
Oleh Endang Supriadi
agi menguak debu. Cuaca kering. Seorang ibu nekat mengamen di dalam bus kota. Sepantasnya ia berada di rumah, memasak atau mengurusi anak. Tapi sepagi ini ia memilih berada di dalam bus kota untuk menjual suaranya. Tania, anak semata wayang yang baru berumur satu setengah tahun dibawanya berjuang mencari uang dalam kerasnya ibu kota. Ibu muda itu mengamen tanpa alat musik. Sedang lagu-lagu yang dinyanyikan kebanyakan bernada sendu dan melankolis.
Seusai ia bernyanyi banyak penumpang memberi uang recehan sekadar menyalurkan rasa simpati pada keberanian ibu muda itu mengamen di bus kota yang padat penumpang.
Hanum, nama perempuan itu bisa sembilan kali turun naik bus kota dalam satu rute. Ia naik dari UKI Cawang, lalu turun setelah dua lagu ia nyanyikan.
Kemudian ganti bus lagi sampai bus-bus yang ia naik dan turuni itu tiba di terminal Grogol. Tania tak menangis dibawa naik turun bus. Malahan Tania tampak senang digendong oleh ibunya sambil bernyanyi. Ada lapisan hati yang terasa teriris tatkala ia sedang bernyanyi di dalam bus.
Pedih perih kala ia melihat kesibukan orang yang naik turun bus yang kebanyakan adalah kaum laki-laki. Kesemuanya tampak punya kesibukan. Punya pekerjaan. Tapi apa yang dilakukan Satria, sang suami yang kini sedang berada di rumah karena tak punya pekerjaan, alias menganggur. Selain menganggur, kerjanya makan dan tidur!
Rem bus tiba-tiba mendesit. Bus berhenti mendadak. Hanum tersentak. Nyaris kepala Tania berbenturan dengan kepala penumpang yang duduk di depannya. Sebuah taksi memotong jalur secara mendadak. Semua jadi kacau.
"Pegangan Bu, jatuh nanti anaknya!" tegur seorang penumpang wanita. Hanum bisa menguasai keadaan. Tania selamat dalam genggamannya.
Hanum menyudahi menyanyikan lagu. Agak kaku ia untuk pertama kali menyorongkan kantong plastik bekas bungkus permen kepada para penumpang. Cukup lumayan uang yang didapat Hanum pada hari pertama mengamen. Dan sejak hari itu dari pukul sembilan, Hanum sudah berada di dalam bus kota sebagai pengamen.
Dalam setiap hari mengamen, dari pukul sembilan sampai pukul dua belas siang atau lebih sedikit, penghasilan Hanum bisa mencapai lima puluh bahkan bisa sampai enam puluh ribu rupiah sehari.
Lumayan juga, pikir Hanum. Kenapa tidak dari dulu saja sejak Mas Satria nganggur. Kan aku bisa membelikan baju juga untuknya? pikir Hanum lagi. Uang yang didapat dari hasil mengamen itu, ia belikan beras dan keperluan dapur. Namun yang terutama adalah susu kaleng buat Tania karena anak itu tak lagi menyusu dari ibunya.
"Uang dari mana kamu? Hampir setiap hari ada saja yang dibeli. Apalagi harga susu Tania, hampir dua puluh lima ribu! Apakah itu tidak membuatku heran?" tegur Satria tiba-tiba.
"Usaha," jawab Hanum singkat. Satria terhenyak. Usaha apa? pikirnya.
"Kamu jangan berbuat macam-macam di belakangku, Num!" suara Satria dalam. Hanum kini yang terhenyak.
"Jangan menuduh yang macam-macam, Mas. Apa yang kukerjakan ini halal," tegas Hanum. Satria terdiam. Tapi tetap bingung dia. Memang, Hanum tak berterus terang apa yang dikerjakannya di luar rumah.
Pukul sembilan pagi, Hanum sudah berada di UKI Cawang lagi. Apa yang telah diributkan tadi malam dengan suaminya sudah tak ia pikirkan lagi. Sekarang yang penting bagaimana cara untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi dari kemarin demi membeli susu Tania dan juga untuk biaya makan sehari-hari di rumah bertiga.
