
iga belas tahun sejak pernikahan kami, aku mulai merasakan hujan itu kembali turun di lubang telingaku. Di lipatan-lipatan hujan itu, aku membayangkan anak-anakku berlari. Sebuah matahari kecil terpecah menjadi beberapa bagian di atas mereka. Seperti telur dadar yang dipotong istriku pada makan malam kami suatu kali.
Pada maghrib yang entah. Mulanya, aku ingat, istriku selesai mengajar anak-anak kami mengaji. Salah seorang dari mereka membentangkan tikar di lantai di ruang tengah. Di atasnya kami akan makan malam. Ketika itu aku mulai merasakan hujan itu menderas pelan-pelan di telingaku. Sekali istriku berkata, suara itu hanya gesekan piring dan sendok, atau suara gemerisik tikar yang diciptakan salah seorang anak kami. Tapi aku tak mau percaya. Suara itu benar-benar suara hujan, kataku.
*
Hujan yang aneh. Aku tak tahu bagaimana harus menggambarkannya kepadamu. Awalnya, aku mengira, ayah dan ibuku juga merasakan hujan yang sama. Mereka tiba-tiba saja tertawa ketika pertama kali aku berkata padanya, bahwa saat ini hujan sedang turun dengan deras di lubang telingaku.
Tak ada hujan, kata mereka. Untuk selanjutnya, aku bersikeras menahan ayahku untuk tidak pergi ke ladang kami. Aku juga tidak ingin ikut serta dengannya. Hujan turun besar-besar dan ber- petir, kataku padanya. Ayah memarahiku. Mengataiku pemalas. Dan ibu menganggapku aneh. Dan hujan itu kemudian lebih sering datang ke lubang telingaku, hanya ke lubang telingaku. Maka ibu pelan-pelan mulai percaya. Kau sakit, katanya. Ia membawaku ke dukun kampungku yang terkenal masyur mengobati sakit gigi dengan segelas kopi pahit, memakukan mantra-mantra ke tiang rumahnya supaya sakit gigi yang diderita pun ikut terpaku di sana, tidak lagi di gigi si sakit.
Tapi aku tak sakit gigi, kataku awalnya pada ibu. Hingga kemudian aku menerima saja pada yang akan ibu perbuat terhadapku dalam usahanya menyembuhkanku. Ke mana aku akan dibawa, ke dukun siapa aku akan diserahkan, aku menurut saja. Begitulah, tiap hujan itu datang, ibu akan membawaku ke dukun-dukun yang berbeda. Sekali ibu pernah membawaku ke seorang bidan di kampung kami. Bidan itu tak menemukan apa-apa. Aku tak menderita sakit apa-apa, katanya. Bagaimana bisa tak ada apa-apa? Anakku kadang seperti mau mati menahan sakit, bantah ibuku.
Sementara itu, ayahku menjadi mudah marah dalam menanggapi setiap persoalan keluarga kami. Apalagi sejak kakak laki-lakiku yang baru saja tamat STM memutuskan untuk pergi merantau ke Jawa sana. Walau tak satu pun sanak-keluarga kami yang bisa dijadikan tempat menumpang di pulau sempit itu, tetapi kakakku bersikeras tetap pergi. Ibu kini sering termenung sendiri memikirkannya, juga memikirkanku. Ayah lebih acap marah-marah tak menentu. Sementara kakak laki-lakiku telah sekian hari raya tak pernah kembali. Kami terus menunggu kakakku. Kadang ibu bertanya kabarnya kepada perantau yang pulang setiap hari raya. Dan tak menemukan jawaban yang memuaskannya. Kabarnya, anakmu ikut kapal ikan ke Malaysia, begitu sekali aku dengar cerita dari seseorang kepada ibu.
Sesibuk ibu bertanya kabar kakakku, sesibuk itu pula ia mencarikan obat untuk penyakitku. Bertanya tentang dukun yang masyur ke mana-mana. Karena setiap kali penyakit itu datang, setiap kali hujan aneh itu menderu di lubang telingaku, gendang telingaku terasa seperti akan pecah. Gelombang batu seperti dilepaskan dari atas bukit ke dalam lubang telingaku. Aku meronta-ronta dan berteriak-teriak. Hingga akhirnya aku benar-benar pekak. Mulut ibu bergerak-gerak, mulut ayah komat-kamit. Aku tak mendengar apa-apa lagi.
*
Suatu hari, ibu meminta pada ayah agar aku dikawinkan. Katanya, seorang dukun-yang entah dukun ke berapa yang kami datangi-menyarankan supaya aku segera dikawinkan agar bisa sembuh dari penyakitku. Kata dukun itu kepada ibu, aku diganggu roh jahat, roh perempuan. Supaya kau tidak lagi diganggu, kau harus kawin! Ah, tak perlu menunggu kakakmu kawin lebih dahulu, kata ibu setengah berteriak kepadaku. Aku tentu saja tak bisa menangkap apa yang ibu katakan. Bukankah aku telah pekak. Tetapi ibu menggerak-gerakkan tangannya untuk membentuk isyarat. Tapi ibu tak mahir. Dan itu menyusahkannya. Dan itu membuat ayahku lelah. Tapi sedikit- sedikit aku mulai belajar untuk bisa membacanya.
Di kampung kami, kawin lebih dulu dari saudara yang lebih tua dianggap tidak terhormat. Akan banyak dugaan yang tidak-tidak dari orang. Akan dikatakan kalau kakakku tidak laku. Namun ibu, kemudian ayahku, benar-benar memaksaku kawin. Yang berarti, tentu saja, aku 'melangkahi' kakak laki-lakiku yang sekarang rimbanya entah di mana. Kata ibuku, mungkin dia telah menikahi gadis India di Malaysia sana. Siapa yang tahu....
