
esuksesan film yang mengangkat kecintaan terhadap bangsa Indonesia dengan versi era milenium, Nagabonar Jadi 2 memotivasi seorang aktor kawakan Indonesia, Deddy Mizwar untuk menggelindingkan kembali film Nagabonar yang sukses pada tahun 1986 ke bioskop-bioskop di seluruh Tanah Air. Film Nagabonar sudah beredar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia sejak Kamis (8/5.)
Film Nagabonar Jadi 2 mengetengahkan perjuangan Naga Bonar bersama anaknya Bonaga (Tora Sudiro) agar bangsa ini menghormati jasa-jasa pahlawan serta tidak begitu saja menerima kebudayaan asing pada zaman modern. Sebaliknya, film Nagabonar mengangkat perjuangan para pejuang yang dipimpin mantan pencopet yang menjadi jenderal (Naga Bonar) melawan penjajah Jepang dan Belanda pascakemerdakaan RI tahun 1945.
Membutuhkan kerja keras secara tim untuk bisa mengembalikan gambar-gambar pada film Nagabonar yang naskahnya ditulis oleh Asrul Sani tersebut. Selama tiga bulan lebih dan bekerja 2 x 24 jam dengan sistem tiga kali pergantian pekerja (shift), Deddy Mizwar dan kawan-kawan harus membersihkan sebanyak 144.000 film negatif Nagabonar yang selama 22 tahun disimpan di Cinematek.
"Semenjak beredarnya film Nagabonar Jadi 2, terus terang, saya selalu keliling kampus-kampus di Indonesia. Dari situ, saya merasakan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar haus akan film-film bertema seperti ini. Film-film yang mengangkat kecintaan seseorang terhadap Tanah Airnya. Untuk itulah, saya membentuk tim untuk bisa mengembalikan film Naga Bonar kembali ke tengah-tengah masyarakat Indonesia di zaman sekarang ini," kata Deddy Mizwar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (6/5).
Didampingi para pemain Naga Bonar seperti Nurul Arifin yang memerankan tokoh Kirana dan Roldiah Matulessy yang berperan sebagai ibunya Jenderal Nagabonar, Deddy yang juga pimpinan PT Demi Gisela Sinema ini menambahkan, hal-hal lainnya yang membuat dirinya terdorong untuk mengedarkan kembali film Nagabonar adalah karena belakangan ini jarang ada film yang mengangkat mengenai perjuangan bangsa Indonesia di zaman penjajahan.
"Bahkan, menjelang seabad (100 tahun) Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh tanggal 20 Mei nanti, tidak ada film-film perjuangan. Nah, melalui film yang hampir rusak inilah saya coba selamatkan untuk kemudian saya kembali sebarkan ke masyarakat lewat bioskop-bioskop. Menurut saya, Nagabonar layak untuk dijadikan master agar bisa bertahan lama dan demi anak-cucu kita pada masa mendatang," ujar dia.
Sutradara Nagabonar Jadi 2 ini juga menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia yang plural dan masyarakatnya majemuk harus disuguhkan film-film yang temanya beradab. Diilhami oleh Nagabonar karya Asrul Sani dan Nagabonar Jadi 2 karyanya sendiri, Deddy menilai bahwa sudah saatnya manusia Indonesia melihat negerinya ini dengan hati atau cinta, dan tidak dengan permusuhan.
Mengenai hasil kinerjanya selama tiga bulan dalam mendaur ulang film Nagabonar, Deddy menjelaskan, tentunya dengan sentuhan teknologi, hasilnya menjadi lebih baik. Selain kualitas gambar atau warnanya lebih tajam, suaranya pun juga lebih jernih dan jelas karena mendapat sen- tuhan dolby digital.
Tidak ada yang berubah dalam film yang berdurasi 95 menit ini. Perubahan mendasar terletak pada suara. "Memang, para pemain terpaksa melakukan pengisian suara ulang (dubbing). Inilah faktor kesulitan yang tinggi, namun bisa kami lewati bersama," kata Deddy.
Sementara itu, Nurul Arifin menjelaskan, film Nagabonar adalah bagian dari sebuah perjuangan, karena film Naga Bonar berangkat dari sebuah idealisme.
"Semangat idealisme yang ada pada film inilah yang menyebar ke seluruh pemain sehingga menjadi bersemangat, meskipun kami sering rugi untuk ongkos Jakarta ke Bandung yang menjadi lokasi syutingnya. Yang pasti, film ini berbicara sesuatu yang lain," ujar Nurul.
Penayangan kembali film Naga Bonar pada hari Selasa (6/5) malam di Planet Hollywood, Jakarta, cukup mengundang perhatian para pejabat negara seperti Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie, Prabowo Subianto, Amin Rais, dan lain-lain. [F-4]