SUARA PEMBARUAN DAILY
Sajak Enderson Tambunan

Bona Pasogit Kita

bona pasogit kita dari ujung

ke ujung

lahan subur yang menunggu

dicangkuli

tanam padi, sayur- mayur,

pohon keras

tebarkan bibit ikan mas,

mujahir, lele

jangan biarkan telantar

jadi semak-belukar

jangan biarkan membatu

sementara diri tetap miskin

bona pasogit kita indah menawan

bukit barisan memanjang

sajikan ketenangan

salib kasih kukuh di siatas barita

pemandian air panas,

tepian Danau Toba

serta puluhan tempat indah dan bersejarah lainnya

siap dinikmati

wisatawan dari berbagi lokasi

tebarkan senyum,

kembangkan tangan

jangan biarkan sepi menggayut

jangan biarkan gayutan jadi batu

bona pasogit kita adalah

lautan seni budaya

gondang dan uning-uningan

gerakkan bahasa tubuh

tortor dan tumba, oh alangkah

gembiranya

adat persatukan kita dalam

berbagai upacara

dari kelahiran hingga kematian

tiada terkira nilainya

jangan biarkan hilang satu per satu disapu zaman

jangan biarkan zaman kuasai diri

bona pasogit kita memeluk warga yang cinta damai

dan kreatif

penenun ulos dan suji sunggingkan senyum

kue putu menunggu perantau

kedai kopi tetap hangatkan suasana

jangan lewatkan pasar sabtu,

minum cendol hangat atau

makan sotomi

di sana kita temukan geliat

kota dan desa

bona pasogit tunggu bantuan dan

sentuhan perantau

di pelosok Nusantara

biar rumah tak lagi berbentuk gubuk

biar jalan tak lagi setapak

biar hasil bumi tak menumpuk dan membusuk

teteskan air ke mulut yang dahaga

suapkan nasi ke perut yang lapar

biar bona pasogit tetap ceria

Jakarta, Mei 2008

Pesan kepada Pemimpin Kami

Kita tak punya tambang emas dan minyak

yang dapat diolah dari hulu ke hilir

Kita tak punya laut yang ikannya dapat dijaring setiap hari

Kita tak punya industri yang hasilnya

dibawa ke pasar domestik dan mancanegara

Tapi, kita punya banyak tenaga yang etos kerjanya tinggi

bahkan semangatnya dapat meledak

Kita punya hamparan sawah dan ladang nan subur

setiap hari dicangkuli petani tradisional

Kita punya alam yang indah

mencengangkan wisatawan mancanegara

Kita juga punya aneka ragam budaya dan adat

yang tak terpengaruh oleh arus globalisasi

Dari panorama Hutaginjang hingga Salib Kasih

Dari hamparan Siborong-borong hingga Sigotom

dan dari tepian Danau Toba hingga Rura Silindung

adalah" ladang emas" yang menunggu tangan-tangan

terampil

(Telah kudengar tentang gerakmu

bangunkan mereka yang tertidur

yang terlalu lama di kedai kopi

supaya tanami kopi, jeruk manis, cokelat, durian, hingga

kacang panjang

kau sebarkan traktor hingga pupuk ke dataran tinggi)

Masih banyak lahan tidur yang menunggu dicangkuli

masih banyak sudut alam yang menunggu dipoles untuk

pariwisata

Masih banyak dusun yang belum tersentuh kendaraan

bermotor

Masih banyak anak-anak yang terpaksa tinggalkan bangku sekolah

dan masih duka yang harus dienyahkan

(Teruslah bergerak dari hari ke hari

lengkapi yang kurang dan pangkas yang berlebihan

jangan berhenti kala pujian tak kunjung tiba

jangan tergoda selewengkan kekuasaan

jangan pula terpesona oleh indahnya paras dan harta

pengabdian dan bakti akan dikenang sepanjang masa

nanti, kala pulang kampung

akan kami nyanyikan, O Tano Batak

Jakarta, November 2007


Last modified: 30/5/08