
Judul: Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2008
Tebal: 236 halaman
aptapadi merupakan khazanah warisan leluhur Nusantara. Memuat 7 janji penopang bangunan rumah tangga berfondasikan sikap saling percaya (trust), hormat (respect) dan Kasih (Love). Sejak zaman dulu nenek moyang bangsa ini sudah berbudaya. Misalnya, berkait urusan keluarga, jarang terjadi eksploitasi (isap-mengisap) atau pun praktik kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Laki-laki cenderung menggunakan rasio, sedangkan perempuan lebih mengedepankan intuisi. Sungguh sebuah sintesis holistik antara unsur maskulin dan feminin.
Ironisnya, pada abad ke-21 ini kita malah melupakan kearifan lokal tersebut. Misalnya, berkait istilah making love, terjemahan linearnya berarti cinta yang dibuat-buat. Itu - meminjam istilah WS Rendra - tidak otentik. Padahal dalam tradisi Kejawen ada istilah, Bangun Tresno yang sinonim dengan sesuatu yang tulus dan membangkitkan semangat.
Lantas para "dokter cinta" mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka memberikan resep instan untuk menyembuhkan penyakit zaman tersebut. Tentu dengan tarif tertentu, yakni dengan mengucapkan "I Love You" minimal 3 kali dalam sehari. Tapi awas ada 2 kemungkinan. Pertama, "pasien" merasa ragu, apakah ia masih mencintai pasangannya? Kedua, ia merasa bersalah atas perselingkuhan yang telah diperbuat dengan sekretaris di kantor.
Anand Krishna menawarkan pedoman perilaku untuk mengarungi samudera kehidupan dengan menggunakan bahtera rumah tangga, "Bila Anda belum dapat memahami kebaikan hati pasangan Anda, setidaknya janganlah menjadi penghalang bagi perkembangannya" (hlm 197). Dalam tradisi Kejawen, ada juga paribasan, Ngono yo ngono - ning yo ojo ngono. Kontekstualisasinya dalam dinamika hidup keluarga ialah jangan merepotkan pasangan kita bila belum mampu mendukungnya.
Tapi kini banyak kaum Adam berpoligami. Alasannya terkesan "rasional", ketimbang selingkuh sembunyi-sembunyi lebih baik berpoligami. Kawin (lagi) dimungkinkan apabila sang istri tak mampu memberi keturunan. Tapi bagaimana bila "onderdil" si suami yang soak? Kalau memang poligami dihalalkan, kenapa poliandri diharamkan? Kalau ada Poligami Award, kenapa tak boleh ada Poliandri Idol? Diskriminasi bias gender ini menunjukkan betapa kuatnya jaring budaya patriarkhal menjerat tubuh molek Noni Pertiwi!
Persahabatan
Ini kisah nyata, seorang praktisi poligami memiliki putri tunggal. 26 tahun berselang, sang buah hati telah beranjak dewasa tapi dimadu orang. Roda karma berputar, saat itu ia baru tersadarkan bahwa betapa sakit hati istri yang menjadi korban poligami. Sehingga janji Saptapadi berbunyi, "I shall be faithfull to you." Artinya, "Aku akan senantiasa setia kepadamu!" (hlm 153).
Esensi pernikahan ialah persahabatan. Menurut Ki Ageng Surya Mataram, hidup ini cen mulur-mungkeret. Saat sebelum pacaran kita pendekatan ("pdkt") dulu. Tapi kemudian setelah menikah kok kembali menjadi sahabat lagi? Karena perkawinan ialah perjalanan dari "aku" menjadi "kita". Proses pelampauan ego ini akan melahirkan kebersamaan (togetherness).
Tapi bukan berarti atas nama friendship lantas ke mana pun berdua, nempel kayak prangko. Solidaritas semu macam itu amat menjenuhkan. Bahkan bisa merampas kebebasan masing-masing individu untuk memuai dan mengaktualisasikan potensi diri.
Para leluhur kita memberi teladan. Pasangan suami-istri secara periodik berpisah ranjang. Lho kenapa? agar setiap individu memiliki kesempatan untuk mengasah bakatnya masing-masing. Toh mereka masih bisa bertemu tatkala makan malam, nonton, mendampingi anak belajar, dan senggama tentunya. Namun sayang, kini istilah "pisah ranjang" cenderung berkonotasi negatif. Bahkan dijadikan strategi mutakhir untuk mendongkrak popularitas di kalangan selebritis.
Secara blak-blakan, Anand Krishna membuka kartu. Penulis produktif 110 buku ini memiliki kebiasaan membaca hingga lewat tengah malam. Jam 01.00 WIB baru tidur, kemudian pukul 03.30 WIB si ayah beranak dua tadi sudah bangun, untuk membaca atau sekadar membuat catatan kecil sampai sekitar jam 04.00 WIB. Lantas tidur lagi sampai jam 05.30 subuh. Bayangkan bila beliau menuntut sang istri untuk mengikuti pola ekstrem ini (hlm 29).
Saptapadi ialah referensi berharga untuk menuju keluarga bahagia ala Indonesia. Buku ini layak didiskusikan dan dipraksiskan oleh para pasangan muda sampai yang lanjut usia. Tak terkecuali bagi komunitas Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut) yang sedang menanti kedatangan belahan jiwanya. Selamat membaca! [Tarsisius Nugroho Angkasa, pengasuh Taman Bacaan Masyarakat Bende Mataram, Perum Dayu Permai P-18 Yogyakarta]