Indra Tjahyadi
kesunyian adalah jalan panjang
hadir bersama ciuman
kelana hujan
mengikuti jejaknya sendiri
menuju daerah perbatasan
lalu membelah senyap
dan bau bulan
adalah firman yang menghadapmu
dengan seteguk gerak lambat kesepian
yang membakar segala bentuk
dan membiarkan kereta
kereta melaju di atas lautan
dalam kehampaan
kutusuk bayang-bayang
kuhirup segala riwayat rasa sakit
dan keperihan
sebelum musim sempat
beralih
dan kita sama terjaga
dalam telanjang
dalam ilusi muram
yang memekikkan dendam
2007
angin gending menghembus
bertiup sampai ke gili
ujung tanjung berbantun air beriak membuih
di dada lelaki rebah istri terkasih
di gerimis menitik rebah istri terkasih
pulang ke haribaan suami
di dada lelaki
sesak minta perih datang tangis
angin gending menghembus
menghembus
bertiup sampai ke gili
2007
di langit, bulan tinggal sendiri. di bumi yang pesing sepesing
bau kencing kambing, hidup yang pahit menghujamkan
tajam mata lembing. memang ada saat kukecup jidatmu tipis
tapi kau pergi meninggalkanku sendiri. mitos-mitos sungai
mengalirkan aroma anyir bangkai terperih. aku mayat diremuki tangis
senantiasa menyerah pada kelapukan dan dingin
2007
sebuah cermin:
wajah penuh kerut di deraan keras hidup
rambut ramai uban - putih lusuh -
di lahapan ganas umur
kiranya pernah ia sunyi dan tak sunyi
rindu dan tak rindu
mampus dan tak mampus
tapi, sungguh, ia pernah dengar
seorang gadis ayu berbisik sendu di telinga kuyu:
"bila kau benar rindu, kenakanlah kaus ini
dan bayangkanlah aku memelukmu."
tapi di kamar, tak ada kaus, tak ada kaktus
bahkan dengus pun telah lama hangus
jatuh kumus ke dalam lobang kakus
lantas lamat-lamat melebus
menjadi humus di tanah-tanah tandus
2007
Karena perih kalbu tak juga terhapus, bulan pun
lenyap, dan rindu sama mengerikannya
dengan bau peluh sehabis setubuh.
Bila musim turun lembab, mayat dan malam
yang semayam dalam gelap kalap merayap
dalam darahku, serupa fantasi
bangkai pohon tepi telaga yang memenuhi
seluruh sudut kenangan dengan bayang-bayang
bayangan dan derita.
Barangkali telah kulupakan lanskap badai
yang menghancurkan rumah
rumah di ujung senja. Barangkali
telah kulupakan. Meski di lindungan langit
tak berjejak lukaku masih saja terasa begitu perih.
Begitu mesra.
Ingin kurenggut kehadiranmu yang cerlang,
meski segala gerak dan pendiaman telah
membawa riwayatku sampai
pada kesunyian terpekat, layaknya
bangkai tikus yang terkapar di dasar selokan.
O kejemuan! O bibir merahmu yang tak ada!
Segala kesendirian berlabuh di jiwaku yang muram!
Di bumi murung, tak ada lagi yang tersisa dariku
selain seteguk jejak buram yang tercipta dari tetesan
darah hitam yang menetes dari sebuah luka lama yang kekal.
2007