SUARA PEMBARUAN DAILY

Parpol Besar Tak Bawa Harapan

[JAKARTA] Larinya suara pemilih dalam pilkada di Jabar dan Sumut menunjukkan adanya kekecewaan yang sangat besar dari pemilih terhadap partai politik (parpol) besar. Pemilih tidak yakin dengan calon yang diajukan parpol besar sebab tidak membawa harapan baru yang dinantikan rakyat.

Demikian dikemukakan pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit kepada SP di Jakarta, Selasa (22/4). Hal lain yang bisa ditarik, lanjut Arbi, parpol telah melakukan kesalahan besar dalam strategi politiknya. Parpol mulai abai membangun kepercayaan pemilih sehingga tidak sanggup menilai selera publik.

"Sebagai contoh, parpol besar mengunggulkan sosok militer, padahal rakyat mau sosok sipil. Kepentingan pemilih jelas tidak diperhatikan. Parpol sudah salah melangkah untuk ini. Fenomena yang demikian bukan dikategorikan massa mengambang. Ketika masyarakat tidak menggunakan hak pilih, itu lebih disebabkan pemilih mulai berani menunjukkan rasa kekecewaan mereka," kata Arbi.

Menurutnya, kepemimpinan terbuka, cerdas, mengerti, dan paham harapan rakyat adalah wujud konkret perjuangan bagi rakyatnya. Dalam demokrasi, minimal rakyat yang menentukan pemimpin bukan parpol, yang justru merampok kebijakan rakyat dengan bertarung mempertahankan nomor urut yang ujungnya hanya berorientasi pada kepentingan parpol semata.

Arbi menyarankan langkah cepat yang bisa dilakukan untuk mempertahankan suara menjelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden adalah membangun kembali kepercayaan dan ideologi.

Sekjen PDI-P Pramono Anung mengatakan suara pemilih partainya lari pada pilkada di Jabar dan Sumut jangan lantas digeneralisasi sebagai sebuah kekalahan. "Secara nasional pilkada yang telah digelar di 10 provinsi menunjukkan perolehan suara yang tinggi. Meski di Pilkada Sumut calon PDI-P kalah, perlu dilihat bahwa pada pemilu legislatif lalu kami mendapat 15 persen suara, sementara pada pilkada kami meraih 23 persen suara atau naik delapan persen. Kalau kalah dalam dua pilkada, itu realitas yang harus dihadapi," katanya.

PDI-P tengah mengevaluasi hasil pilkada di Jabar dan Sumut itu, karena sebelumnya banyak survei yang menyatakan kalau figur lama tidak lagi diminati pemilih. Untuk meraih dan mempertahankan suara pada Pemilu 2009, PDI-P akan terus berkonsentrasi lewat pendekatan kepada pemilih tradisional dan menata basis dukungan lewat pendirian organisasi sayap guna menarik simpati massa.

Berlebihan

Pengamat politik Andrinof Chaniago mengatakan kemenangan figur yang tidak diunggulkan dalam pilkada merupakan fenomena yang harus diwaspadai oleh partai besar. Kekuatan besar telah terjebak dalam optimisme atau percaya diri yang berlebihan, sehingga terlena dan tidak menjalankan konsolidasi dengan baik.

Faktor lainnya, kata dia, masyarakat telah jenuh dengan status quo dan nama-nama besar, karena di satu sisi masyarakat sudah mengetahui kinerja nama-nama besar tersebut. "Nama besar dan koalisi besar belum tentu menjadi jaminan untuk dipilih rakyat," kata dia.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Pembaruan Bangsa (DPN PPB) Engelina Pattiasina mengakui hasil pilkada di Jabar dan Sumut adalah sesuatu yang wajar, karena merupakan rangkaian dari reformasi. Mantan anggota DPR itu menilai masyarakat telah melihat apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh reformasi justru tidak membawa angin perubahan.

Dia merasa yakin, hasil dua pilkada, Jabar dan Sumut, akan berdampak pada pemilihan presiden 2009, di mana rakyat membutuhkan tokoh baru yang bersih dan bisa dipercaya. "Rakyat sudah belajar selama sepuluh tahun masa transisi ini.

Karena itu, tidak mengherankan jika mereka kecewa dan menginginkan tokoh baru yang bisa membawa perubahan dengan baik," tegas dia. [ASR/M-16]


Last modified: 23/4/08