[JAKARTA] Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berjanji untuk berupaya menyelamatkan 7.000 karyawan PT Prima Inreksa Industries (PII), produsen sepatu bermerek Adidas, yang terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Penyelamatan itu dilakukan dengan mencari perusahaan lain yang bersedia mengambil alih perusahaan dan tenaga kerja yang sudah tersedia.
"Saat ini, kami sedang mencari jalan keluar masalah ini. Kami akan menyelamatkan tenaga kerjanya, dan mencari perusahaan, baik asing maupun dalam negeri, yang mau mengambil alih PII," ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi kepada SP, Jumat (20/6) pagi.
Saat ini, kata Sofjan, Apindo telah mengkomunikasikan persoalan ancaman PHK kepada serikat pekerja. Dia menghimbau, agar seluruh pekerja untuk tetap tenang dan meminta tenggat waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya.
"Kami juga pusing. Lima dari perusahaan yang lalu juga tidak berhasil kami selamatkan. Kami malu. Tetapi, pekerja harus tenang, jangan sampai ada demonstrasi atau keributan yang nantinya justru tidak menyelesaikan perkara. Target kami tiga bulan akan selesai," tutur Sofjan.
Menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian Ansari Bukhari, PII terlilit utang puluhan miliar rupiah kepada bank dan penyedia barang (supplier). Akhirnya, Adidas memutus kontrak pesanan sepatu kepada PII, meskipun pemerintah telah melakukan mediasi untuk menyelamatkan 7.000 tenaga kerja.
"Kami sudah terlibat sekitar tiga bulan lalu untuk memfasilitasi permasalahan utang ini. Bank BNI sudah angkat tangan, karena utangnya sudah menunggak kepada bank maupun supplier," kata dia.
Pinjaman
Ansari mengatakan, perusahaan meminta pinjaman dana sebesar US$ 5 juta kepada Bank BNI. Namun, pihak bank menilai, kondisi keuangan PII sudah tidak layak lagi menerima kucuran dana. Apalagi, PII sudah mengagunkan aset-aset perusahaannya. Alhasil, dia lanjutkan, PII harus mencari modalnya sendiri.
Kendati demikian, Ansari menepis anggapan bahwa pemutusan kontrak Adidas dengan PII lantaran iklim usaha yang tidak kondusif. Dia menyebut, ada kesalahan pada manajemen PII sehingga berdampak pada aliran dana perusahaan.
"Adanya persoalan ini tidak berarti Adidas hengkang dari Indonesia, hanya saja ada pengalihan pesanan sepatu ke perusahaan lainnya di Indonesia. Karena, industri sepatu termasuk jenis footloose industry, sehingga memungkinkan terjadi perpindahan aset," ujar Ansari.
Sementara itu, sumber SP menyebut, PII meminta pinjaman ke bank sebesar US$ 35 juta. US$ 30 juta di antaranya dimaksudkan untuk membayar total utang PII kepada bank, sedangkan US$ 5 juta lainnya untuk modal kerja. "Bank menolak memberi pinjaman pada PII karena utangnya sudah menumpuk. Bahkan, bunga dari utang-utangnya pun belum dibayarkan."
Saat ini, sambung sumber tersebut, ada perusahaan dalam negeri yang bersedia mengambil alih PII dan tenaga kerjanya. Namun, perusahaan tersebut enggan menanggung utang-utang yang ditinggalkan PII. [CNV/M-6]