bona pasogit kita dari ujung
ke ujung
lahan subur yang menunggu
dicangkuli
tanam padi, sayur- mayur,
pohon keras
tebarkan bibit ikan mas,
mujahir, lele
jangan biarkan telantar
jadi semak-belukar
jangan biarkan membatu
sementara diri tetap miskin
bona pasogit kita indah menawan
bukit barisan memanjang
sajikan ketenangan
salib kasih kukuh di siatas barita
pemandian air panas,
tepian Danau Toba
serta puluhan tempat indah dan bersejarah lainnya
siap dinikmati
wisatawan dari berbagi lokasi
tebarkan senyum,
kembangkan tangan
jangan biarkan sepi menggayut
jangan biarkan gayutan jadi batu
bona pasogit kita adalah
lautan seni budaya
gondang dan uning-uningan
gerakkan bahasa tubuh
tortor dan tumba, oh alangkah
gembiranya
adat persatukan kita dalam
berbagai upacara
dari kelahiran hingga kematian
tiada terkira nilainya
jangan biarkan hilang satu per satu disapu zaman
jangan biarkan zaman kuasai diri
bona pasogit kita memeluk warga yang cinta damai
dan kreatif
penenun ulos dan suji sunggingkan senyum
kue putu menunggu perantau
kedai kopi tetap hangatkan suasana
jangan lewatkan pasar sabtu,
minum cendol hangat atau
makan sotomi
di sana kita temukan geliat
kota dan desa
bona pasogit tunggu bantuan dan
sentuhan perantau
di pelosok Nusantara
biar rumah tak lagi berbentuk gubuk
biar jalan tak lagi setapak
biar hasil bumi tak menumpuk dan membusuk
teteskan air ke mulut yang dahaga
suapkan nasi ke perut yang lapar
biar bona pasogit tetap ceria
Jakarta, Mei 2008
Kita tak punya tambang emas dan minyak
yang dapat diolah dari hulu ke hilir
Kita tak punya laut yang ikannya dapat dijaring setiap hari
Kita tak punya industri yang hasilnya
dibawa ke pasar domestik dan mancanegara
Tapi, kita punya banyak tenaga yang etos kerjanya tinggi
bahkan semangatnya dapat meledak
Kita punya hamparan sawah dan ladang nan subur
setiap hari dicangkuli petani tradisional
Kita punya alam yang indah
mencengangkan wisatawan mancanegara
Kita juga punya aneka ragam budaya dan adat
yang tak terpengaruh oleh arus globalisasi
Dari panorama Hutaginjang hingga Salib Kasih
Dari hamparan Siborong-borong hingga Sigotom
dan dari tepian Danau Toba hingga Rura Silindung
adalah" ladang emas" yang menunggu tangan-tangan
terampil
(Telah kudengar tentang gerakmu
bangunkan mereka yang tertidur
yang terlalu lama di kedai kopi
supaya tanami kopi, jeruk manis, cokelat, durian, hingga
kacang panjang
kau sebarkan traktor hingga pupuk ke dataran tinggi)
Masih banyak lahan tidur yang menunggu dicangkuli
masih banyak sudut alam yang menunggu dipoles untuk
pariwisata
Masih banyak dusun yang belum tersentuh kendaraan
bermotor
Masih banyak anak-anak yang terpaksa tinggalkan bangku sekolah
dan masih duka yang harus dienyahkan
(Teruslah bergerak dari hari ke hari
lengkapi yang kurang dan pangkas yang berlebihan
jangan berhenti kala pujian tak kunjung tiba
jangan tergoda selewengkan kekuasaan
jangan pula terpesona oleh indahnya paras dan harta
pengabdian dan bakti akan dikenang sepanjang masa
nanti, kala pulang kampung
akan kami nyanyikan, O Tano Batak
Jakarta, November 2007