Apalagi Hanum ingin menabung kalau bisa. Maka diam-diam Hanum berusaha sebisa mungkin menyisihkan penghasilannya sebesar se- puluh ribu setiap harinya. Se-belum naik ke dalam bus, Hanum selalu sarapan bubur ayam terlebih dahulu.
Semangkok bubur dimakan berdua bersama Tania. Untung bagi Hanum, Tania anak yang tak mudah rewel. Selain bubur, diberi roti seharga lima ratus perak pun Tania mau saja. Memasuki bulan Ramadhan, Hanum tak berhenti mengamen. Bahkan sambil menjalankan ibadah puasa, ia tetap semangat mencari uang dengan mengamen di dalam bus kota. Hanum tak mau ibunya di kampung halaman kehilangan jatah Lebaran darinya.
Dulu, selagi Satria masih bekerja sebagai kurir di sebuah perusahaan yang kini bangkrut, setiap menjelang Lebaran mereka selalu mengirim paket Lebaran melalui titipan kilat. Paket tersebut berupa makanan kering, bahan pakaian dan pakaian jadi buat Dede, adik Hanum satu-satunya yang masih duduk SMP kelas II, yang setia menemani ibunya karena Pak Rejo, ayah Hanum, sudah meninggal tiga tahun lalu. Belum lagi kiriman uang via wesel.
Dari hari ke hari, Hanum sudah dihafal oleh para penumpang juga oleh awak bus yang ia tumpangi. Siapa yang tak kenal Hanum, seorang pengamen perempuan yang murah senyum, dan selalu menggendong anak kecil yang cantik dan lucu. Namun, Hanum yang memiliki paras lumayan cantik, tak luput dari ke- isengan para awak bus juga para pengasong untuk menggoda serta merayunya.
"Ketimbang kamu setiap hari naik turun bus dengan hasil yang tak pasti, lebih baik ikut Abang. Rumah Abang cukup besar untuk menampung kalian berdua," begitu tawaran salah se- orang sopir bus yang kebetulan Hanum tumpangi. Hanum hanya bisa menjawab singkat: " Terima kasih, Bang. Saya lebih senang begini."
"Ah, tak layak itu. Abang duda, Neng. Jangan takut dimadu!" tukas abang sopir itu.
"Lagi pula, saya punya suami. Hanya saja suami saya sekarang lagi menganggur."
"Ah, Abang tidak percaya. Kalau memang ada, bagaimana pula suamimu itu membiarkan istrinya jadi pengamen di bus kota!" Hanum tak merespons. Repot melayani ocehan sopir yang nyerocos seperti mercon. Hanum akhirnya hanya bisa turun di sebuah halte setelah beberapa rupiah didapat dari pemberian para penumpang.
Tiba di rumah pertengkaran kecil terjadi lagi antara Hanum dan suaminya.
"Aku mau tanya, ke mana saja kamu, Num? Pagi pergi, siang baru balik?"
"Aku sudah bilang, cari uang. Dan uang yang kudapat ini, halal."
"Awas kalau kamu main gila di belakangku!"
"Aku katakan sekali lagi, jangan sembarangan menuduh. Aku tidak serendah yang Abang bayangkan," tegas Hanum.
"Tapi apa yang kamu kerjakan itu tidak jelas. Pembantu, tukang cuci atau apa? Aku sama sekali nggak tau!"
"Tidak perlu Abang tahu. Yang penting aku tidak berbuat yang macam-macam!" kata Hanum tegas. Satria terpojok. Tapi hatinya bergemuruh karena ada uap cemburu di dadanya. "Kebutuhan kita banyak, Kang.
Tidak mungkin kita diam terus tanpa usaha. Makanya Hanum cari akal, bagaimana supaya kita tetap bisa makan," lanjut Hanum, terus masuk ke kamar untuk membuatkan susu buat Tania.
Apa yang harus kulakukan kalau sudah begini? pikir Satria. Ia melamun panjang. Semua lamaran sudah ia layangkan ke beberapa perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Tapi sampai kini belum ada satu pun perusahaan yang memanggilnya untuk bekerja.
