Budaya di Indonesia yang tidak terlalu berpihak pada perempuan menjadi sebuah tantangan lain.

SP/Adi Marsiela
Mahasiswi Seni Grafis ITB menjelaskan perbedaan dan hasil dari cara mem- buat karya grafis kepada siswa SMAN 4 Denpasar.

elaki telanjang itu berdiri tegap tanpa ada yang menutupi polos tubuhnya. Tanpa malu, dia menyambut setiap orang yang masuk ke dalam ruangan Rotunda di tengah-tengah Museum Nasional Singapura. David, demikian patung dari fiberglas setinggi 8,5 meter itu dinamakan. Seluruh bagian tubuhnya dilapisi brokat buatan tangan berwarna merah dengan motif bunga dan dedaunan. Biasanya, bahan yang sama digunakan untuk membuat kebaya.
Patung serupa dalam ukuran yang lebih kecil, buatan Michael Angelo menjadi inspirasi untuk karya ini. Titarubi, perupanya, memberi judul karya itu dengan sebutan "Surrounding David". Patung ini dipamerkan semenjak 6 Maret hingga 11 Agustus 2008 nanti. Buat Tita, sapaan akrab dia, patung itu sebagai bentuk perlawanannya terhadap cara pandang lelaki terhadap perempuan di belahan Asia pada umumnya yang merendahkan kaumnya.
Dia juga mempertimbangkan pendapat Freud tentang alat kelamin pria serta membayangkan reaksi dari hasrat ekonomi yang menjauh, di mana kepuasan pria adalah yang terpenting. Dialog semacam ini penting. Pasalnya, tidak ada yang dapat menolong perempuan selain perempuan itu sendiri. Sebagai seorang perempuan perupa, Tita sudah mampu keluar dari 'kewanitaannya'. Setidaknya, itu yang disampaikan oleh rekan kuliah Tita, Ira Adriati Winarno, yang juga penulis buku "Mencari Perempuan Perupa Dunia."
Usaha Keras
Sayangnya, tidak banyak perempuan yang kemudian memilih jalur ini sebagai cara menumpahkan perasaannya. "Untuk menjadi seniman, perempuan perlu usaha lebih keras dibandingkan lelaki," papar Ira. Padahal, kata dosen program master di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, perempuan bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dalam bidang akademik.
"Semuanya berkesempatan sama di kampus. Karena dalam dunia seni yang menarik adalah originalitas. Hanya pada saat berkeluarga, perempuan lebih cenderung mengutamakan kehidupan keluarga. Itu semua ada fasenya," ungkap ibu dari dua orang anak ini. Arahmaiani, perempuan perupa lainnya,
mengaku hanya melandaskan pilihannya menjadi seniman kepada keyakinan.Meski demikian, bukan berarti langkahnya mulus-mulus saja. Banyak tantangan yang harus dijawabnya, mulai dari masalah dengan diri sendiri, rekan-rekan, dan juga keluarga.
Buat dia, budaya di Indonesia yang tidak terlalu berpihak pada perempuan menjadi sebuah tantangan lain. "Masyarakat kita kan patriakis. Dominasi maskulin sangat terasa diberbagai hal," kata Arahmaiani dalam surat elektroniknya kepada SP. Perempuan yang tengah bermukim di Yogya ini juga mengungkapkan tantangan lain datang dari dalam dunia seni sendiri. Maskulinitas menjadi penghalangnya, baik di dalam maupun luar negeri. "Seniman perempuan cenderung dianggap kurang serius dan dimarjinalisasi."
Untuk mengatasinya, Arahmaiani memilih untuk melawannya dengan akal dan budi serta kerja keras dalam menghasilkan karya. Perlawanannya terlihat dalam karyanya yang berjudul "Etalase" (1994-1997). Karya itu termasuk yang kontroversial karena memasukkan lambang-lambang agama sejajar dengan sekaleng cola dan kondom.
Bukan bermaksud merendahkan agama, tetapi justru melemparkan kritik dan peringatan bahwa masyarakat beragama menjadi lupa tentang ajarannya.
Belum lagi karyanya berjudul "Dayang Sumbi" yang mengambil tokoh perempuan dalam legenda Sunda sebagai ikon subordinasitas kaumnya. Dalam karya itu, dia memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan ratusan penonton. Dia kemudian membuka kebayanya dengan hanya menyisakan sarung, stagen, dan bra. Dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak mereka dengan menggunakan tiga spidol besar.
Dalam karya ini, dia "menyuguhkan" tubuhnya sebagai "medium" bagi penonton untuk memikirkan kembali arti ketelanjangan dan seksualitas tubuh perempuan.

Tak Banyak
Sayangnya, jumlah perempuan yang kemudian memilih profesi ini tidak banyak. Kalau pun ada, tantangannya tidaklah mudah. Dekan FSRD ITB, Biranul Anas mengungkapkan pihaknya sama sekali tidak pernah membatasi perempuan yang mengenyam pendidikan di tempatnya.
Seperti diketahui, kampus pencetak seniman ini merupakan yang pertama di Indonesia. Mereka mengalami perkembangan semenjak pertama didirikan pada 1 Agustus 1947 sebagai Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar.
"Tidak ada kampus seni rupa yang tidak terkait dengan seni rupa ITB, minimal dosennya pernah kuliah di sini," tutur dia.
Saat ini, sambungnya, dengan ITB memiliki lima program studi, masing-masing seni rupa, desain interior, desain produk, desain komunikasi visual, dan kriya. Menurut dia, semenjak 10 tahun lalu, jumlah calon mahasiswa yang mendaftar ke sini selalu konstan. "Masih banyak peminatnya. Dua hingga tiga ribu orang. Namun, tempat yang tersedia hanya 200 saja. Kami mengutamakan konsep, makanya kami unggul."
Menyoal dunia kampus, Arahmaiani menuturkan pendidikan seni rupa saja tidaklah cukup. Pasalnya, mahasiswa harus memahami banyak hal yang tidak bisa dipenuhi oleh kampus. Misalnya pengetahuan manajemen seni, globalisasi, ataupun politik. Jadi butuh dosen-dosen yang kompeten. Perkara berkarya pada zaman sekarang tidak sederhana. Menjadi seniman pada era globalisasi ini juga tanggung jawabnya tidak enteng, tegas Arahmaiani.
Dyah Sartika (24), salah seorang mahasiswa seni keramik FSRD ITB mengatakan seusai kuliahnya rampung, dia tidak lebih memilih untuk menjadi seorang seniman.
Perempuan asal Jakarta ini merasa lebih tertantang untuk bisa memberikan pengenalan tentang seni kepada anak-anak lewat ilmu yang didapatnya. Ingin buka semacam workshop keramik untuk anak-anak, jadi bisa mengenalkannya secara dini, ujar dia kepada SP, sembari menyelesaikan tugas akhirnya membuat bulu-bulu unggas dari tanah liat [SP/Adi Marsiela]