SUARA PEMBARUAN DAILY

Tjeppy: Sapi Betina Jangan Dipotong

[BANDUNG] Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan, Departemen Pertanian, Tjeppy D Soedjana meminta agar peternak tidak memotong sapi betina produktif atau bunting untuk konsumsi.

"Setiap tahun, 200.000 ekor sapi betina yang dipotong," kata Tjeppy di Bandung, Senin (7/7).

Pemotongan sapi betina, sebenarnya tidak diperbolehkan berdasarkan Undang-Undang No 6 Tahun 1967 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Namun, sambung Tjeppy, pihaknya tidak bisa melarang peternak kecil yang memilih untuk memotong daripada membiakkan sapinya. "Karena mereka peternak kecil butuh dana cepat."

Dia menjelaskan, kasus seperti ini banyak terjadi di daerah Indonesia bagian timur, yang potensial untuk pengembangan ternak sapi, seperi Nusa Tenggara Timur. Pemotongan ini berakibat juga pada peningkatan impor sapi bakalan dan daging sapi beku.

Impor

Menurut Tjeppy, Indonesia masih mendatangkan 400.000 ekor sapi bakalan dan 50.000 ton daging beku pada tahun 2007 untuk mencukupi kebutuhan daging. "Sapi bakalan itu yang digemukkan, tiga bulan kemudian baru dipotong. Kita mendatangkan dari luar sekitar 28 persen," tukasnya.

Tjeppy memberi contoh, sapi bali mampu beranak hingga 15 kali tanpa ada penurunan kualitas. Namun, begitu anaknya sudah berusia tiga tahun, seringkali induknya dipotong. Makanya, sambung dia, Departemen Pertanian terus berupaya menyelamatkan sapi-sapi betina yang produktif agar tidak masuk ke rumah potong.

"Ini mesin produksi, kita sisihkan jangan dipotong dengan pola tertentu. Memang pasokan daging berkurang dan impor meningkat, tapi ini untuk sementara waktu sembari menunggu (sapi betina) produktif dan dibudidayakan kembali," jelas Tjeppy.

Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan produksi sapi di wilayahnya.

Sepanjang tahun 2007, sambung dia, pihaknya mendatangkan 280.000 ekor sapi dari luar negeri dan provinsi lain untuk memenuhi kebutuhan sebanyak 320.000 ekor sapi. [153]


Last modified: 8/7/08