SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak AD Donggo

Aku Tersentak

Aku tersentak ketika kau

Tiba-tiba bicara tentang tragedi

Tatkala bumi Indonesia

Yang sangat kita cintai ini

Sedang diliputi oleh berbagai

Tanda-tanda yang sulit diterka

Apakah tanah dan air sedang

Mematut diri sebagai bagian

Dari kemarahan alam atau

Isyarat lain yang belum bisa dipastikan

Juga karena kealpaan kita memahami

Arti berkah dan karunia Tuhan

Yang melimpah sejak pertama kali

Kita menapakkan kaki di sini

Di bumi yang dilimpahi segala ada dan

Segala yang memberikan makna hidup

Namun karena kita kurang

Memahami arti kelimpahan

Lalu dengan ketangkasan

Tangan yang tak tertandingkan

Yang dibarengi deraan rasa

Ingin memiliki segala yang ada

Baik yang terjangkau maupun yang

Tak terjangkau kita rebahkan

Menjadi puing-puing kecil

Yang menggambarkan sebuah kehancuran

Yang tak bisa didandangi lagi

Sebagai kehijauan yang meneduhkan

Sanubari alam dan sanubari

Yang menyadari bahwa badai

Sudah berada di tapak paling

Dekat dalam arti kerisauan namun

Hati kita menyadari bahwa keakanan

Tak pernah lepas dari harapan

Sampai akhir dari semua perjalanan

*

Kau Memang Pemuda Don Quixote

Kau memang pemuja Don Quixote

Yang kau anggap sebagai pahlawan

Namun terasing di negeri kau sendiri

Sedang aku pemuja para kalah yang

Tak menderaikan air mata setetes pun

Atau menadahkan tangan minta belaskasihan

Pada para tuan yang bertahta di sebelah lain bumi

Antara Don Quixote dengan para kalah

Tentu terbentang jarak yang tak tertempuh

Dalam membangun harga diri para kalah

Yang tak pernah takluk betapapun didera

Perut yang lapar atau keterbatasan yang

menghunjam.

Aku akui kau dengan Don Quixotemu

Adalah pemenang yang membangga diri

Dalam membangun butir-butir indah

Atas kehidupan di antara deraian air mata

Para miskin. Namun kau berteriak persetan

Dengan para miskin, aku adalah aku pemuja

Don Quixote yang membimbing aku

Dalam melayari dan menikmati kehidupan

Yang kuperoleh dengan merendah dan menadahkan tangan

Inilah aku, teriakmu dengan bangga tanpa peduli

*

Mari Kita Berteduh

Mari kita berteduh di sini, ajakmu

Dalam naungan dan tayangan harapan

Yang selalu bersama kita tatkala

Menata-ulang ketidakpastian yang

Selalu saja menghadang namun

Kita adalah dua kekuatan yang

Selalu berada di tapak paling

Depan dalam menaklukkan segala

Ketidakpastian yang selalu mengatakan

Diri sebagai pemenang

Kau mengingatkan aku tekad kita terpadu

Dalam satu barisan menyatakan

keberadaan kita

Adalah keberadaan sebagai generasi yang

Tak akan melupa bahwa pergantian generasi

Dengan generasi adalah sabda alam

Yang menyadarkan kau dan aku

Dalam posisi mana kita berada

Apakah dalam posisi yang memberi

Arah yang tepat tidak terbelah oleh

Ketidakpedulian yang membawa kita

Ke medan lain yang tak kita kenal

Catatlah kau menantang aku

Ini bukan kerisauan tapi demikianlah

Yang dapat kita lakukan hari ini

Dalam membangun kembali medan-medan

Baru dalam suasana tidak terburai oleh

Tata nilai yang membawa kita saling tak

Sadar akan kelemahan masing-masing


Last modified: 23/5/08