
Oleh Palti R Tamba
ELAKI itu tak ingin diganggu memerhatikan daerah-daerah di kiri kanan jalan Pulau Samosir itu. Di tangannya tergulung koran terbitan Jakarta empat hari lalu. Koran itu memuat liputan mengenai kabupaten pulau itu dengan ibukotanya Pangururan. Berita itulah yang telah menumbuhkan pertanyaan dalam dirinya: Ingatkah kau akan toko buku di kota itu, Polmer?...
Dulu, Pangururan itu adalah ibu kota kecamatan. Dijuluki sebagai kota pelajar karena banyak sekolah bermutu. Terutama, SMP Budi Mulia. Yang bersekolah di situ, berdatangan juga dari Tebing tinggi, Pematang-siantar, Kisaran, Tanjungba-lai dan Tanah Karo. Bahkan dari Medan.
Hari Rabu ada pekan di kota itu. Dermaga dipadati kapal- kapal dan bot. Jalan-jalan kota disesaki minibus dengan penum-pang berjubel, sepeda, sepeda motor, dan para pejalan kaki. Kota itu pun tumpah ruah oleh para pedagang dan pembeli, tukang-tukang obat di pinggir jalan, maupun anak-anak sekolah. Pada hari itu, anak-anak asrama Budi Mulia - selepas sekolah -- dibebaskan ke pekan.
Pada hari itulah anak-anak asrama itu berkesempatan bertemu orangtua mereka. Bila awal bulan, anak-anak itu akan mendapat bekal bulanan: beras dan uang. Sebagian orangtua mengantarkan bekal itu ke asrama. Ibu Polmer pun mengantarkan bekal Polmer ke asrama.
Ibunya seorang diri me-nafkahinya dan empat adiknya. Bapaknya meninggal saat ia kelas lima SD, karena kecelakaan bus di Tele. Polmer membawa surat pengantar dari pastor paroki untuk bisa bebas uang sekolah dan tinggal di asrama tanpa membayar serupiah pun. Ia tak mempunyai uang saku yang cukup dibanding teman-temannya. Karena itu, ia mesti pandai mengatur pendapatanya hingga habis bulan. Tapi ia tak merasa kecil hati.
"Tetaplah bersyukur pada Tuhan bagai-manapun ke-adaanmu!" kata pastor paroki, yang selalu diingatnya. Tapi banyak orangtua memilih bertemu anak mereka di pekan itu. Bila orangtua mereka sebagai pedagang kelontong maupun pedagang hasil-hasil bumi, tetap saja akan bertemu di pekan itu meski pun tengah atau akhir bulan.
Namun, anak-anak asrama yang berasal dari kota-kota besar sekadar jalan-jalan dan jajan saja. Orangtua mereka mengirim uang lewat wesel kantor pos atau lewat bank. Tapi Mahyudin Manurung yang anak Medan itu, lain. Ia lebih memilih membaca di kamarnya. Kalau ia ke pekan itu, pasti mampir ke toko buku.
Dulu, di jalan ke utara kota itu ada sebuah toko buku. Lokasinya, masuk gang. Sekali Rabu, Mahyudin mengajak Polmer ke situ. Baru kali itulah
Polmer mengunjunginya. Ada dua toko buku yang diketahuinya di jalan pusat kota, namun menjual alat-alat dan buku tulis serta buku-buku pelajaran sekolah saja. Tapi, di toko itu, selain peralatan dan buku sekolah, menjual buku-buku lain juga.
Di situ, ada buku tebal yang menarik hati Polmer, tapi harganya tak terjangkau kantongnya. Lebih mahal lagi dari buku-buku pelajaran yang ada. Beruntung Polmer memakai buku-buku dari kakak sepupunya. Seperti Mahyudin, Polmer juga suka membaca. Mahyudin meminjaminya buku-buku. Mereka sekelas.
Pada hari-hari Rabu ber- ikutnya, Polmer ke toko buku itu dengan atau tanpa Mahyudin. Buku-buku yang walaupun terbungkus plastik, selalu ada satu sebagai buku contoh. Tapi, buku tebal itu satu saja, terbungkus plastik. Ia hanya bisa membaca judulnya dan melihat harganya. Tiap kali memegangnya, ada janji dalam hati untuk membelinya. Ia berharap tak ada orang lain yang mendahuluinya. Dan keinginan itu ia simpan rapi dalam hati.
