SUARA PEMBARUAN DAILY

Arti Sebuah Nama

Oleh Niwi Krismawati

"Bathari Saraswati. Ck...ck...ck." "Bathari Saraswati".

Beberapa kali Suryo mengulang-ulang nama itu. Berkali-kali pula dia membuka handphone-nya membaca SMS nyasar beberapa hari yang lalu. Dia cukup mengagumi alat kecil berteknologi canggih itu, sehingga akhirnya memberikan seorang, Bhatari Saraswati, dalam hidupnya. Merasa penasaran dengan pemilik nomor cantik itu, Suryo melayangkan sebuah SMS perkenalan.

"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Suryo lewat SMS.

"Namaku. Bathari Saraswati. Kamu?" balasnya.

"Suryo. Suryo Gumilar."

Semenjak dia tahu nama cantik itu, seperti mendapat angin segar dia mulai sering mengobrol, baik telepon atau via SMS. Suryo berharap bahwa pemilik nama itu secantik orangnya. Bukankah, Bathari artinya bidadari, ucapnya berkali-kali.

Dia masih ingat kata temannya, Bayu, yang beberapa waktu juga mendapat SMS nyasar. Nama belum tentu sesuai dengan orangnya, ucapnya. Bukankah setiap orang berhak menamai anaknya dengan sebutan apa pun.

Tetapi apalah arti sebuah nama, terkadang ungkapan klise itu muncul dalam benak, Suryo. Tetapi tidak bisa dimungkiri juga kalau nama memang mempunyai arti penting. Kelak nama itu juga diharap bisa mencerminkan sang penyandang nama. Seperti, Bathari Saraswati.

Sejak perkenalannya dengan Tari, panggilan akrabnya. Hari-hari Suryo seakan penuh warna. Tak jarang dia lebih sering mengurung diri di kamar sambil menghabiskan pulsa. Tak urung juga, dia harus merelakan uang makannya untuk membeli pulsa. Bayu, yang menjadi teman satu kosnya pun terkadang ikut direpotkan dengan ulah Suryo.

"Memangnya, kamu pernah lihat perempuan itu, Yo," tanya Bayu penasaran.

"Belum. Memangnya kenapa?"

"Lalu, kenapa kamu bisa begitu yakin, kalau Tarimu seperti harapanmu."

"Tentu saja. Dari namanya saja sudah terlihat. Bathari Saraswati. Pastilah orang tuanya menamai seperti itu, karena dia secantik bidadari."

"Jangan terlalu berharap."

Percakapannya terhenti, karena handphone tercinta menyampaikan sebuah SMS dari sang pujaan hati. Teringat perkataan, Bayu, Suryo akhirnya berpikir untuk mengajak bidadarinya itu bertemu.

"Bagaimana kabarmu, Mas?"

"Baik. Aku boleh meminta sesuatu kepadamu," balas Suryo melalui pesan singkat pula.

"Tentu saja. Asal jangan macam-macam."

"Aku ingin bertemu denganmu." Suryo sedikit waswas menanti jawaban Tari, berharap agar keinginannya terkabul.

"Boleh. Aku yang tentukan pilihan. Tetapi, dengan satu syarat. Belum saatnya kita bertatap muka secara langsung, kita ketemu di mal. Nanti aku akan kasih tanda. Bagaimana?" balas Tari.

"Setuju," tanpa pikir panjang Suryo menyetujui. Sekalipun dia sedikit keheranan karena sikap Tari yang tidak mau bertemu secara langsung dengannya. Sempat terbersit bahwa yang dikatakan Bayu sahabatnya benar.

*

Hari Minggu pun tiba. Mal penuh manusia yang memang ingin sekadar cuci mata, ataupun berbelanja. Suryo tidak begitu peduli, karena hari ini dia sangat ingin bertemu dengan Tari. Tidak berapa lama kemudian, Tari meneleponnya.

"Aku, di lantai tiga. Aku memakai baju warna merah. Nanti aku akan melambaikan tanganku, dan kau pun harus melambaikan tanganmu. Kamu, berdiri saja dekat kolam ikan itu. Aku pasti bisa melihatmu," ucapnya.

Tanpa berlama-lama, Suryo segera melaksanakan apa yang diperintahkan sang pujaan hati. Matanya memandang ke atas tanpa berkedip. Mencari sesosok wanita berbaju merah, sekalipun rasanya banyak baju merah berseliweran di sekitarnya.

