ada yang luput aku ingat tentang cinta
seperti juga malam yang menjemput
terasa lembut
dan engkau rebah di bahuku
mengusir penat dan bayangan takut
yang melulu tumbuh di kepalaku
hangat dirimu telah mencabut
segala keputusasaan
yang gandrung mengurung
Jakarta, 2008
*
selalu aku ingat padamu
laut yang hitam terbenam
di batas senja yang kaku
seperti kepergianmu
yang tiba-tiba tak sempat kurekam
bahkan kupahatkan pada bongkahan karang
di dasar laut yang berkubang
memberi kabar pada ikan-ikan
melepasnya ke samudera yang luas
selalu aku ingat padamu
setiap kali laut memejam
dalam debur ombak yang membuatku oleng
hampir karam diterjang pisau waktu
begitu tajam
dan terasa ngilu
di pangkal hatiku
pada setiap kecupan kita
yang telah merobek semua pintu sunyi
berkelebat pada desir angin yang tak rampung
tak usai ditampung
kesedihan yang meraung
tidak, aku tak pernah meneteskan airmata
untuk hal-hal yang begitu romantis
segala yang tersisa manis di ujung lidahku
hanya perih ini kuarungi lagi
terjebak di tengah laut
tenggelam di dalam pedih yang larut
terbungkus sunyi
*
Jakarta, Februari 2008
ujung perih ini
selalu kusimpan sendiri
kuletakkan di rak buku
agar kata-kata bisa berdarah lagi
mungkin setelah itu aku a
kan menulis puisi
menanak segala yang muram
agar kembali ceria
ujung perih ini
kutinggalkan sedikit
di bibirmu
agar bisa kucium lagi
melumatnya sampai sekarat tamat
dan kita mengenang hal yang sederhana
semacam cinta berdua
ujung perih ini
kurekam dalam telepon genggam
menjadi gambar
sebab hidup ternyata
penuh dengan kelakar
Jakarta, 26 Februari 2008
*
sehabis petaka
kita kembali menyusun
rakaat-rakaat yang lama
tanpa sadar, doa kita yang sungsang
tak kunjung sampai
dan kita menunggu bencana hinggap
lagi dan seterusnya
berpura-pura sedih
terlibat pada isak dan tangis
tanpa ingat,
jika kita tak pernah peduli
sebenarnya
lagi dan lagi
Jakarta, 5 Februari 2008