Begitulah. Polmer mengangankan buku tebal itu. Sebagai anggota redaksi majalah dinding sekolah, ia ingin sekali memilikinya. Nasihat guru bahasa dan sastra Indonesia kepada mereka untuk rajin membaca, memacu keinginannya. Maka pada bulan kesepuluh tahun itu juga, Polmer memutuskan memakai uang sakunya ditambah dengan uang sisa sebelum-sebelumnya, untuk membelinya. Ia sudah hafal harganya.
Tiba di toko buku itu, Polmer langsung menuju rak tempat buku itu. Dengan bangga, ia bawa buku itu ke kasir.
"Kurang, Nak..." kata si bapak, pemilik toko buku tersenyum setelah menghitung ulang uang dari Polmer. Polmer segera membalikkan buku itu untuk melihat label harganya. "Ma-maaf, ya, Pak....," katanya, malu.
"Ada kenaikan harga, Nak.... Kami tak bisa apa- apa...!" kata si bapak.
Polmer pun pulang.
Seminggu kemudian, Polmer kembali ke toko buku itu. Ia menawar buku itu. Tapi tak bisa. Ia memohon membayar buku itu dengan mencicil. Tapi tidak boleh.
"Tapi tolong, ya, Pak," Polmer berharap. "Jangan dijual dulu. Aku pasti datang membelinya besok atau lu-sa....!"
Si bapak bersitatap dengan Polmer.
"Tolong, ya, Pak," ulang Polmer. "Aku pasti datang besok atau lusa...!"
Si bapak mengangguk. "Ya, ya.... Semoga memang rezekimu, Nak...!"
Polmer pun pergi.
Tapi tak lama berselang, si pemilik toko itu menegun. Aku pasti datang membelinya besok atau lusa! Ah! Di-bayangkannya mata Polmer. Oh!... Lalu ia berlari ke pintu. Biarlah ia bawa buku itu, tak soal berapa ia bayar...!
"Ada apa, Pak...?" tanya seorang gadis remaja berbarengan dengan seorang pegawai toko buku itu.
"Orang itu mencuri buku kita...?" kejar putrinya itu, di sisi bapak itu."Tidak...tidak..," kata si bapak. Matanya mencari-cari Polmer. Namun tak melihatnya lagi. "Mmm... tidak ada apa-apa...!"
*
BEGITULAH. Ada-ada saja pengeluaran Polmer tak terduga. Kadang kala, ia sampai meminjam uang Mahyudin. Kegiatan belajar pun makin menyita waktu. Lama-kelamaan, ia lupa akan buku itu. Sampai ia kemudian tamat dari sekolah itu. Sampai ia juga melanjuti ke sekolah serupa di Pematangsiantar dengan rekomendasi pastor paroki. Sampai ia pun bisa kuliah di Medan dengan rekomendasi pastor paroki. Sampai ia bekerja, menikah, dan tinggal di Jakarta. Sampai ia telah memiliki dua anak: Partahi Hasiholan, kelas 11 dan Boru Hasian, kelas 7.
*
BEGITULAH. Si bapak pemilik toko buku itu menunggu Polmer datang. Tapi hanya dua kali itu mereka bertemu. Sampai ia membuat tulisan di sepotong kertas di sampul depan buku itu. Sampai anak-anaknya me-nikah. Sampai ia telah mempunyai cucu-cucu. Sampai kemudian ia lupa rupa Polmer....
*
LELAKI itu menyuruh sopir menepikan mobil.
"Kampung Ompung kan di seberang danau, kenapa berhenti di sini, Pa ...?" tanya Boru. "Aku pengen kita cepat sampai. Aku mau tanya Ompung saja kenapa kita datang lebih awal...!"
"Papa, mau ke mana...?" lanjut Hasiholan kemudian.
Lelaki itu turun. "Ya, menghilangkan kepenatan dululah sebentar...!" jawabnya.
