SUARA PEMBARUAN DAILY

Potret

Oleh Ganda Pekasih

Seminggu setelah perusahaan tempatnya bekerja mem-PHK (pemutusan hubungan kerja) karyawannya secara besar besaran, barulah Togar mulai bisa me- nerima kenyataan dengan mencoba menghampiri meja telepon. "Nah, begitulah, Bang. Jangan melamun terus di rumah, hubungi kawankawan Abang, bikinlah rencana," kata Midah istrinya, gadis Melayu yang dinikahinya enam tahun lalu.

"Seminggu ini Abang nggak banyak omong. Kata ibu-ibu tetangga sepi tak ada suara Abang.

Kubilang saja sama mereka, Abang sakit, minta di- kerok tiga kali sehari...."

Togar tak mau menimpali ocehan istrinya, kalau di- timpali, bisa berkilo-kilo meter dia mengomel. Ketika telepon di seberang sana menyahut, tak terdengar sama sekali suara kegembiraan dari mulut Kusnendar sahabatnya, kecuali keluhan tidak enak badan dan menyerahkan telepon itu ke istrinya yang orang Betawi.

"Dia bisanye cume uring-uringan doang, Bang. Katanye impiannye punya mobil udeh musneh, ude due hari ini die kagak mo makan- makan.

Gemane ni Bang? Tapi kalo malam dia bisa keluar, nongkrong di warung kopi. Pagi baru pulang, terus ngelamun lagi di kamar kayak patung Pancoran. Gemane kawan Abang itu, nasihatin die Bang, tolong aye, bang. Tolong bang, kita kan ude kayak sodare!" Togar langsung mematikan telepon sambil cepat-cepat memutar nomor telepon rekannya yang lain.

"Siapa lagi yang mau Abang telepon?" tanya si Midah.

"Si Kusnendar tak mau ngomong, istrinya yang orang Betawi itu meledak- ledak kayak mercon, kututup saja teleponnya."

Togar lalu tersambung dengan rekannya yang lain, si Sapulette, Nyong Ambon, tapi kata istrinya, si Sapulette lagi sulit bicara, tenggorokannya kena radang.

"Bang Togar, suamiku so lama melamun terus, jarang makan, seharian cuma merokok dan minum kopi! Tolong beta Bang Togar, tolong beta. Beta so tidak mampu kasi nasihat dia orang! Tolong beta?"

Togar lagi-lagi cepat me- nutup teleponnya.

"Kenapa lagi Bang?"

"Tolong kau pijit belakang kepalaku, bukan hiburan yang kudapat, kepalaku malah tak bisa kugerakkan."

*

Togar dan rekan-rekannya yang terkena gelombang PHK berharap bisa mendapat pekerjaan di kantor yang baru sebelum persediaan sembako di dapur habis. Menunggu bekerja di tempat yang lama, rasanya perusahaan itu sudah tidak mungkin mampu bangkit lagi, pemilik perusahaan sudah menutup kantor tanpa ada satu pun lagi yang bekerja, kecuali beberapa orang satpam penjaga mesin.

Pesangon yang didapat Togar pun hanya cukup untuk hidup layak di Jakarta selama dua bulan, uang pesangon itu sudah dihitungnya dengan cermat setelah disisihkan sebagian untuk pembayaran cicilan rumah, telepon, listrik, air PAM, iuran sampah,dan iuran keamanan. Belum lagi koran dan rokok yang kadang-kadang harus tersedia pula.

Pinjam uang untuk modal usaha ke saudara? Ah, itu pantangan bagi Togar, kecuali mungkin dengan orangtuanya di Pematang Siantar sana, mereka masih punya satu hektare ladang nanas, hasil panennya diekspor, dijadikan buah kaleng sama orang Singapura. Tetapi tak enak menyusahkan mereka, adiknya si Monang, si Butet, dan si Nahot harus terus sekolah sampai universitas.

"Bang....." Tiba-tiba si Midah sudah berada di samping Togar yang sedang sibuk mencatat-catat lowongan kerja di koran. "Astagfirulah, mencatat apa Abang, togel ya?" sentak si Midah.

"He jangan sembarangan kau, seumur-umur Abang tidak pernah pasang togel!"

"Sori, Bang, sori...." Lalu si Midah bersandar manja di bahu Togar, sayur bayam yang baru dibelinya diletakkan di atas meja. Hm, sudah lama si Midah tidak manja seperti ini sejak aku kena PHK, pikir Togar.

"Kenapa Midah, sudah berapa banyak rupanya utang kau di pasar."

