Mata yang Sederhana
di sepasang matamu,
kulihat mimpi yang sederhana
menunggu lampu perempatan memerah
mengetuki pintu lantas menengadah
agar esok bisa berada di sekolah
di sepasang matamu,
kulihat dunia yang sederhana
tak ada makan malam keluarga
tempat tidur pun hilang hangatnya
namun, kau masih bisa belajar tertawa
di sepasang matamu,
kulihat juga derai air mata
jatuh menjadi bulir hujan di jalanan
saat kau mendengar ejekan papan iklan
Malang, 2008
*
sebelum cahaya melipat gelap
biar kutatap kau di penghabisan
sebab hari esok tinggallah teka-teki
dan sebelum adzan subuh berlabuh
izinkan kupeluk kau di perbatasan
sebab pertemuanlah yang kunanti
sebelum mata lelap mulai terbangun
sebelum daun-daun mulai mengembun
Malang, 2008
*
Senja menjelma benang panjang
mencelup matahari melelah
serupa teh celup merah
di cangkir laut
dan ombak itu menggapai-gapai
segaris jejak telapak kaki
yang tak kunjung sampai
serupa diriku yang menunggu
kau datang dengan sampan
menjemput dan membawa pulang
Malang, 2008
*
Sebelum Kau Duduk di Pelaminan
Sebelum kau duduk di pelaminan:
Izinkan aku datang dengan sekuntum kembang
Yang dulu belum sempat kusampaikan
Namun, waktu terburu berlalu membawamu
Sebelum kau duduk di pelaminan:
Biarkan aku sejenak menatap wajahmu
Yang dulu belum sempat kulakukan. Sebab,
Aku hanya bisa memandangmu dari balik dahan
Sebelum kau duduk di pelaminan:
Izinkan aku mengatakan cinta
Yang dulu belum sempat kukatakan
Sebelum waktu membawa tubuhku pada kematian
2008
*
: Ailin
Rembulan memudar saat fajar tergelar
Desah nafasmu yang dingin mencipta embun
Kini menggantung di pucuk daun
Seketika jatuh meluruh padatanah basah
*
Kutabung detik pada cawan rindu
Kini berbunga hari, berputik minggu
Mekar jadi bulan. Merpati yang kukirim
Selalu kembali dengan surat yang sama
Sedang, embun yang kau jatuhkan di rahimku
Mengembang menjadi akar, tangkai, dan daun
Hendak tumbuh menjadi sempurna.
*
Tumbuhlah bunga liar di halaman.
Belum juga kuberi nama bunga itu
Sebab, aku sungguh tak tahu:
Batangnya hijau berseling putih.
Ada bulu halus di setiap helai daunnya
Ungu. Bunga apakah itu?
*
Gadis yang manis, bunga yang manis
Akarmu itu sudah tumbuh. Memperkokoh
Bebatang. Memperlebat dedaunan. Tapi,
Kenapa huruf-huruf yang dulu kuejakan
Kau tata menjadi duri, kau tusukkan di dadaku.
Kalimat-kalimat yang dulu kuajarkan
Kau jadikan pisau tertancap di leherku
Gadis yang manis. Bunga yang manis
Kenapa kau ikuti tanda jejak kakiku dulu
Menawarkan cinta pada setiap senja
Sedang senja hanya datang selepas saja
Mengantar sore pada gelapnya malam
Setelah itu kau akan sendirian meniti fajar.
Gadis yang manis, bunga yang manis
Kau alasan jantungku masih berdetak
Darah yang mengalir. Nafas yang terhela
Gadis yang manis, bunga yang manis
Kenapa kau terus berlari. Waktu tak habis
Kau cicipi sendiri. Jalan-jalanmu yang tertempuh
Hanya akan selalu berakhir dengan perempatan.
*
Belum sempat kulihat mekar bungamu
Kini kau melayu di pelataran waktu
Gadis yang manis, bunga yang manis
Kau mengering di pelukan tanah basah.
Sisa hujan semalam. Aku masih berharap
Kau akan tumbuh lagi di balik keringmu.
Menandai waktu lagi dari awal.
Saat pertama kau belajar menjadi sempurna
Di dalam rahimku yang berdinding sunyi
2008
aku tengah jengah
menatap waktu yang semakin resah
tak cukup sehari semalam hanya 24 jam
aku sedang meradang
meratap usia yang sedang memanjang
tak cukup walau seribu tahun lagi
Malang, 2008
u
Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Nominator Lomba Cerpen Kolomkita.com, Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Puisinya tergabung dalam Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra), Puisi Cinta (webersis), dan La Runduma. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116. No Rekening 9512126-4 (Atas Nama Lubis Grafura). BNI CABANG MALANG