SUARA PEMBARUAN DAILY

Jakarta Macet Total 2011

SP/Ruht Semiono

Sejumlah pengendara terjebak kemacetan panjang di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

[JAKARTA] Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat belakangan ini diperkirakan bakal menyebabkan kemacetan total di Ibukota. Jika prediksi awal, Jakarta akan stagnan (macet total) pada 2015, ternyata dengan memperhatikan pertumbuhan kendaraan saat ini, kemacetan total terjadi lebih awal, yaitu pada 2011.

"Saat itu (2011, Red), kendaraan bakal tidak bergerak. Luas kendaraan sama dengan luas jalan di Jakarta," kata Kepala Seksi Analisa dan Evaluasi Dinas Perhubungan DKI Jakarta Emanuel Kristanto kepada SP di kantornya, Selasa (10/6).

Ditegaskan, perkiraan itu berdasarkan data kendaraan yang ada saat ini. Hingga 2007 lalu, jumlah kendaraan di DKI mencapai sekitar 5,7 juta unit. Dengan perincian, mobil sebanyak 2,2 juta dan sepeda motor sekitar 3,5 juta. Sementara dalam lima tahun terakhir ini, rata-rata pertumbuhan kendaraan mencapai sembilan persen per tahun. Dengan pertumbuhan seperti ini maka pada 2011, jumlah kendaraan bermotor bakal mencapai 8,3 juta unit.

Dengan jumlah seperti itu, luas jalur (jalan) yang digunakan kendaraan bermotor pada 2011 mencapai 38,72 juta meter persegi (m2). Sementara luas jalan di DKI saat itu hanya mencapai 40,03 juta m2. "Masih ada selisih tetapi sangat kecil. Bukan tidak mungkin pertambahan kendaraan akan lebih cepat lagi dalam tiga tahun ke depan. Jadi 2011 memang kemungkinan bakal stagnan," tegasnya.

Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Udar Pristono mengemukakan akan mempercepat pembangunan pola transportasi makro (PTM). Pembangunan PTM mencakup tiga aspek, pembangunan angkutan umum massal, pembatasan lalu lintas, dan peningkatan jaringan jalan.

Pembangunan angkutan umum massal diwujudkan melalui pembangunan MRT (mass rapid transit), yakni berupa subway (kereta bawah tanah), light rail transit (LRT) dalam bentuk monorel atau kereta layang, serta bus rapid transit menggunakan jalur khusus, seperti busway. Untuk pembatasan lalu lintas, kata Udar, dilakukan dengan program 3 in 1, lalu penerapan tarif penggunaan jalan (electronic road pricing/ ERP), pembatasan parkir, dan fasilitas park and ride (tempat penitipan kendaraan dekat terminal atau halte busway, Red).

Sementara itu, untuk meningkatkan kapasitas jaringan jalan itu akan mencakup pelebaran jalan, pembangunan jembatan layang dan terowongan, pedestrianisasi, dan jalur non-kendaraan bermotor.

Sebelumnya Gubernur Fauzi Bowo menyatakan pembangunan PTM adalah kunci mengatasi kemacetan. [RBW/Y-4]


Last modified: 11/6/08