
Oleh Dodiek Adyttya Dwiwanto
** missed drop char **Aku dan Adinda ke kolam renang. Kamu ke restoran 'kan?" Reza mengiyakan pertanyaan Siska. Ia mengeluarkan barang-barang keperluan istri dan anaknya, kemudian mengunci pintu dan menuju restoran di samping kolam renang.
Sudah puluhan kali sejak kolam renang ini dibuka, Reza mengajak Siska dan Adinda ke tempat ini. Yang mengajak pertama kali sudah tentu Siska yang mengetahui tempat ini dari temannya. "Tempatnya bagus. Berenang di kolam renang yang letaknya di kaki bukit. Sambil berenang, bisa melihat pemandangan alam."
Reza manut saja. Setiap bulan di minggu ketiga atau keempat, ia mengantarkan Siska dan Adinda untuk berenang. Sudah pasti Reza tidak ikut. Ia tidak terlalu suka berenang. Ia lebih suka olahraga yang mengeluarkan keringat seperti main squash atau tenis. Hanya sesekali kalau Adinda merengek minta ditemani ayahnya, Reza akan ikut. Kalau tidak, ia tak akan pernah mau bermain air.
Restoran bersisian dengan kolam renang. Sekelilingnya berupa kaca sehingga orang bisa menikmati pemandangan ke segala penjuru mata angin. Bisa melihat ke pegunungan di atas sana atau jurang di seberang sana. Atau bisa juga melihat jejeran pohon cemara yang terlihat tersusun rapi di ujung sana.
Salah satu sudut restoran ini menjadi favorit Reza. Sebelum datang, ia terlebih dahulu melakukan reservasi agar tempat yang ia sukai tidak diduduki pelanggan lain. Ia bisa melihat pemandangan sekaligus bisa mengawasi Siska dan Adinda berenang.
"Silakan, pak. Pesanan yang biasa?"
Reza menggeleng. Ia melihat buku menu yang ada di meja. Pelayan menunggu pesanan dari Reza.
"Saya pesan orange juice, French fries, dan chicken burger," ujar Reza seraya melihat buku menu meski sebenarnya tidak perlu.
"Sepuluh menit. Silakan menunggu, pak."
"Terima kasih."
Penjelajahan di dunia maya segera dimulai. Reza segera membuka notebook, menyalakan, dan memulai melihat situs-situs kegemarannya. Beberapa situs dibukanya sekaligus.
Ia melirik ke kaca. Ia melihat Adinda sedang bersenang-senang bersama Siska. Ada beberapa perempuan muda, remaja, dan juga anak-anak yang ikut bergabung. Ini yang membuatnya kadang malas untuk berenang di sini. Terlalu banyak anak-anak dan remaja berenang. Terlalu berisik, kilah Reza saat ditanya Siska kenapa ia enggan berenang di sini.
Pesanan Reza datang. Ia hanya sempat mengucapkan terima kasih dan terus menatap layar notebook-nya. Banyak berita penting di internet yang harus ia tahu. Apalagi besok hari Senin, biasanya rapat di kantor untuk membahas masalah yang sedang hangat. Siapa tahu ada kasus yang berkenaan dengan perusahaan yang mesti dijelaskan duduk perkaranya kepada publik. Itu sudah menjadi tanggungjawab Reza sebagai manajer humas.
Reza terus menatap layar notebook-nya. Sesekali tangannya iseng mencomot kentang goreng. Chicken burger itu dibiarkan dingin begitu saja. Kalau sudah lapar, biasanya baru disantap. Sesekali juga orange juice diminumnya.
Sebuah situs dibuka Reza. Ia juga mengakhiri yang sudah tidak perlu lagi. Ia sempat melayangkan pandangan ke kolam renang. Siska sedang bermain bola di kolam. Adinda malah duduk di tepi seraya minum Coca Cola. Reza tertawa sendiri, senang melihat mereka bahagia.
Ia masih asyik menjelajahi dunia. Tidak memedulikan keadaan restoran yang makin ramai. Anak-anak yang berkejaran. Ibu-ibu yang ngerumpi. Bapak-bapak yang sibuk menambah pesanan. Lelaki yang sedang membayar pesanan. Perempuan yang menyuruh putranya untuk cuci tangan. Sepasang remaja yang sedang berpegangan tangan seraya saling mengobral janji. Semua tidak diperhatikan oleh Reza yang terus asyik dengan dunianya sendiri. Begitu juga saat seorang perempuan cantik bersama anak lelaki masuk dan melihat sekeliling mencari tempat yang kosong. Tidak ada lagi tempat. Kecuali meja Reza yang hanya dihuni satu orang saja. Perempuan itu sempat terperanjat. Tapi, tak ada yang peduli dengannya. Orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Perempuan itu mendekati meja Reza dan membiarkan anak lelakinya memesan makanan secara mandiri. Ia menyapa. "Sayang juga kalau chicken burger itu dibiarkan dingin."