Akhirnya, pandangannya tertumpu pada lambaian tangan seorang perempuan. Tepat seperti perkiraan Suryo, baju merah. Dia pun membalas lambaian tangan tersebut Walaupun dengan sedikit kecewa, karena tidak bisa bertemu langsung. Tetapi dia bisa melihat sekilas sosok yang bernama Tari itu. Tubuhnya tinggi, langsing, dan berkulit putih.

Suryo merasa menang. Ternyata dugaan Bayu tidak selamanya benar. Tari memang secantik bidadari. Lalu lalang orang di sekitarnya, membuat dia kehilangan jejak Tari. Tetapi rasa kecewanya terobati karena tidak berapa lama, sebuah SMS datang menggoda, Suryo.

"Bagaimana, apa kau melihatku. Aku sudah melihatmu tadi."

"Sudah. Kalau begitu, bagaimana menurutmu. Apakah kamu kecewa setelah melihatku tadi?" balasnya sambil deg-degan menanti jawaban yang diharapkan.

"Kau seperti namamu. Rupawan."

"Dan kamu, seperti namamu. Cantik."

Tidak berapa lama setelah mereka ber-sms-an tiba-tiba saja, Suryo dikejutkan oleh seorang perempuan yang mendekatinya. Dia sempat terkaget melihat wanita gemuk, berkulit hitam di depannya sambil tersenyum. Suryo hanya melongo melihat, perempuan di depannya. Sampai akhirnya dia bisa menguasai keadaan.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" sapa Suryo.

"Lift-nya sebelah mana, ya, Mas?"

"O.. Jalan saja ke arah timur."

Suryo tersenyum sendiri melihat perempuan yang baru saja depannya. Sambil mencari tempat duduk dia kemudian melanjutkan SMS-nya yang tertunda.

"Maaf, baru balas. Tadi ada perempuan aneh yang tanya lift. He..."

"Aneh. Aneh kenapa?" balas Tari.

"Tidak seperti dirimu. Orangnya gemuk, dan hitam. He...."

"Kamu bisa saja. Apa kamu menyukai orang cantik."

"Tentu saja. Seperti dirimu."

"Kalau aku tidak cantik, apa kamu akan menyukaiku?"

"Jelas mau. Karena kamu memang benar-benar cantik. Ha..ha..ha."

Setelah perjumpaan di mal itu, benih cinta mulai tumbuh dalam hati Suryo. Jalinan asmara yang didambakannya terbuka sudah, respons hangat diterimanya. Hari-harinya menjadi lebih berarti.

Sehari tidak telepon sang bidadari rasanya seperti satu abad. Sepertinya Tuhan sudah memberikan seorang jodoh baginya. Dan dia begitu bangga memamerkan sang pujaan hati kepada sahabat kentalnya, Bayu dan Paksi. Tampaknya pengaruh Tari sangat besar dalam hidup Suryo. Bagaikan kena sihir, dia seperti tergila-gila dengan kekasih barunya itu. Omongan Bayu untuk menyelidiki Tari lebih lanjut tidak dihiraukan. Bagaimanapun bidadarinya adalah bagian dari hati dan jiwanya kini.

Hingga tiga bulan sudah jalinan asmara yang dia rajut. Tetapi setelah bujukan-bujukan Bayu dan Paksi, tampaknya hati Suryo menjadi luluh. Bagaimanapun juga, dia harus berjumpa dengan Tari. Dengan penuh kemantapan Suryo kemudian memberanikan diri untuk mengajak bidadarinya itu bertatap muka dengannya.

"Tari aku mau minta sesuatu sama kamu. Aku harap kamu jangan marah. Bukankah kita sudah resmi pacaran. Aku sangat ingin bertemu langsung dengan kamu. Apa kamu mau menuruti permintaanku ini?" SMS Suryo.

"Apa kamu yakin mau bertemu denganku. Apa kamu sudah siap, Mas," balasan SMS dari Tari sedikit membuat Suryo heran.

"Tentu saja, aku yakin dan siap. Memangnya kenapa?"

