[JAKARTA] Kepala Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) R Priyono meragukan laporan Indonesia Corruption Watch (ICW). Dikatakana, laporan yang diberikan ICW belum diketahui kebenarannya.
"Saya juga belum tahu laporannya, dari mana laporan data ICW itu ya? Sebanyak 16 juta barel, besar sekali. Kami untuk mendapatkan 100 barel saja sulit," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/7).
Dalam Laporan ICW, sejak tahun 2000 hingga 2007, ditemukan selisih sekitar Rp 194 triliun dari penerimaan negara yang berasal dari sektor migas. Pada tahun 2007 penerimaan negara dari migas mencapai Rp 115 triliun lebih.
Akan tetapi, dalam hitungan ICW, yang didasarkan pada data primer yang bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, penerimaan dari migas sebenarnya jauh lebih besar, yaitu mencapai Rp 156 triliun lebih.
Laporan ICW juga menyebutkan, dalam kurun waktu 2000-2007 Indonesia kehilangan 16,102 juta barel. Hal itu disebabkan kesalahan perhitungan dari BP Migas.
Senada dengan Priyono, Wakil Kepala BP Migas, Abdul Muin mengatakan, semua laporan BP Migas telah melewati mekanisme audit dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Laporan kami berdasarkan fakta-fakta yang jelas bukan berdasarkan praduga. Sementara data ICW tidak jelas asalnya," katanya.
Ditegaskan, BP Migas bertugas mengawasi setiap produksi dan kegiatan para kontraktor migas. BP Migas memiliki akses ke setiap perusahaan migas dan selalu transparan dalam memberikan laporan produksi migas. [DLS/N-6]