SUARA PEMBARUAN DAILY

Noordin Kian Berbahaya

[JAKARTA] Kelompok Noordin M Top dan Selamat Kastari lebih berbahaya dari sebelumnya karena mereka sudah tidak lagi merupakan satu kesatuan dengan induk Jemaah Islamiyah (JI). Penyidik kemungkinan akan terkendala karena kelompok ini tak lagi menggunakan pola lama baik dalam aksi teror maupun dalam upaya pelarian.

Demikian rangkuman dari wawancara dengan penasihat senior International Crisis Group (ICG) Sidney Jones, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, dan Kriminolog UI Adrianus Meliala.

Sidney Jones kepada SP, Minggu (6/7) malam, mengungkapkan, sejak tiga hingga empat tahun belakangan ini terjadi proses splintering (pemisahan diri dari induk) pada tubuh kelompok Jemaah Islamiyah (JI). Hal ini terlihat dari munculnya beberapa kelompok sempalan termasuk kelompok Palembang. Sasaran dari pola dan gerakan teroris ini masih sama, yakni orang atau kelompok yang mereka anggap kafir terutama yang berhubungan dengan Amerika Serikat serta antek-anteknya.

Pemisahan diri dari kelompok induk ini, kata Sidney, karena sebagian besar anggota kelompok JI justru tidak setuju dengan aksi pengeboman. Aksi tersebut telah menewaskan banyak orang sehingga dinilai sangat kontraproduktif karena korbannya justru bukan yang mereka sasar.

"Tapi ada beberapa kelompok yang masih mau berperang terhadap kafir secara umum atau terhadap Amerika Serikat dan antek-anteknya yang mereka anggap sebagai musuh terbesar Islam," ujar Sidney.

Kelompok penting dari sempalan JI ini adalah kelompok Noordin M Top. Noordin yang menjadi buron polisi setelah almarhum Dr Azahari, sudah tidak mewakili kelompok JI sejak 2003. Namun, Noordin tetap merekrut anggota terutama mereka yang berusia muda. Kelompok orang muda ini dianggap potensial karena semangat mereka tengah berkobar-kobar dan tidak sabar hanya dengan berdakwah. Sebagian besar orang muda ingin aksi yang ekstrim dan sekali jadi.

Soal kelompok Palembang, kata dia, yang menarik adalah bagaimana orang-orang dari Forum Anti-Gerakan Pemurtadan (Fakta) direkrut meskipun Fakta tidak pernah berjihad seperti Noordin.

Makin Menyulitkan

Terpecah-pecah kelompok JI justru menyulitkan polisi menumpas atau menangkap mereka. "Ini justru semakin susah. Karena polisi harus mengikuti satu persatu," kata Kriminolog dari UI, Adrianus Meliala, Senin (7/7).

Adrianus mengatakan, selama ini polisi menumpas teroris dengan memantau komunikasi antar-anggota teroris, kehadiran fisik dan memantau masyarakat serta tempat mereka berelasi. "Kalau mereka terpecah-pecah seperti itu memang sulit menumpas dan aksi mereka pun tentu makin membahayakan," kata dia.

Menurut Adrianus, kelompok teroris ini tetap eksis, karena ada masyarakat yang mendukung bahkan melindungi. "Saya berharap masyarakat bekerja sama polisi menumpas mereka," kata dia.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, terpecah-pecahnya kelompok JI memang membuat kelompok-kelompok ini makin berbahaya. Pengungkapan di Palembang, misalnya, polisi menemukan rangkaian bom yang jika disatukan lebih dasyat kekuatannya dibandingkan bom Bali I atau bom Bali II. [E-8/BO/G-5]


Last modified: 7/7/08