Akhirnya aku menurut saja pada keinginan mereka. Tetapi siapa yang mau dengan si pekak ini? kataku. Aku pun tak pernah punya pacar. Maka, ibuku kemudian mencoba mencarikan jodoh untukku. Mencari perempuan yang mau dengan orang pekak. Tak lama. Dan perempuan yang dimaksud itu bersua. Dan aku kawin, benar-benar kawin. Seperti yang dianjurkan ibu. Seperti yang dianjurkan dukun itu. Ibu menemukan seorang perempuan. Tak perlu kujelaskan kenapa perempuan itu mau menikah denganku. Dengan seorang yang pekak. Benar-benar pekak. Tak perlu kuterangkan pula apa dia mencintaiku atau tidak. Apa aku juga mencintainya atau tidak. Ia anak perempuan dari saudara jauh ibuku. Aku sebelumnya tidak pernah berkenalanan dengannya. Mungkin ia perempuan gila yang bodoh.
Sederhana saja. Tak ada pesta besar apa pun. Dan hujan pun turun sepanjang hari pernikahan kami. Hujan yang biasa. Aku bisa mendengarnya kini. Aku bisa mendengar hujan itu turun tanpa membuatku kesakitan. Malamnya, kami saling melepas baju. Ternyata aku benar-benar dapat mendengar lagi.
Hanya saja, hidupku tak juga bisa sepenuhnya dipisahkan dari hujan. Hujan yang mulai kutakutkan bersemayam kembali di lubang telingaku. Hujan yang tak biasa itu. Hujan yang aneh. Maka ketika hujan turun, di hari-hari setelah perkawinan kami, aku mulai cemas, kalau-kalau hujan itu tak reda-reda. Aku mulai khawatir, hujan yang turun itu kemudian menjadi rasa sakit, dan menghuni lubang telingaku untuk selama-lamanya. Tetapi bukankah itu hujan yang biasa? Yang biasa-biasa saja? Yang juga dirasakan oleh banyak orang lainnya?
*
Tiga belas tahun sejak pernikahan kami, hujan aneh itu turun lagi di lubang telingaku. Tak tahu aku bagaimana persisnya harus kugambarkan keanehannya itu. Yang jelas, ia menimbulkan rasa sakit awalnya. Dan hujan aneh itu tak pernah reda hingga kini. Hanya kini hujan itu tak lagi menyakitiku. Ia menjadi... hanya desir yang rendah dan lembut. Seperti lagu seorang pendendang mungkin. Hanya saja hujan itu benar-benar membuatku tak bisa mendengar apa-apa lagi selain hanya suara hujan itu sendiri. Lalu bagaimana aku bisa berkesimpulan bahwa aku kembali pekak, sedangkan aku mendengar hujan itu terus saja turun?
Setelahnya, hampir-hampir tak pernah aku mengetahui bagaimana kehidupanku tanpa hujan. Setiap aku melihat ke jendela, jendela selalu lembab. Kadang aku masih sering menemukan gambar-gambar di kaca jendela rumah kami, gambar yang dibikin anak-anakku suatu kali. Aku terus saja membayangkan apa-apa yang basah. Aku ingat ketika umurku kira-kira delapan tahun, setiap hujan turun, aku akan bermain hujan sepanjang jalan kampungku. Aku mengajak serta kakakku. Kami berteriak-teriak ke langit tinggi. Bersama teman- temanku yang lain dan teman-teman kakakku, kami ber- kejar-kejaran, balap-balapan mobil-mobilan dari bambu. Ada saja yang akan kami permainkan jika hujan turun. Ketika kakakku sudah mulai merasa dewasa, dan telah punya pacar pula, ia tak pernah lagi bersedia kuajak.
Begitu pun ketika aku mulai bersekolah. Hidupku semakin tak bisa dipisahkan dari hujan. Setiap pelajaran menggambar, aku ingat, dulu aku selalu ingin menggambar sesuatu yang berhubungan dengan hujan: payung, jas hujan, awan hitam, banjir, perahu karet, atau titik-titik hujan itu sendiri.
Kini, kadang beberapa titik air kurasakan jatuh tepat di ubun-ubunku. Walaupun aku tahu, aku telah berada dan terlindung dalam rumahku. Aku berpikir kalau atap rumahku bocor. Dan ketika siang tiba, aku memutuskan naik ke atap rumahku yang bocor itu untuk menambalnya. Tapi aku tak menemukan kebocoran apa pun. Bukankah rumah kami masih baru, tentu atapnya belum akan bocor. Ibu membangunnya untuk kami beberapa tahun yang lalu.
Istriku sekali kulihat menangis ketika aku bersikeras bahwa hujan belum lagi berhenti, yang membuatku tak mau keluar rumah dan pergi ke mana pun. Pakai payung kalau memang hujan belum juga reda! Pergilah melihat ladang! Mungkin sudah semak kini, katanya. Kadang aku menyadari, bukankah hujan hanya turun di lubang telingaku? Tapi kesadaran itu tak akan bertahan lama. Dipan kamar kami kembali kurasakan lembab. Lantai-lantai menjadi lembab. Semuanya terasa basah.
Anak kami yang paling besar sekarang telah tamat sekolah dasar. Sebentar lagi yang paling kecil akan masuk taman kanak-kanak pula. Perut istriku tampak bengkak. Mungkin lima bulan lagi sudah akan melahirkan anak kelima kami. Kali ini harus laki-laki, kataku padanya. Semoga saja, Sayang, katanya membalasku setengah berteriak sambil mengelus pangkal telingaku. Aku telah lama tak yakin, kalau ia perempuan gila yang bodoh.
Padang 2007