
AFP
Para pemimpin negara-negara G-8 bersidang di Hotel Windsor, di Toya, Toyako, Jepang, Selasa (8/7). Pertemuan G-8 tahun ini akan membahas krisis minyak dunia, masalah pangan, dan perubahan iklim.
[RUSUTSU] Para pemimpin negara-negara maju dalam G-8, memulai pertemuan tahunan di Jepang, Senin (7/7), dengan fokus pada krisis pangan dunia serta bantuan bagi Afrika. Terkait dengan masalah bantuan untuk Afrika ini, para pemimpin G-8 akan membahasnya dengan sejumlah pemimpin Afrika (Rabu (9/7).
Pada pembukaan pertemuan yang juga dihadiri tujuh negara Afrika Algeria, Ethiopia, Ghana, Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania yang juga menjabat Ketua Komisi Uni Afrika, Presiden AS George W Bush, mengungkit persoalan pemilu Zimbabwe, yang dimenangkan kembali oleh Presiden Robert Mugabe.
Bush mendesak komunitas internasional bergabung untuk menghukum Presiden Robert Mugabe, yang menang setelah calon dari kubu oposisi, Morgan Tsvangirai, mengundurkan diri dari pemilihan putaran kedua, karena maraknya tindak kekerasan yang dilakukan kubu pemerintah pada para pendukungnya.
Presiden Tanzania, Jakaya Kikwete mengatakan, para pemimpin negara-negara Afrika turut prihatin, tapi tidak setuju dengan cara Bush, dan Uni Afrika tidak akan mendukung pemberian sanksi pada Zimbabwe. Resolusi Dewan Keamanan PBB, yang disusun AS, didukung Inggris, akan meminta negara-negara membekukan aset keuangan Mugabe, serta 11 pejabatnya.
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, pihaknya ingin melihat rezim Mugabe yang berkuasa secara tidak sah, diganti secepatnya. "Orang pahan bahwa pemilu yang sudah dilaksanakan itu tidak sah, ditandai dengan aksi kekerasan, intimidasi, kematian. Dukungan untuk adanya sanksi terus meningkat," katanya.
Sementara itu, kelompok advokasi internasional menuding negara maju, terutama Prancis, Kanada, Jepang, dan Italia, tidak memenuhi komitmen mereka dalam membantu Afrika. Para pemimpin G-8 berjanji memberikan bantuan dana untuk Afrika, total US$ 50 miliar hingga 2010, disepakati tiga tahun lalu pada pertemuan di Gleneagles, Skotlandia.
Charles Abani, Direktur Regional Oxfam untuk Nigeria mengatakan, jika bantuan dana itu benar-benar diberikan, maka setidaknya 5 juta jiwa bisa diselamatkan setiap tahunnya. Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris, menjalankan komitmen mereka, meski secara kolektif, baru US$ 3 miliar yang dikirimkan ke Afrika. Sebelumnya, mantan Sekjen PBB Kofi Annan, juga telah mengatakan bahwa negara-negara kaya tidak memenuhi janji mereka memberikan bantuan bagi Afrika hingga 2010.
Kritik Pemimpin Agama
Para pemimpin agama yang tergabung dalam World Conference of Religions for Peace (WCRP) menuding G-8 berandil besar dalam menciptakan kerusakan dunia. "Kehidupan umat manusia hingga kini masih diliputi oleh merajalelanya ketidakamanan global, yang ditandai ketegangan, perselisihan, bahkan peperangan di muka bumi.
Selain kemiskinan, di mana hampir satu miliar penduduk dunia berada di bawah garis kemiskinan, kesenjangan dan ketidakadilan global juga ditandai dengan maraknya kebodohan, buta aksara, keterbelakangan, serta kerusakan lingkungan hidup. Mereka yang tergabung dalam G-8 ikut andil di dalam menciptakan keadaan dunia yang rusak itu," ujar Presiden Kehormatan World Conference of Religions for Peace (WCRP) Din Syamsuddin, ketika menyampaikan "Call from Sapporo - World Religious Leaders Summit for Peace", Senin (7/7) sore. Pertemuan World Religious Leaders Summit for Peace, pada 2-3 Juli di Sapporo, Jepang, yang dihadiri 300 tokoh agama dunia, diselenggarakan menyambut pertemuan G-8. [AP/B-14/E-9]