Nganggur terlalu lama juga tidak enak. Malu. Lingkungan mencemooh, suami macam apa kerjanya cuma mandiin ayam setiap hari! Ah, pedih hati Satria. Ia malu pada tetangga, malu pada Hanum, malu pula pada diri sendiri. Tak ada ranting akar pun jadilah. Sebuah pepatah tiba-tiba merasuk pikirannya. Pagi harinya, setelah Hanum keluar rumah membawa Tania, keluar pula Satria ke jalan.
Bedanya, Hanum sudah tahu akan ke mana langkah hendak dibawa, sedang Satria bingung akan dibawa ke mana langkah setelah tiba di jalanan yang padat dan ramai. Siang itu Hanum sudah lumayan mendapat rezeki dari mengamen. Untuk sekalian menuju pulang, Hanum sekali lagi naik ke dalam bus. Siapa tahu dapat rezeki tambahan dan penghasilannya tentu akan bertambah hari itu. Di dalam bus terakhir untuk mengamen siang itu, Hanum menyanyikan dua buah lagu. Semua penumpang terpesona oleh suara Hanum yang merdu merayu.
Di pertengahan lagu terakhir secara tak sengaja dari pintu belakang Satria naik ke dalam bus yang di dalamnya terdapat Hanum sedang mengamen. Mereka sama-sama tidak mengetahui kalau mereka berada dalam satu bus. Kenapa Satria naik ke dalam bus itu, tentu ada maksudnya yaitu ia sedang mengikuti seorang calon penumpang di mana perhiasan yang di- pakainya telah membuat Satria tergiur.
Sasarannya adalah handphone yang berada di saku celana penumpang yang diincarnya itu. Jam terbang menjadi pencopet belum dimiliki Satria. Suami Hanum ini belum mahir dalam mengambil barang milik orang lain dengan teknik cepat. Ah, peduli setan! pikir Satria saat itu.
Karena tindak tanduknya terlalu mencolok, ada salah seorang penumpang yang mencurigai perilakunya, ditambah sang target merasa ada tangan yang menggerayangi saku celananya.
Karuan saja si korban itu berteriak, "Copet! Eh, kamu mau mencopet hape saya?" Tangan si korban secara refleks memegangi tangan Satria yang sudah menggenggam hape milik penumpang itu. "Eh, tolong copeettt...," teriak si korban di bagian belakang membuat gaduh di dalam bus.
Para penumpang tersentak. Satria tak sempat melompat untuk menyelamatkan diri. Beberapa penumpang yang ada di pintu belakang langsung menghadangnya. Satria terkena bogem mentah. Orang-orang yang ada di dalam bus jadi heboh.
Hanum yang berada di depan dekat sopir, terkejut saat melihat sosok yang tengah digebuki adalah suaminya. Bus dimintanya berhenti.
Lalu Satria dihempaskan ke pinggir trotoar. Hanum ikut menghambur turun dari dalam bus, menghadang orang-orang yang sedang menghakimi Satria dengan pukulan dan tendangan.
"Jangan pukuli suami saya. Tolong hentikan... Jangan pukul suami saya, jangan! Dia khilaf. Tolong hentikan!" Tapi orang-orang tak peduli. Namanya maling harus dikasih pelajaran.
Kalau perlu bunuh! Itu prinsip menangkap maling atau copet di kota besar. Hanum menangis dan terus memohon, " Sudah hentikan! Jangan pukuli suami saya. Tolong jangan dipukul lagi, kasihani suami saya..."
Melihat gigihnya Hanum melindungi Satria, dan juga Tania yang menangis karena takut dan nyaris terlepas dari gendongannya, barulah orang-orang itu menghentikan amukannya terhadap diri Satria.
Tapi sayang, wajah Satria sudah memar dan banyak mengeluarkan darah dari mulut, pelipis, dan hidung. Hanum mendapatkan Satria sudah lemah tergeletak di atas trotoar. Sedang orang-orang yang menghakimi Satria sudah bubar dan tak terlihat batang hidungnya lagi. Hanum menangis, meratapi suaminya yang sekarat.u
Citayam, Januari 2006