ria berusia 35 tahun itu bernama lengkap Aryanto Loduni, jebolan sekolah seminari menengah di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Walaupun bertubuh mungil dengan rambut panjang dan kerap dikuncir, dia dikenal oleh sejumlah aktivis pekerja sosial di Kupang, NTT, sebagai pemuda tangguh.
"Kegelisahan saya bermula ketika tahun 2003 meledak kasus pemisahan Timor Timur. Saya terpanggil untuk berbuat sesuatu bersama teman-teman gereja di Keuskupan Kupang atas nama kemanusiaan. Rupanya jalan Tuhan membawa saya untuk kembali membuat anak-anak itu gembira dengan bersekolah kembali," ucap Aryanto, kepada SP, belum lama ini.
Kemudian, dia bersama sejumlah suster dan aktivis gereja Katolik di Kupang membangun sebuah yayasan pendidikan bernama Yayasan Purnama Kasih. Dia mengaku, tidak membuat sekolah dan bangunan megah, tapi awalnya cukup dari rumah kayu. Pendidikan yang mereka buat bukan pendidikan nonformal.
"Yayasan kami yang juga mendapat banyak bantuan dari masyarakat tidak membuat sekolah formal tapi pendidikan kesetaraan seperti program Paket A setara sekolah dasar, Paket B setara sekolah menengah pertama, dan Paket C setara dengan sekolah menengah atas," ujar pria lajang yang suka menyanyi ini.
Kini, setelah hampir lima tahun dia berjuang menyelamatkan pendidikan anak korban konflik Timor Timur dan sejumlah anak jalanan di Kupang, sejumlah bantuan mengalir ke yayasan tersebut, sehingga anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan dapat terlayani lebih luas.
Paus Benidiktus XVI pun memberi penghargaan terhadapnya dengan mengirimkan sebuah kartu dan tanda penghargaan gereja Katolik terhadap upaya yang telah dilakukan anak muda ini untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan di tanah kelahirannya.
Michael Wawa (16) yang sejak delapan tahun lebih sejak ia putus sekolah, mengungkapkan, salah seorang temannya mengajaknya bersekolah di Yayasan Purnama Kasih. Yayasan itu menyelenggarakan pendidikan nonformal, yang didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak jalanan dan anak korban konflik Timor Timur sepertinya dapat meneruskan pendidikan dan terus menggantungkan cita-cita setinggi langit.
"Saya bersyukur bisa sekolah lagi. Ibu dan bapak saya lari ke Kupang karena rumah saya di Dili sudah hancur. Sekarang saya ikut Paket B," tuturnya.
Program Paket B dan C di Yayasan Purnama Kasih hanya diadakan tiga kali seminggu, dari pukul 14.00 hingga 17.00. Sebagian dari biaya operasional sekolah itu ditanggung Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Sedangkan sisanya diperoleh dari unit usaha yayasan. Peserta didik tidak lagi diminta mengeluarkan uang, kecuali uang pendaftaran sebesar Rp 10.000. Buku pelajaran dan buku tulis disediakan pihak sekolah.
"Banyak teman yang juga bekerja sambil bersekolah seperti saya. Biasanya majikan kami juga memberi izin, walaupun ada juga yang masih dilarang datang ke sekolah. Saya sendiri, kalau bisa ingin kuliah, kalau ada perguruan tinggi yang mau memberi beasiswa pada murid Paket C," ujarnya.
Penuh Perjuangan
Aryanto, mengakui, awalnya tidak mudah menarik pekerja anak kembali ke sekolah. Mereka harus berulang kali mendatangi para majikan pekerja-pekerja anak itu untuk mendapat izin. Awalnya, berulangkali mereka diusir. Tetapi lambat laun, respon masyarakat membaik. Mereka mengizinkan para karyawannya untuk mengikuti pendidikan Paket C tiga kali seminggu.
"Dulu, kalau kami datang, para majikan itu langsung bertanya, mau kasih keluar siapa lagi kau? Sekarang, mereka sudah lebih terbuka," ucap Aryanto.
Yayasan Purnama Kasih hanya salah satu dari sekian banyak penyelenggara pendidikan nonformal di NTT. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cemara Indah juga menyediakan pendidikan nonformal di sore hari untuk anak-anak yang bekerja di sebuah pasar tradisional tak jauh dari situ.
Dengan angka buta huruf cukup tinggi dan banyaknya anak yang tidak bisa bersekolah karena harus bekerja atau tinggal di daerah terpencil, pendidikan nonformal tampaknya masih menjadi emergency aid yang tepat untuk mengatasi tingginya tingkat putus sekolah di provinsi itu. Sebagai gambaran, sekitar 35 persen dari 9.640 penduduk tuna aksara di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) memperoleh pendidikan dari pendidikan nonformal.
Setelah Timor Timur berdaulat dan menjadi Timor Leste beberapa tahun lalu, kemudian disusul dengan kondisi politik dan keamanan Timor Leste pada Februari 2008 yang tidak kondusif, mengakibatkan banyak pengungsi yang "melarikan diri" ke wilayah RI, terutama ke Atambua, NTT. Para pengungsi itu ditempatkan di beberapa wilayah di NTT. Biasanya tempat tinggal mereka dekat dengan markas TNI AD, agar dapat dipantau pihak keamanan.
Perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua menempuh waktu enam hingga tujuh jam. Melewati empat kabupaten, yaitu Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Bone. Sementara perjalanan lewat udara, kurang dari setengah jam.
Namun, jadwal perjalanan melalui udara terbatas. Pesawat kecil yang dapat mengangkut puluhan orang itu hanya dua minggu sekali. Ada tiga titik wilayah konsentrasi di Atambua, yaitu Fatubanao, Tenuki'ik, dan Manumutin. [SP/Eko B Harsono]