SUARA PEMBARUAN DAILY

Ahmadinejad: Nuklir Solusi Krisis Minyak

Rumgapres/Abror Rizki

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disambut PM Malaysia Abdullah Badawi saat mengadakan pertemuan di sela-sela pertemuan KTT D-8 di Kuala Lumpur, Senin (7/7).

[KUALA LUMPUR] Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, semua negara seharusnya dapat menggunakan energi nuklir. Karena itu, tidak boleh ada pembatasan apa pun terhadap hak semua negara untuk mengembangkan energi nuklir. Jika semua negara dapat menggunakan energi nuklir, mereka tidak akan menghadapi kenaikan harga minyak mentah dunia sebagaimana sekarang ini.

"Energi nuklir murah dan atraktif," tegasnya dalam wawancara dengan Bernama di Kuala Lumpur, Senin (7/7). Ahmadinejad, yang berada di Kuala Lumpur untuk mengikuti KTT Kelompok Delapan (Developing Eight/D-8) ke-6, mengatakan, teknologi nuklir dapat diaplikasikan di sektor industri dan pertanian untuk membantu mendorong pembangunan ekonomi. Namun, katanya, ada beberapa kekuatan Barat yang menentang keinginan Iran mengembangkan energi nuklir.

"Mereka menantikan datangnya hari ketika gas dan minyak mentah kita sudah habis dieksploitasi. Ketika hal itu terjadi, mereka berharap dapat menjual komoditas-komoditas tersebut kepada kita dengan harga sangat tinggi," ujar Ahmadinejad. Ia mengimbuhkan, jika hal itu terjadi, maka kedaulatan dan kemandirian negara-negara produsen minyak akan terampas.

Ahmadinejad mengatakan, merupakan hal yang sangat penting bagi semua negara untuk dapat mengatur sumber-sumber energi mereka dengan sebaik mungkin. Ia mencontohkan kasus di Indonesia. "Indonesia pada suatu masa pernah menjadi net eksportir minyak, tetapi kini menjadi net importir minyak," katanya.

Ia mempertanyakan mengapa negara-negara seperti Amerika Serikat atau Inggris, yang punya sumber-sumber gas dan minyak mentah, diperbolehkan membangun kemampuan-kemampuan nuklir mereka, sementara penyelidikan yang sangat cermat harus diberlakukan terhadap Iran.

Soal adanya ancaman serangan militer terkait program nuklirnya, Ahmadinejad menuturkan, Iran tidak akan tunduk pada tuntutan-tuntutan semacam itu. "Iran sudah terbiasa dengan perang-perang psikologis semacam itu yang dilancarkan kekuatan-kekuatan Barat," kata Ahmadinejad.

Ia mempertanyakan, mengapa ada kebutuhan agar Iran menjalani pemeriksaan oleh Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), sementara sejumlah negara di kawasan tidak dikenai kewajiban serupa. [Bernama/AFP/E-9]


Last modified: 8/7/08