Reza terhenyak. Suara itu!
"Saya tidak dipersilakan duduk?"
Reza belum sempat menjawab dan mempersilahkan perempuan itu duduk.
"Sudah lama sekali, bukan?"
Reza mengangguk. "Sudah sangat lama, Diandra."
Perempuan cantik itu tersenyum. "Berapa lama?"
"Sepuluh tahun!"
Diandra menunjukkan jempolnya. "Good."
Reza menutup akses internetnya, tapi ia tidak mematikan notebook-nya. Ia juga berupaya menenangkan hati dan pikiran.
"Sibuk? Akhir pekan tetap bekerja, bapak Reza?"
"Maklum budak uang."
Diandra tersenyum manis.
"Kok, ada di sini?" tanya Reza basa-basi.
"Rumahku ada di dekat sini," ujar Diandra seraya menyebutkan sebuah nama perumahan mewah di kaki bukit, tidak jauh dari sini. Hanya sekitar dua tiga kilometer saja.
Mulut Reza membentuk huruf "o".
"Tiap bulan di pekan ketiga atau keempat, Reza sekeluarga selalu mampir ke sini. Lovely wife and beautiful daughter."
Reza terperanjat.
"Aku sering melihat kamu ke sini. Tidak pernah berenang. Kamu selalu duduk di tempat yang sama. Membawa laptop. Mungkin bekerja atau sekadar browsing. Memesan orange juice, tetapi aku tidak tahu kamu memakan apa. Tidak kelihatan dari jauh," papar Diandra. Reza masih kaget.
"By the way orange juice? Sejak kuliah? Sejak pertama kali kerja di Bali? Orange juice? Tidak ada minuman lain? Tidak mungkin Reza tidak punya uang 'kan?" seloroh Diandra.
Reza tertawa.
"Aku sering ke sini. Kebetulan dekat rumah. Makanya, aku sering melihat kamu. Pertama masih kaget. Aku ingin menegur, tetapi waktu itu aku hanya mampir saja. Sebulan kemudian, lho kok ada lagi. Begitu juga bulan depan. Pertama kali melihat kalau tidak salah empat lima bulan yang lalu."
"Kenapa tidak menegur?" tanya Reza.
"Aku lebih sering lewat saja. Aku bisa melihatmu dari luar. Seorang lelaki dengan notebook-nya. Aku juga melihat mobilmu," jawab Diandra seraya menyebutkan merek, warna, dan nomor pelatnya sekaligus.
Reza menggelengkan kepala.
Diandra melihat ke luar ke arah parkir. Seorang lelaki berumur dan seorang gadis kecil sedang bercengkerama. Ia melambaikan tangan.
"Your husband?"
Diandra mengangguk.
"Your daughter?"
Diandra menggeleng. "Gadis itu kemenakan kakakku. Masih ingat dengan mbak Sandra? Itu putri bungsunya!"
Reza mencoba mengingat kakak perempuan Diandra, tapi memang tidak semudah itu kalau sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bersua.
"Gadis kecilmu mirip sekali dengan istrimu? Foto kopi di mana?" canda Diandra.
Reza tertawa lagi. Diandra memang begitu. Perempuan yang pernah mengisi hatinya itu punya sense of humor yang tinggi. Seleranya terlalu tinggi, sulit untuk mengalahkan kalau ingin bercanda dengannya.
"Berapa umurnya?"
"Tujuh."
"Hmm, sepuluh tahun lagi mekar menjadi bunga. Hati-hati bapak Reza. Siap-siap pasang tampang galak menghadapi sederetan kumbang-kumbang yang mau mendekat."Reza tersenyum.
Seorang bocah lelaki mendekat ke meja Reza. "Mam, sudah selesai. Kita pulang, yuk."
"Sebentar ya, sayang. Kenalan dulu sama Om Reza."
Bocah itu mengulurkan tangannya. "Dino."
"Tunggu di mobil ya?"
Bocah itu mengangguk dan berlalu.
"Your son?" tanya Reza.
