SUARA PEMBARUAN DAILY

Peningkatan Produksi Minyak

Blok Cepu Jadi Andalan

[JAKARTA] Blok Cepu bakal menjadi andalan produksi minyak mentah Indonesia di masa mendatang, dengan kapasitas produksi 150.000-160.000 barel per hari (bph). Lapangan minyak yang terletak perbatasan Kabupaten Bojonegoro (Jatim) dan Kabupaten Blora (Jateng) tersebut bakal mengalahkan Caltex yang menghasilkan 417.000 bph atau 45 persen dari total produksi Indonesia, serta Pertamina dan anak perusahaannya sebesar 150.000 bph (16,2 persen).

Sebenarnya, Blok Cepu sudah dapat berproduksi saat ini, seandainya tidak ada sengketa penguasaan pada 2002-2003, dan masalah pembebasan lahan. "Akibat itu semua, Cepu baru berproduksi 20.000 bph akhir 2008, dan mencapai 150.000-160.000 bph tahun 2010-2011," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat (16/5) pagi.

Kondisi itu mengakibatkan pemerintah tak kunjung mampu meningkatkan produksi minyak dalam negeri, sehingga menjadi sasaran kritik menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini.

Untuk itu, banyak pihak mendesak pemerintah untuk tidak menunda lagi percepatan peningkatan produksi minyak. Salah satu potensi untuk memacu itu adalah ladang minyak mentah di Blok Cepu, yang dianggap memiliki cadangan besar. Badan Pengatur Hilir Migas (BP Migas) mencatat, Blok Cepu memiliki cadangan minyak terbukti hingga 352 juta barel, dan cadangan potensial 325 juta barel.

Terkait hal itu, Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin, kepada SP di Jakarta, Kamis (15/5) menegaskan, produksi Blok Cepu sangat penting bagi produksi minyak nasional. Sebab, selama delapan tahun terakhir, hanya Blok Cepu yang memiliki produksi minyak besar. Oleh karena itu, proyek ini dinyatakan sebagai proyek nasional yang harus dimonitor agar tidak terjadi penundaan atau terganggu produksinya.

Diperkirakan, Blok Cepu akan mulai berproduksi pada Desember 2008 dengan jumlah produksi sekitar 20.000 barel per hari (bph). Puncak produksi diperkirakan pada 2011, dengan volume mencapai 165.000 bph selama 2-3 tahun. Lapangan Cepu mampu berproduksi hingga 20 tahun ke depan.

Dia optimistis percepatan produksi awal ladang minyak Banyu Urip di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, akan sesuai target yakni akhir 2008. Sebab, masalah lahan yang selama ini mengganjal dimulainya kegiatan produksi, telah rampung meski baru sebagian kecil yang sudah dibebaskan. Dari total kebutuhan lahan untuk pengembangan Blok Cepu, yang mencapai 700-900 hektare (ha), sampai April 2008 sekitar 20.000 ha sudah dibebaskan. Pembebasan lahan diperkirakan baru rampung secara menyeluruh pada 2010-2011.

Muin mengakui, target waktu berproduksi Blok Cepu molor dari pertengahan 2007. Alasannya, karena masalah pembebasan lahan yang telanjur dikuasai spekulan, sehingga harganya melonjak.

Selain itu, pengembangan Blok Cepu juga berjalan lambat. Cadangan minyak di Banyu Urip ditemukan pada 2001, namun penentuan operatornya baru selesai pada 2005.

Secara terpisah, juru bicara EMOI Deva Rachman mengungkapkan, untuk mempercepat pembebasan lahan, pihaknya sebagai operator Blok Cepu telah bekerja sama dengan BUMD Blok Cepu. Selain itu, juga berkoordinasi dengan BP Migas dan Pertamina EP Cepu, selaku mitra operator.

Perlakuan Khusus

Menanggapi lambannya produksi Blok Cepu, sejumlah kalangan mendesak pemerintah untuk memberikan perlakuan khusus, terutama berkaitan dengan pembebasan lahan.

"Produksi minyak Cepu itu berpeluang bagi peningkatan produksi migas nasional. Harus dikeluarkan peraturan pemerintah atau keputusan presiden untuk mempercepat proses pembebasan lahan," ujar anggota Komisi VII DPR Ade Daud Nasution.

Desakan senada disampaikan pengamat perminyakan Kurtubi. "Ini adalah kepentingan negara untuk menjamin sumber minyak nasional," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Effendi Siradjuddin membandingkan, ketika zaman Orde Baru, ada Badan Koordinator Kontraktor Asing yang mempercepat proses operasi kontraktor di lapangan. "Hal itu menyebabkan investor berduyun-duyun melakukan eksplorasi di Indonesia. Selama 20 tahun sejak 1970, produksi minyak nasional naik hingga lima kali lipat menjadi 1,7 juta barel per hari," ujarnya.

Sementara itu, pada Kamis di pasar New York untuk kontrak pengiriman Juni, minyak mentah diperdagangkan di posisi US$ 124,12 per barel, dan sempat menyentuh US$ 126,64 per barel. Kondisi harga minyak itu tak terpengaruh insiden ledakan pipa minyak di dekat sebuah sekolah di Lagos, Nigeria. Ledakan itu pada Kamis (15/5) itu menewaskan sekitar seratus orang. Pada insiden serupa yang terjadi beberapa waktu lalu, sempat mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah dunia. [P-12/DLS/H-13-AP/AFP/E-9]


Last modified: 16/5/08