"Kalau kamu yakin, aku akan tentukan tempatnya. Tapi apa pun itu, terimalah keadaanku apa adanya." Suryo lebih merasa heran membaca SMS terakhir dari pacarnya. Tetapi dengan penuh kemantapan bahwa tidak akan salah dengan pilihannya. Maka dengan langkah mantap dia akan menemui bidadarinya.

*

Hari Minggu menjadi hari penentuan bagi, Suryo. Dengan dandanan yang rapi, dan bau harum parfum yang menyengat dia langkahkan kakinya dengan mantap bak serdadu yang akan maju berperang.

Tidak terasa kalau langkahnya diikuti kedua sahabatnya yang super penasaran ingin melihat kekasih barunya. Sesampainya di "DEE CAFÉ" jam tangannya masih menunjukkan pukul setengah satu. Sedangkan pertemuannya jam satu siang. Suryo memang sengaja ingin datang lebih awal karena dia tidak ingin terlambat sedikit pun. Menit demi menit berlalu, rasanya penan tiannya begitu lama. Kemudian dia dikagetkan suara SMS dari handphonenya.

"Mas, nanti aku memakai baju warna biru." Detak jantung Suryo tidak karu-karuan. Rasanya dia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana jika sudah bertatap muka langsung dengannya. Rasa rindunya seakan, tidak terbendung.

Bahkan kalau diizinkan dia ingin sekali merangkul ataupun memeluknya. Bukankah itu pula yang dilakukan orang yang sedang mabuk asmara.

Jam tangannya menunjukkan pukul satu siang lebih seperempat. Rasa putus asa, bercampur dengan kegelisahannya. Karena yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Akhirnya, dia putuskan untuk pergi. Tetapi sebelum dia melangkahkan kakinya, matanya bertumpu ke arah perempuan berbaju biru. Tubuhnya yang tinggi langsing, dan berwajah cantik. Berharap itu adalah sang bidadarinya, Suryo ingin segera menyambut kedatangan sang Dewi yang dinantikannya.

Tetapi harapan itu pupus seketika, tatkala perempuan itu berbelok dan menghampiri laki-laki yang duduk di sebelah mejanya.

Dengan kecewa kemudian dia beranjak dari mejanya. Sampai akhirnya niatnya itu diurungkan karena tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya menyapanya.

Dengan kaget Suryo memperhatikan perempuan berbaju biru di depannya. Masih tidak bisa berkata-kata, akhirnya dia hanya melongo memperhatikan perempuan itu.

"Mas, Suryo," ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya. Suryo hanya terpaku, dan menjabat tangan yang terulur di depannya.

"Bagaimana, Anda tahu nama saya. Tetapi rasanya saya pernah bertemu, tapi di mana, ya," jawabnya sambil sedikit kebingungan.

"Di mal. Saya yang waktu itu menanyakan lift."

"Iya, saya ingat. Tapi bagaimana Anda tahu nama saya."

"Sayalah, pemilik nama Bathari Saraswati. Dan selama ini sayalah orangnya."

Tubuh Suryo terasa lemas. Mau bagaimana lagi, akhirnya penantiannya dan rasa penasarannya terjawab sudah. Bayu, benar. Dia telah dibohongi. Ternyata pertemuannya di mal itu tak lain hanyalah sebuah rekayasa. Dia menyesal terlalu cepat mengambil keputusan. Ternyata nama cantik itu telah membuatnya merasa tertipu.

Semenjak perjumpaan dengan Bathari, dia lebih banyak merenung di kamar. Handphonenya pun ikut dimatikan. Rasanya harapannya hancur, untuk membawa Tari dan memperkenalkan kepada teman-temannya. Bayu dan Paksi hanya tertegun menatap wajah sahabatnya yang merana karena, sebuah nama. Beberapa hari yang lalu, Tari mengirimkan sebuah SMS kepadanya.

"Mas, Suryo. Saya tidak berniat membohongimu. Tetapi aku juga tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Mungkin kita belum berjodoh." SMS itu membuatnya merasa bersalah. Dan tak berapa lama pula, dia membuka handphone-nya kembali. SMS yang dia kirimkan beberapa waktu lalu, masih tersimpan di ponselnya.

"Maafkan aku, Tari. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita. Aku mungkin bukan laki-laki yang terbaik untuk kamu."Suryo menutup lembaran kisahnya dengan melupakan nama cantik, Bathari Saraswati dari ingatan dan ponselnya. *


Last modified: 23/5/08