SUARA PEMBARUAN DAILY

Isbedy Stiawan ZS

Aku Pendatang

jalan menuju rumahmu, 26 tahun lalu, penuh belukar. yang kutandai hanyalah

sebatang pohon, ia tak pernah lupa mencatat lalu mengingat setiap pendatang

baik tak kaukenal maupun sudah kerap berkunjung. wajahmu merah

semangka akan tersenyum, dan dari sana menebar aroma yang mengekalkan

perantau bagi rumah dan kampung kelahiran

tapi ilalang yang memenuhi jalan setapak menuju rumahmu, sekarang sudah

hilang. hanya sebatang pohon masih menandai setiap yang pergi dan

pulang. langkah pertama kala merantau kekal di akar-akarnya di daun-daunnya;

mencatat setiap nama, melupakan bagi yang meninggal

kau pun lalu mengirim atau menaburkan bunga sebagai tanda berduka

setelah itu kembali mewarnai wajahmu hingga merah semangka. dan setiap

yang datang kauberikan wanginya...

kini, setelah 26 tahun, aku mengenalmu lagi. buah semangka di wajahmu

masih tetap kukenali, juga ranum apel yang tumbuh di halaman rumahmu

setia menungguku pulang. tapi mengapa kau begitu asing? kenapa kau seperti

tak mengenalku, begitu asing menatapku?aku hanyalah pendatang yang sekejap singgah.

6.4.2008

Bau Belerang

hujan membawamu ke sungai di mataku. jadi buih yang kuhirup sebagai

parfum. tapi bau belerang di rambutmu masih menyengat. aku jadi

mual tak mau mencium helai-helai rambutmu. "adakah lidah lain

menitipkan liurnya di rambutmu?"

aku ingin kau membasuh kembali rambutmu. mencuci dengan sampo

paling wangi. bau belerang membuat inginku hilang. mengemas

dan melipat-lipat hasratku. "jangan kaumatikan inginku dengan

bau belerang itu. aku membenci sungai yang mengalirkan setiap

bau tak sedap. apalagi..."

aku sudah menunggumu. setiap hujan membawamu ke sungai

di mataku. sebagai buih, tapi jangan sebarkan bau belerang itu.

"basuh hingga wangi rambutmu. aku pun ingin menciumnya." 8 April 2008


Last modified: 6/6/08