SUARA PEMBARUAN DAILY

Main Hoki, Jalan-jalan Gratis Seraya Mengukir Prestasi

SP/Adi Marsiela

Sharifa Ainie (kiri) dari Unit Hoki Universitas Padjadjaran (UHU) berusaha merebut bola dari pemain Universitas Pendidikan Indonesia dalam ajang Walikota Cup beberapa waktu lalu. Olahraga ini kurang populer karena dianggap mahal.

Benarkah kuliah itu menyenangkan? Buat sebagian mahasiswa mungkin hal itu ada benarnya. Bagi sebagian lainnya, bisa jadi bikin stress, terutama bila menghadapi tugas yang menumpuk dan ujian. Tapi, bukan berarti kuliah tidak bisa menjadi menyenangkan. Sharifa Ainie (22), punya cara tersendiri untuk mewarnai kegiatan perkuliahannya.

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, yang akrab dipanggil Ipeh ini tidak mau melewatkan begitu saja masa kemahasiswaannya. "Saya pilih main hoki," papar dia kepada SP belum lama ini.

Pilihan Ipeh ini tidak datang begitu saja. Pasalnya, dia sudah mengenal olahraga dengan perlengkapan stik atau pemukul yang ujungnya bengkok ini, semenjak duduk di kelas satu SMA. "Banyak yang mengira olahraga ini dimainkan dengan menggunakan sepatu roda atau di atas es."

Olahraga yang satu ini memang lebih berkembang di kalangan mahasiswa. Di Unpad sendiri, olahraga tim yang dimainkan oleh 11 orang di lapangan besar ini, mulai ada semenjak tahun 1965. Kala itu, para mahasiswa lulusan SMA 3 Bandung mengenalkan permainan dengan bola sebesar kepalan tangan orang dewasa ini di tingkat universitas.

Setelah menemukan teman sepermainan, akhirnya terbentuklah sebuah organisasi yang dilembagakan secara resmi dengan nama Unit Kegiatan Mahasiswa Hoki Unpad atau disingkat UHU. "Sekarang anggotanya ada sekitar 40 orang. 24 di antaranya perempuan," kata Melissa Tuanakotta (21), Ketua UHU periode 2007-2008.

Menurut dia, tidak mudah mencari mahasiswa yang mau bergabung dalam unit kegiatan ini. Selain masih kurang dikenal, olahraga yang satu ini dianggap mahal perlengkapannya. "Padahal sudah disediakan semua peralatannya. Kalau sudah suka, terserah mau beli atau tetap memakai punya unit," katanya.

Untuk menjaga agar unitnya tetap diminati, UHU memiliki kiat tersendiri yang digunakan secara turun menurun. "Kalau mau ikut hoki, kita bisa jalan-jalan secara gratis," papar Melissa.

Ipeh, yang sempat mengikuti pelatihan daerah Jabar untuk PON 2008 di Kalimantan Timur ini membenarkan anggapan tersebut.

Walau dikatakan "jalan-jalan gratis", namun prestasi UHU tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam kurun waktu 10 tahun semenjak tahun 1997, UHU sudah berhasil memboyong sedikitnya 42 gelar dari berbagai kejuaraan hoki, baik tingkat perkumpulan atau universitas. Bahkan, jauh sebelum itu, era tahun 1980-an, UHU putra maupun putri, juga meraih predikat juara invitasi tingkat perguruan tinggi se-Indonesia. Putri UHU, tahun 1981, pernah mewakili Indonesia dalam try out SEA Games ke Singapura dan Malaysia. Karena prestasinya mengharumkan nama kampus ketika itu, seringkali anak UHU dibilang mahasiswa lainnya sebagai "anak kesayangan Rektor." UHU juga memiliki jaringan dengan para "alumni" pemain hockey, yang saat ini diketuai oleh Bebeb Djundjunan.

Diadu

Melissa menambahkan, UHU pernah mewakili Indonesia dalam Turnamen Antaruniversitas Tingkat Asean di Brunei Darussalam tahun 1997. Selain itu, UHU juga sempat berpartisipasi dalam Turnamen Hockey 6's ke-10 yang diselenggarakan oleh Singapore Cricket Club di Singapura tahun 2002 yang lalu.

Peranan UHU sendiri sebenarnya diharapkan tidak hanya sebatas untuk mengisi waktu luang. Jusup Solichin, mantan atlet hoki dalam SEA Games tahun 2001, tengah membangun komunitas yang disebut dengan nama Hockey Camp. Gerakan untuk memasyarakatkan hoki mulai dari tingkat sekolah dasar ini sudah dimulai semenjak tahun 2007 lalu. Saat ini, sudah ada 10 sekolah yang mendapatkan materi hoki dalam kegiatan ekstrakulikulernya.

Jusup memaparkan cara untuk memainkan hoki, selain menggerakkan anggota tubuh yang berguna untuk pengembangan jasmani, olahraga ini juga merangsang fungsi dari otak kiri dan kanan secara bersama-sama.

"Olahraga ini lebih sulit karena memakai tongkat dan dimainkan secara tim. Ketika kita menggerakkan tongkat dengan tangan kiri, maka otak kanan kita yang gerak. Demikian juga sebaliknya," urai dia.

Primadi Tabrani, guru besar Seni Rupa dari Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung memandang hoki sebagai salah satu cabang olahraga yang sangat cocok dengan postur tubuh orang Asia seperti Indonesia.

Mantan Ketua Pengurus Besar Hoki Seluruh Indonesia ini malah menyakini, olahraga hoki bisa mengangkat nama Indonesia ke pentas dunia. Seperti diketahui, Malaysia yang satu rumpun dengan Indonesia bisa bersaing dengan negara lain seperti Australia, Belanda, New Zealand, dan Jerman dalam kejuaraan dunia hoki.

Terlepas dari semua itu, Melissa mengaku bangga bisa bergabung dengan UHU. Malah dia ingin mengembangkannya. Karena sekarang ini, UHU sering kesulitan mendapatkan tempat latihan yang sesuai. "Inginnya ada lapangan yang memadai. Jadi bisa latihan sehingga berprestasi. Kalau sudah begitu bisa tambah bangga menghadap ke rektorat," ungkapnya. [SP/Adi Marsiela]


Last modified: 8/7/08