
Sabam Siagian
enin (5/5) siang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang para redaktur dan pemilik media makan siang bersama di Istana Negara. Istilah "pemilik media" akhir-akhir ini muncul dalam undangan untuk menghadiri pertemuan resmi. Apakah hal ini berarti bahwa semangat kapitalisme diakui kenyataannya dalam era Reformasi ini?
Presiden membicarakan dua hal dalam sambutannya sebelum acara makan siang dimulai. Seperti diduga, ia uraikan permasalahan sekitar kenaikan harga BBM dan harga pangan. Keterangan itu telah diketahui masyarakat karena telah disampaikan oleh sejumlah menteri, anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Bedanya, sekali ini Presiden maju setapak lagi. Katanya, soal kenaikan sudah dapat dipastikan akan terjadi. Soalnya, berapa dan saat yang tepat untuk diberlakukan.
Gaya Presiden yang serba hati-hati dan maju setapak demi setapak dalam mengambil sebuah keputusan penting agaknya sudah dipahami masyarakat. Di meja sebelah terdengar beberapa rekan bisik-bisik: "Susilo 'Bimbang' Yudhoyono...." Maklumlah wartawan, lidah usilnya sulit dikekang.
Masalah kedua yang menarik perhatian saya, ketika Presiden bahas rencana peringatan "Satu Abad Kebangkitan Nasional". Klimaksnya diacarakan pada 20 Mei nanti di Gelora Bung Karno (Stadion Senayan) di Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono melihatnya "Sebagai satu tonggak supaya bangsa ini lebih bersatu - sangat penting bagi bangsa yang besar untuk reposisi supaya dapat lebih maju".
Tampaknya, Presiden mengharapkan suatu visi baru menatap masa depan akan muncul dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Ia minta bantuan komunitas media massa sambil menandaskan betapa pentingnya membina "generasi muda yang cerdas dan kreatif".
Sedari awal ketika slogan "Seabad Kebangkitan Nasional" dicetuskan, saya skeptis tentang manfaat meramaikan suatu peristiwa seratus tahun lalu. Tambah semarak berbagai rencana peringatan disebar-luaskan, lebih tenggelam lagi peristiwa orisinalnya dalam keramaian yang dikembangkan.
*
Agaknya, peristiwa 20 Mei 1908 ketika organisasi kebudayaan Boedi Oetomo didirikan di Batavia (Jakarta) oleh sekelompok "dokter Jawa" muda hanya dimanfaatkan saja tanpa mempelajari secara mendalam makna kesejarahannya.
Ketika dokter Wahidin Soedirohoesodo dan dokter Soetomo memprakarsai berdirinya sebuah organisasi untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur dalam budaya Jawa, semangat nasionalisme agaknya masih samar-samar dalam diri mereka.
Karena itu, seorang sejarawan Jepang yang meneliti secara mendalam kelahiran dan tahap awal Boedi Oetomo menganggap tahun 1908 dan tahun-tahun seterusnya sebagai "fajar" nasionalisme Indonesia. Judul karya Dr. Akira Nagazumi yang dalam bentuk aslinya merupakan disertasi sejarah politik di Universitas Cornell, AS, sebagai berikut: The Dawn of Indonesian Nationalism - The Early Years of The Boedi Oetomo ( Tokyo 1974).
Memperingati kelahiran Boedi Oetomo sebenarnya dirintis oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta (ibu kota perjuangan RI) mulai 1946. Pada setiap tanggal 20 Mei diselenggarakan pertemuan di Gedung Negara (Istana Presiden, dulunya kediaman dinas residen Belanda) yang didominasi oleh ceramah Bung Karno. Ia membahas makna kesejarahan Boedi Oetomo dan berspekulasi bahwa kemenangan angkatan laut Jepang (sebuah negara Asia) yang mengalahkan angkatan laut Rusia (negara orang kulit putih) pada 1904 di Selat Tsushima (Korea) mungkin ada pengaruhnya.
Maksudnya, kemenangan sebuah bangsa Asia itu agaknya telah menggetarkan benih-benih rasa kebangsaan di kalangan terpelajar Indonesia di Batavia (Jakarta).
Namun, tidak begitu akurat kalau berdirinya sebuah perkumpulan kaum terpelajar Jawa yang mementingkan kelestarian budaya Jawa dinyatakan sebagai awal dari kebangkitan nasional.
Apakah dalam kaitan ini, perasaan dan pandangan bangsa Indonesia di luar Pulau Jawa telah diperhitungkan. Mereka mungkin mempunyai kerangka referensi kesejarahan yang lain.
Pidato pembelaan Ir Soekarno pada Agustus 1930 di pengadilan di Bandung (ia ditahan karena sebagai aktivis politik dianggap membahayakan ketenteraman umum) yang berjudul "Indonesia Menggugat!" (aslinya dalam bahasa Belanda: "Indonesia Klaagt Aan!") mungkin merupakan peristiwa yang lebih tepat diperingati dalam rangka Kebangkitan Nasional.
*
Bagaimanapun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memutuskan untuk menyelenggarakan rentetan acara dalam rangka Peringatan Seabad Kebangkitan Nasional.
Usaha untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan ke Indonesia juga dikaitkan dengan slogan Seabad Kebangkitan Nasional. Apa logikanya, tidaklah begitu jelas.
Kalau toh Seabad Kebangkitan Nasional mulai 20 Mei akan datang ingin diperingati - meskipun tanpa landasan pemahaman sejarah yang mantap - kenapa tidak memilih sebuah proyek yang manfaatnya mencakup sampai beberapa generasi mendatang?
Umpamanya, perluasan Perpustakaan Nasional yang sekarang berlokasi di daerah Matraman. Indonesia patut memiliki gedung Perpustakaan Nasional yang megah, lengkap dengan ruang baca yang luas, dengan kamar-kamar khusus untuk para peneliti, sistem katalog yang digital di lokasi yang serba tenang.
Dapat juga dipikirkan menambah fasilitas Museum Nasional dengan ruang-ruang khusus untuk menggambarkan tahap-tahap dari sejarah modern Indonesia sejak para pedagang Belanda tiba di Teluk Banten pada pertengahan abad ke-17.
Sebenarnya, sudah lama dipertimbangkan untuk memindahkan Departemen Pertahanan ke lokasi baru, mungkin di sekitar Cilangkap. Dengan demikian, gedung yang sekarang dapat berfungsi sebagai tambahan baru dari Museum Nasional. Karena perlu juga disediakan pelataran parkir yang cukup luas untuk bus-bus yang mengangkut para pelajar ataupun pengunjung dari daerah.
Tentunya masih ada beberapa proyek lainnya yang dapat dirancang dengan manfaat tinggi untuk mengembangkan kontinuitas kesadaran nasional dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Proyek-proyek seperti yang disebut tadi mungkin kurang menarik dari sudut humas dan memerlukan perencanaan yang matang.
Sedangkan berbagai mata acara yang dipersiapkan sehubungan dengan peringatan Seabad Kebangkitan Nasional, kalau tidak dikelola secara tepat, mudah dialihkan menjadi semacam kampanye terselubung sebagai pemanasan menuju Pemilu 2009.
Penulis adalah pengamat perkembangan nasional