"Bukan itu Bang. Aku hamil, Bang."

"Apa, hamil?"

"Iya, Bang... tadi aku periksa di Puskesmas."

Si Midah menggenggam tangan Togar.

"Mestinya Abang kan gembira dan bersyukur sama Tuhan, bukannya terkejut kayak yang melihat hantu saja Abang."

"Ya, ya, Abang senang Midah, Abang gembira, tapi... keadaan kita sedang gawat begini...." Si Midah membelai pundak Togar, dia pun cemas, tapi dia berharap Togar cepat mendapatkan pekerjaan baru, sebentar lagi mereka dikaruniai seorang anak yang sudah lama mereka tunggu-tunggu.

*

Tanpa terasa sudah tiga bulan lebih Togar menganggur, surat lamaran yang di- layangkannya ke berbagai perusahaan yang sesuai dengan disiplin ilmunya belum ada yang merespons. Kawan-kawannya sekampus dulu di Medan yang bekerja di Jakarta sudah juga dihubunginya.

"Perusahaan kami malah akan mengurangi karyawannya. Zaman sekarang Kau jangan berharap kalau keinginan kau cuma bekerja, lipat gandakan ide-ide kau yang banyak diakui kawan-kawan dulu cemerlang, kau pintar melucu," jawab Anwar setelah mendengarkan keluhan Togar.

"Apa hubungannya pintar melucu dengan kondisiku?"

"Jelas ada hubungannya, krisis ini akan terus berjalan, apa yang dibutuhkan orang- orang saat ini kau harus tahu."

"Ah, aku tak mengerti."

"Kau pikir dululah, aku yakin kau pasti bisa."

"Bilang saja kau tidak mau membantuku, War, kau cuma ingin menghiburku saja kan?" sinis Togar.

"Nah, kau baru saja mengatakannya tadi."

"Aku tambah tidak paham maksud kau!"

"Kata-kata kau terakhir tadi, coba kau ingat baik-baik. M-E-N-G-H-I-B-U-R, lipat gandakan dengan ide-idemu yang selama ini sangat cemerlang. Dulu kuingat kau jago melucu, itu modal kau. Oke, aku sedang sibuk, aku wartawan, bekerja 24 jam." Bah! Orang sekarang bicaranya pun makin absurd! Maki Togar sambil menutup teleponnya.

"Sudah agak enakan, Bang?" Midah muncul lalu memijiti pundak Togar.

"Malah tambah parah."

"Jangan-jangan darah tinggi itu, Bang."

"Biarlah darah tinggi, mati sekalian pun tak apa."

"Sabar Bang, sabar...."

Midah memijit-mijit kepala Togar.

*

Tapi nasihat Anwar, yang berbapak Aceh campur Banten, beribu Minang campur Jawa itu, dipikirkannya juga. Dia ingat-ingat semua apa yang diucapkan Anwar.

Intinya, Anwar menganjurkannya berusaha ke sektor lain yang bukan spesialisasinya. Usaha menghibur? Si Anwar itu dokter hewan, akhirnya cuma jadi wartawan dia. Dan sekarang bagaimana aku harus menghibur orang. Bidangku teknik mesin....

"Makin lama Abang makin banyak melamun, matilah kita!" keluh si Midah panik.

"Bukan Abang melamun, Abang sedang berpikir, Midah."

"Tak tahulah aku Abang berpikir apa melamun. Eh, bagaimana dengan calon anak kita ini, Bang? Kita pelihara saja terus sampai lahir, atau kita gugurkan saja dia."

"Bah, sudah gila kau! Pembunuh itu namanya. Dapat darimana kau pikiran gila itu?"

"Habis, aku kecewa sama Abang, tapi aku cuma mengancam saja kok, Bang. Mana mungkin kugugurkan kandungan ini, dosa besar itu. Abang kasi angin surga sama aku pun jadilah supaya aku sedikit tenang, tapi itu pun tak Abang berikan."

Togar segera bangkit dan memeluk Midah.

"Sebentar lagi kita akan keluar dari krisis ini, percayalah sama Abang, jagalah buah hati kita, kan sudah lama dia kita tunggu-tunggu."

"Begitulah Bang. Aku kan tenteram kalau Abang sudah omong begitu."

Tiba-tiba Togar tersenyum, dia sudah menemukan apa maksud kata M-E-N-G-H-I-B-U-R yang ditegaskan Anwar kemarin. Togar pun menceritakan rencananya kepada Midah, tapi setelah mendengar rencananya, jangankan tertawa, tersenyum pun si Midah tidak.