Lelaki itu pun memerhatikan bangunan-bangunan yang ada di sepanjang jalan itu. Ia melihat banyak yang telah berubah. Perasaannya dihinggapi ingatan-ingatan semasa di kota itu. Ia memasuki gang itu. Istri dan anak-anak menyusulnya. Namun toko buku itu tak ada lagi. "Sudah pindah, Pak," kata seorang anak, sembari menunjukkan lokasinya.
*
TOKO buku itu luas, kini. Mata lelaki itu menjelajahi etalase-etalase dan semua rak Akhirnya, matanya menempel pada sebuah buku tebal. Langkah kakinya menyusul keinginan matanya ke etalase di pojok.
Buku itu tetap berbungkus plastik. Plastiknya sudah tua. Sepotong kertas direkatkan di bawah judul buku itu. Kertas itu pun sudah kekuningan. Ada tulisan di kertas itu, begini: TIDAK DIJUAL (dengan huruf cetak dari spidol warna hitam). Tulisannya juga sudah tua.
Seorang gadis remaja yang menjaga toko buku itu, menghampiri lelaki itu. Berikutnya, ia dihampiri istri dan anak-anaknya.
"Boleh saya lihat buku itu...?" lelaki itu menunjuk. Mata istri dan anak-anaknya mengikuti.
Remaja itu mengeluarkan buku itu dari dalam etalase. Lelaki itu memegangnya sambil meniup debu-debu di bungkus plastik buku itu. Remaja itu mengambil kain majun dan melap buku itu.
"Berapa harganya...?"
Remaja itu memperlihatkan label harganya. Lelaki itu mengangguk. Istri dan anak-anaknya memperhatikan.
"Papa kan sudah punya kamus besar bahasa Indonesia edisi disempurnakan? Buat apa ini...?"
"Benar kata Mama, Pa...!"
"Saya membelinya...!" Le-laki itu mengeluarkan dompet.
"Tapi, Pak buku ini tidak dijual..." kata si remaja menunjuk tulisan di sepotong kertas.
Lelaki itu, istri dan anak-anaknya membacanya secara spontan. Pelan. Terdengar bersamaan. Lalu, si remaja memasukkan buku itu dalam etalase.
"Berapa pun harganya, akan saya beli...!" kata lelaki itu.
"Kata kakek buku ini tidak dijual, Pak...." ulang si remaja, lebih lembut.
"Kenapa tidak dijual ya...?" tanya lelaki itu.
"Kata kakek pembelinya sudah ada. Cuma belum datang mengambilnya...."
"Sudah ada pembelinya...?" tanya lelaki itu.
Si remaja mengiyakan. Lelaki itu saling pandang dengan istri dan anak-anaknya.
"Sampai sekarang buku itu belum diambil...?" tanya lelaki itu.
Si remaja mengiyakan lagi. Istri dan anak-anak dari lelaki itu saling pandang.
"Adik tahu kenapa sampai sekarang buku itu belum diambil...?" tanya lelaki itu.
Si remaja menggeleng. "Entahlah, Pak. Kakek tak memberitahu kami...."
"Ma-af, Dik.... Apakah Kakekmu itu masih ada...?" tanya lelaki itu lagi. Istri dan anak-anaknya memperhatikannya sedemikian rupa.
"Ada. Di ruang dalam, Pak...."
"Ma-af, Dik.... Boleh dipanggil sebentar...?" tanya lelaki itu sekali lagi. "Karena saya ingin sekali membeli buku itu sekarang...!"
Si remaja mengangguk. "Silakan tunggu, ya, Pak...!"
Lelaki itu mengangguk. Di dalam dada, ada semacam gemuruh mengaduk-ngaduk. Ia datang seperti untuk membeli sepotong kenangan. Matanya berkaca-kaca. Tapi dengan sigap dibersihkannya. Dibayangkannya, masih banyak anak-anak seperti dirinya dulu yang tak mampu membeli buku karena harganya yang mahal. Di sebelahnya, istri dan anak-anaknya tak habis pikir atas apa yang dilakukannya. Namun, ia berjanji dalam hati akan menceritakan semua ini kepada mereka, nanti.
Cikarang Selatan, Januari 2008