SUARA PEMBARUAN DAILY

Chris Botti

Peraih Grammy yang Ramah dan Rendah Hati

SP/Berthold DH Sinaulan - Chris Botti

Dok Shangri-La

Atraksi panggung Chris Botti dalam konser mini bertajuk "Journey to Italia with Chris Botti" di Hotel Shangri-La Jakarta, 24 April 2008.

Ramah dan rendah hati tampaknya memang merupakan sebagian resep sukses bagi banyak orang terkenal. Hal itu juga tampak dari sikap Chris Botti, pemusik dan pencipta lagu asal Portland, Amerika Serikat (AS). Peraih Grammy Award untuk lagunya, What Are You Doing In The Rest of Your Live, pada 24 Mei mendatang akan mengadakan konser tunggal di Balai Kartini, Jakarta.

Namun sebulan sebelum itu, Botti juga telah mengunjungi Indonesia. Pemusik yang secara fisik tampak jauh lebih muda di usianya ke-45 tahun itu, membuktikan kepiawaiannya bermain terompet yang luar biasa, saat menampilkan tiga lagu dari album lamanya pada konser mini bertajuk "Journey to Italia with Chris Botti" yang digelar di Hotel Shangri-La Jakarta, pada 24 April 2008.

Bermain di depan undangan terbatas yang merupakan tamu penting dan sejumlah perwakilan negara sahabat, Chris Botti mengaku merasa senang untuk bisa tampil lebih awal sebelum konser utamanya yang akan digelar di Balai Kartini, Jakarta. Sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Indonesia, ia mengakui cukup kagum dengan Jakarta yang terlihat modern, tak kalah dengan kota-kota besar lain di dunia.

Chris Botti memang menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan para tamu undangan sebelum konser mininya digelar. Saat sedang menikmati cocktail, Botti bahkan tak sungkan mengikuti ajakan para tamu yang ingin berfoto dengannya. Ia menurut saja ketika lengannya ditarik dari satu tempat ke tempat lain, karena ada undangan acara itu yang ingin berfoto dengannya.

Keramahan Botti tampak jelas dari pancaran sinar matanya setiap kali ia menatap lawan bicaranya. Terlihat memang tidak dibuat-buat. Bahkan saat para tamu sedang menikmati makanan penutup sebelum konser mininya dimulai dan di salah satu meja manajernya, Bobby Colomby bercanda dengan para undangan, Botti yang duduk di tempat lain segera beranjak mendekati.

"Saya dengar nama saya disebut-sebut di sini, ya," ujar Botti sambil tersenyum, "Jangan percaya apa yang dikatakan Bobby."

Lalu, setelah mendapat tempat duduk di sebelah Colomby, ia tanpa canggung mulai berbincang-bincang dengan para undangan yang baru dikenalnya. Wartawan SP yang duduk di sebelah Colomby, juga disapanya. Ia lalu bercerita mengenai rasa terima kasih kepada ibunya, yang telah mengajarkan ia bermain musik.

Botti yang terkenal dengan permainan nada-nada tingginya pada alat musik terompet yang digunakannya, ternyata juga mahir menekan tuts piano. Botti yang disebut-sebut sebagai salah satu musisi terompet jazz kontemporer yang paling terkemuka saat ini, mengaku mendapatkan "darah musik"-nya dari sang ibu, seorang pemain piano yang biasa memainkan musik klasik.

"Saya bangga mempunyai ibu seperti itu, yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mendalami bidang yang saya senangi," ujar Botti, sambil menambahkan bahwa selain berguru kepada sang ibu, ia juga belajar kepada sejumlah guru musik terkemuka di AS, seperti Profesor Bill Adam dan Dave Baker, serta dengan seorang "master" terompet Woody Shaw, saat Botti pindah ke New York.

Botti mengakui, karena mengejar cita-citanya sebagai pemusik profesional, ia tak sempat menamatkan pendidikan formalnya. Namun kepada seorang gadis muda yang menjadi undangan dalam konser mininya, Botti meminta sang gadis tetap berada di bangku sekolah dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik. "Biar bagaimanapun, sekolah penting karena mendidik kita dalam banyak hal," ujarnya.

Frank Sinatra

Saat di panggung konser mininya, Botti bercerita di awal kariernya, ia mencoba tampil di Universal Amphitheater di Los Angeles, AS. Bersama sebuah kelompok band, Botti mencoba memainkan lagu Fly Me to Moon, dalam acara yang juga dihadiri penyanyi legendaris Frank Sinatra yang tenar antara lain dengan lagu Fly Me to Moon tersebut.

Botti mengakui penampilannya sangat buruk, sehingga sampai saat ini ia tak mau lagi memainkan lagu itu. Namun, di tengah-tengah penampilannya itu, Botti sempat bermain terompet secara solo. Frank Sinatra terkagum-kagum dengan tiupan terompet Botti, dan pada akhir pertunjukan, musisi legendaris itu memuji Botti yang saat itu masih sangat muda usianya, "Nice solo, Kid!"

Ucapan pujian itu, walaupun pendek, masih diingat Botti sampai saat ini. Pujian itu merupakan pemacu untuk meneruskan kariernya di dunia musik. Hasilnya, kini Botti selain pernah menerima sertifikat emas dari Recording Industry Association America (RIAA) untuk albumnya, When I Fall in Love dan To Love Again, komposisi musiknya yang berjudul What Are You Doing In The Rest of Your Live, meraih Grammy Award. Lagunya yang dinyanyikan oleh Sting itu, memperoleh penghargan Grammy untuk kategori Aransemen Instrumental Terbaik dengan Vokal.

Botti yang telah bermain musik dan merekam lagu dengan sejumlah penyanyi dan musisi terkenal, mulai dari Sting, Frank Sinatra, Dean Martin, Chaka Khan, Andrea Bocelli, Josh Groban, Dave Koz, Paul Simon, Rod Stewart, sampai Lee Ritenour, sampai saat ini telah meluncurkan sepuluh album. Dimulai dengan First Wish pada 1995, lalu Midnight Without You (1997), Slowing Down the World (1999), Night Session (2001), The Very Best of Chris Botti (2002), December (2002), A Thousand Kisses Deep (2003), When I Fall in Love (2004), To Love Again (2005), dan yang terbaru, Italia (2007).

Dalam albumnya terbaru, Italia, yang kini juga sudah beredar di Jakarta, Botti bermain terompet mengiringi lagu yang dinyanyikan penyanyi sopran terkenal, Andrea Bocelli. Lagu itu mendapat pujian dan sambutan hangat para kritikus musik, termasuk para kritikus musik yang biasa memberikan komentar-komentar "pedas" terhadap suatu lagu.

Botti dianggap pemain terompet nomor satu di dunia saat ini. Namun, menanggapi pujian itu, ia justru merendah. Saat SP memuji lagunya dari album Italia itu, Botti justru mengatakan yang membuat lagu itu bagus karena ada suara Andrea Bocelli. "Ia penyanyi yang sangat hebat, kemampuannya mendaki nada tinggi maupun menyanyikan nada rendah, sungguh luar biasa," kata Botti.

Begitu pula ketika pada akhir konser mininya seluruh undangan memberikan standing ovation, tepuk tangan panjang sambil berdiri, Botti justru menunjuk kepada pemain piano yang mengiringi tiupan terompetnya. "Tanpa dia saya tak bisa bermain baik," ujarnya merendah.

Sikap merendah dan ramah nyata dari Chris Botti, yang juga merupakan salah satu kunci kesuksesan orang terkenal. [SP/Berthold Sinaulan]


Last modified: 16/5/08