*

Togar mengemukakan idenya kepada Kusnendar dan Sapulette, tapi mereka tak siap mental ikut bergabung dengan rencana Togar.

"Sekarang banyak orang perlu hiburan, tapi tidak banyak orang yang bisa menghibur.

Kita akan menciptakan hiburan, hiburan ini bukan menyanyi atau menari, istilah kerennya monolog, cerita sehari-hari yang lucu yang topiknya sedang ramai dibicarakan orang, istilahnya komedi situasi.

Aku kan jago bikin lelucon dan plesetan, sehari saja ibu-ibu di kompleks rumahku tidak mendengar leluconku, mereka kangen berat. Kalian jangan ragu, kalian hanya membantuku. Siapa tahu kita bisa main di televisi nanti, kita mulai dulu di jalanan." Kusnendar dan Sapulette tetap menolak karena mereka merasa tidak berbakat melawak walaupun cuma jadi figuran, tapi Togar terus meyakinkan mereka dengan berapi-api. Togar mengeluarkan segenap kemampuannya melucu hingga mereka pun tertawa cekakakan.

Togar pun mulai mem- buat lelucon-lelucon, plesetan, puisi, anekdot, dan menirukan suara para tokoh yang bisa membuat orang tertawa. Kusnendar dan Sapulette akhirnya memberanikan diri ikut beraksi bersama Togar di bus-bus kota dan kereta Jabotabek. Mendengar lelucon mereka, mulanya para penumpang tak ada yang tersenyum walaupun mereka tergelitik dalam hati. Cuma mereka gengsi untuk tertawa.

"Coba bapak-bapak, ibu-Ibu, adik-adik mahasiswa, pengangguran, dan semuanya, kenapa di bus kota semua wajah kita tegang seperti hari esok tak ada harapan, kita duduk satu bangku tapi sama sekali tidak ramah, malah saling curiga.

Seandainya begitu bus berjalan keluar terminal kita semua saling berbicara akrab dan bercanda, saling kenalan dan berbagi pengalaman, orang yang berniat berbuat jahat pasti mundur, dikiranya kita saling mengenal satu sama lain. Iya kan? Nah itulah tips sebagai penutup lelucon-lelucon saya, sampai berjumpa lagi." Selesai mengamen, lumayan, uang recehan banyak juga terkumpul. Begitulah Togar, Kusnendar, dan Sapulette mengamen di bus-bus kota sampai kereta api menjual plesetan-plesetan lucu dengan ber- bagai tips.

Mereka bergulir dari pagi hingga petang dari terminal ke terminal sampai kereta api. Para penumpang menyambut lelucon-lelucon mereka dengan gembira. Bukan sembarang orang yang mampu melucu sampai membuat penumpang kendaraan umum tertawa ramai-ramai, setelah tertawa para penumpang jadi akrab satu sama lain, tidak lagi melamun dengan pikiran sendiri-sendiri.

Copet dan penodong yang paling nekat pun urung menjalankan aksinya. Mereka tentu bingung, akhir-akhir ini orang bepergian kok senangnya berombongan setiap hari, tak ada lagi tempat mereka untuk melakukan kejahatan, semua orang mudah sekali kenalan, berjabatan tangan, dan tak saling curiga. Suatu hari sebuah kamera televisi merekam aksi mereka dan mereka diwawancarai, me reka diberitakan oleh tv-tv, lalu mereka mendapat tawaran tampil di sebuah acara televisi.

"Gawat Bang! Minyak goreng naik! Beras naik! Bawang naik!" Togar tersentak bangun setelah kecapean pulang ngamen dan tertidur, ternyata istrinya juga tertidur dan ngigau di sofa. Togar ternyata barusan bermimpi jadi orang terkenal.

"He, Midah apalagi yang naik?"

Midah terus mengigau. "Telur naik, cabai naik, terigu naik.... Lalu Midah tersentak bangun, perutnya mules. "Bang, anak kita menendang-nendang... aduh Bang, perutku sakit sekali, sudah saatnya ini Bang."

"Ayo kita ke rumah sakit." Togar segera membopong Midah, apa pun yang terjadi soal bayaran rumah sakit Togar tak peduli, yang penting si Midah harus melahirkan dulu dengan selamat buah hati yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Dan Togar akan menamakan anaknya nanti Tegarwati kalau dia anak perempuan, dan Tegar Pantang Menyerah kalau dia ternyata anak lelaki.*


Last modified: 20/6/08