Diandra menunjuk dirinya sendiri dan menggeleng.
"Kemenakan juga?"
Diandra menggeleng. "He's our son!"
Reza terperanjat. Minuman orange juice itu tersenggol dan tumpah sebagian. Diandra segera membantu Reza membersihkan agar tidak mengenai notebook Reza. Tapi, kemudian Reza tersenyum. Pasti canda baru gaya Diandra!
"Aku tidak bercanda!" tegas Diandra. Reza mengernyitkan dahi.
"Aku serius. Benar-benar serius."
Reza menatap Diandra lekat.
"Aku mengatakan yang sejujurnya kalau Dino adalah anak kita."
Reza menelan ludah.
"Tenang saja. Aku tidak pernah mau mengganggu keluargamu. Aku hamil setelah kejadian malam itu di Bandung. Saat itu, kamu mau ujian S-2 dan juga akan bertunangan dengan istrimu sekarang."
Reza terdiam. Bungkam. Pikirannya langsung melayang ke masa sepuluh tahun lalu. Ketika ia dan Diandra secara tidak sengaja malah bercinta lantaran iseng didera dinginnya udara kota Bandung. Keisengan yang ternyata berbuah hal yang tidak akan pernah disangkanya.
"Aku tidak mau merusak masa depanmu. Tapi, aku juga tidak mau anak dalam kandunganku tidak memiliki ayah. Jadi aku meminta Aldi untuk menikahiku segera. Kemudian lahir Dino."
Reza sedikit kebingungan. Diandra menikah dengan Aldi? Ia kenal dengan Aldi yang notabene pacar Diandra sepuluh tahun lampau, apalagi Aldi dan Reza juga berteman baik saat SMU dulu. Lantas lelaki yang hampir paruh baya itu suaminya? Ke mana Aldi? Apakah Diandra dan Aldi bercerai lantaran anak itu bukan darah daging Aldi?
"Kamu pasti bingung 'kan? Aldi meninggal lima tahun lalu. Aku baru menikah lagi dua tahun kemudian. Kami belum dikaruniai anak, tetapi setidaknya sudah ada Dino."
"Aldi tahu hal ini?" tanya Reza dengan suara tertahan. Ia seperti api dalam sekam bagi temannya yang sudah almarhum itu.
Diandra menggeleng. "Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah tahu. Aku tidak tega mengatakannya. Tetapi, sepertinya ia tahu. Banyak hal yang tidak sesuai antara aku, Aldi, dan Dino. Ada missing link. Tanpa perlu tes DNA, orang juga akan tahu. Ia sendiri mungkin ingin bertanya, tapi tidak pernah ia lakukan. Mungkin ia membiarkan hal itu jadi rahasiaku saja."
Reza mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap Diandra.
"Santai saja. Read my lips. Aku tidak akan pernah mengganggu keluargamu."
"Tapi kenapa baru sekarang?"
"Mungkin waktunya sudah tepat. Lagi pula ini sekadar tahu saja bagimu. By the way, istri dan anakmu sudah selesai berenang. Aku juga harus pergi. Bye, see you around," ujar Diandra dengan santai menutup percakapan dan menaruh kartu nama di meja.
Reza juga bangkit dari tempat duduknya seraya membawa notebook. Chicken burger ditinggalkan begitu saja tanpa digigit barang sedikit pun. Sisa orange juice mengotori meja.
Ia menyapa Siska dan Adinda, kemudian membukakan pintu. "Tidak makan dulu?"
Adinda menggeleng. "Kita makan di rumah eyang saja."
Dari kejauhan, Diandra dan Dino melambaikan tangan. Suami Diandra juga terlihat. Hanya kemenakan perempuan Diandra yang sudah masuk ke mobil.
"Teman mas?"
Reza mengangguk.
"Itu suaminya?"
Reza menggangguk lagi.
"Itu putranya? Ganteng juga?"
Reza bingung mau menjawabnya. Ia salah tingkah. Ia juga gugup. Itu memang putra Diandra, tetapi lebih dari itu. Dino juga putranya! Anaknya. Darah dagingnya sendiri! Kakak lelaki Adinda!
"Ibunya cantik, putranya cakep," komentar Siska lagi.
Reza tidak menjawab. Ia hanya tidak bisa membayangkan selama sepuluh tahun ini Diandra menyembunyikan rahasia itu? Benar-benar perempuan yang luar biasa!
Taman Safari Indonesia,
Cisarua, 15 Oktober 2007 -
Bukit Duri, Jakarta Selatan