perempuan sebenarnya nilai-nilai yang diajarkan Islam," ungkap Margot, Senior Fellow pada Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding School of Foreign Service, Georgetown University, di Washington DC. Di sisi lain, harus diakui pula feminisme sebagaimana termaktub dalam Islam tidak bersifat paradoksal dengan feminisme sekuler.
Feminisme Sekuler
Awalnya, feminisme di dalam masyarakat Muslim sering kali dirujukkan pada feminisme sekuler oleh aktivis yang mendorong gerakan tersebut. Terminologi "feminisme sekuler" dipandang paralel dengan bangsa yang sekuler. Hal itu juga terjadi pada masa-masa awal perkembangan gerakan feminisme di Mesir.
Setelah berabad-abad berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman, Turki, akhirnya Mesir meraih kemerdekaan meskipun sebelumnya harus berada di bawah kekuasaan kolonial Eropa. Di bawah sistem Ottoman, agama dan hal-hal terkait kesukuan ditertibkan sedemikian rupa. Tetapi, ide negara bangsa perlahan mulai bangkit ketika Mesir di bawah kekuasaan kolonial Eropa.
Dari situlah, perjuangan meraih kemerdekaan mulai diwujudkan. Persoalannya, prinsip-prinsip yang berkembang di Mesir pasca-Ottoman merupakan prinsip negara sekuler. "Sekuler berarti ada ruang bagi semua agama. Baik Muslim maupun Kristen, sama-sama mendapatkan perlindungan. Di Mesir, mulai konstitusi hingga kabinetnya bercorak sekuler, tetapi tetap menghormati agama," dia menjelaskan.
Feminisme sekuler di negara itu ditopang tiga pilar, yakni nasionalis sekuler, Islam reformis atau modernis, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Secara saling-silang, tiga argumen itu dipakai oleh gerakan feminis di Mesir.
Bersama-sama kaum pria, perempuan Mesir ikut berjuang mewujudkan kemerdekaan mereka. Jadi, sejumlah argumen disuarakan kaum perempuan Mesir agar mendapatkan pendidikan lebih tinggi, termasuk hak-hak politik. Tetapi, kenyataan pahit mulai mengancam, ketika kaum pria mengatakan, "Terima kasih atas keikutsertaan kalian (perempuan) di dalam perjuangan kemerdekaan, dan silakan pulang kembali ke rumah masing-masing!"
Sikap semacam ini tentu saja tidak diinginkan kaum perempuan Mesir. Mereka meresponsnya dengan mengatakan, "Terima kasih banyak. Tetapi, kami tidak akan kembali ke rumah. Kami akan tetap bertahan!"
Alhasil, gerakan kemerdekaan terus diperjuangkan kaum perempuan Mesir dengan cara masing-masing, termasuk melalui Serikat Feminis Mesir. Tetapi, sesuatu hal yang menarik, untuk alasan-alasan politik, perempuan dinilai harus berpendidikan. Bagi Margot, hal itu tidak mengherankan, sebab Islam, tanpa membedakan laki-laki ataupun perempuan, menyerukan umatnya untuk menuntut ilmu. "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China," kata Margot, mengutip sebuah hadis. Di Islam juga tidak ada larangan bagi perempuan berpartisipasi di dalam masyarakat.
Terdegradasi
Sayang, pada akhir abad ke-20, sekularisme yang awalnya punya konotasi positif, perlahan-lahan mulai terdegradasi dengan pemunculan gerakan-gerakan Islam politik. Di tengah pergeseran 1970-an menuju 1980-an, sekularisme di Mesir menjadi sebuah nama yang buruk seiring wafatnya Gamal Abdul Nasser, disusul meletupnya kudeta gerakan Islamis di Mesir.
Nasser seorang Muslim, tetapi oleh banyak kalangan tindakan-tindakannya dinilai mencerminkan perilaku orang sekuler. "Seseorang yang dijuluki sekularis dianggap tidak menaruh perhatian sama sekali pada urusan-urusan agama," tutur Margot, yang kini menjadi Fellow pada Woodrow Wilson International Center for Scholars, Washington DC, periode 2008-2009.
Feminis Islam secara umum mulai bangkit pada era 1990-an. Mereka melakukan kajian-kajian lebih progresif atas ajaran Islam. Di Iran, feminis Islam mulai bangkit pada periode pasca-Ayatollah Khomeini, ketika orang-orang mulai rajin menulis di jurnal.
Cendekiawan-cendekiawan Muslim baik laki-laki maupun perempuan bermunculan dari Khom, kota yang dianggap sebagai pusat keilmuan di Iran. "Mereka menyebut diri sebagai kalangan baru intelektual religius," kata Margot, yang pernah menjadi Visiting Professor di Program of African Studies, Northwestern University, tahun 2004-2005.
Pembacaan Al-Quran secara progresif mulai dilakukan kalangan baru intelektual Islam dari Khom tersebut. "Mereka tidak hanya menekankan kesetaraan gender, tetapi juga menyuarakan keadilan sosial. Setiap insan punya kesamaan derajat. Tidak ada keadilan tanpa kesetaraan. Tetapi, tanpa keadilan, kesetaraan juga tidak bisa diwujudkan," tutur Margot, editor buku Feminism in Islam: Secular and Religious Convergences, yang akan diterbitkan Oxford Oneworld Press pada tahun ini, serta Gender and Islam in Africa yang akan diterbitkan pada 2009.
Margot menyayangkan, hingga kini masih banyak orang berpikir feminisme adalah ciptaan Barat. "Keliru sama sekali. Feminisme sebetulnya tumbuh di berbagai wilayah secara spontan. Feminisme muncul di Timur maupun Barat secara bersamaan," Margot menegaskan. Amina Wadud dan Asma Barlas, misalnya, tidak mau disebut sebagai seorang "feminis" kendati mereka getol memperjuangkan hak-hak perempuan.
Hanya karena berkembang pesat pada zaman kolonial Eropa, feminisme langsung dituding sebagai produk Barat. Padahal, di Mesir juga ada feminisme ala Mesir. Tidak berlebihan jika tudingan semacam itu sedikit dipicu masalah politik. Pada zaman kolonial, segala sesuatu yang anti-Barat secara otomatis dipandang pro-Islam, demikian pula sebaliknya.
Di dalam feminisme, persinggungan antara sekuler dan religius akan senantiasa tetap ada. Di dunia Muslim, keberagaman sedemikian besar. "Dunia Muslim kini terbentang tidak hanya di Timur, tetapi juga di Barat. Maka, kita harus membuka pemikiran kita, termasuk bagi mereka yang non-Muslim," kata Margot. Semakin banyak feminisme Islam bermunculan, akan semakin banyak pula kebaikan yang bisa dipetik, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi semua orang.
Margot sendiri mengaku tidak keberatan disebut feminis Islam, feminis Mesir, maupun feminis sekuler. "Silakan saja. Tidak ada masalah," tuturnya, sembari tersenyum. Ia sendiri memegang dua paspor, yakni Mesir dan Amerika Serikat.
Memang, ada beberapa feminis sekuler yang tidak ingin disebut feminis Islam, begitu pula sebaliknya. Identitas dan label dipersoalkan sedemikian rupa sehingga sedikit menimbulkan problem. Kecenderungan itu tampaknya ingin dijauhi Margot. Sebab, menurutnya, identitas dan label bukan hal yang perlu dipermasalahkan. "Bagi saya, karya-karya kita jauh lebih penting," ujar Margot. [SP/Elly Burhaini Faizal]