
[JAKARTA] Filipina diduga menjadi tujuan utama ekspor gelap atau penyelundupan beras dari Indonesia yang dilakukan sejumlah pedagang. Malaysia dan Singapura juga menjadi tujuan ekspor gelap, meski jumlahnya tidak terlalu banyak dan diduga hanya menjadi tempat transit sebelum diekspor ke negara tujuan. Demikian dikatakan Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tahir kepada SP, Rabu (16/4).
Namun Winarno tidak mengetahui pasti volume beras yang diselundupkan, meski ia yakin penyelundupan sudah berlangsung sejak Februari 2008. Sebagai gambaran, tren penjualan beras antarpulau pada Maret 2008 tiba-tiba melonjak tiga kali lipat dari biasanya. Padahal tidak ada lonjakan permintaan beras dari daerah nonpenghasil beras atau kebutuhan cenderung stabil. "Yang pasti, pelaku penyelundupan adalah pedagang bermodal besar, menguasai jalur-jalur pengiriman ke luar negeri, dan memiliki hubungan atau jaringan kuat dengan pembeli dari luar negeri," ujarnya.
Disebutkan, Kota Medan, Surabaya, dan Makassar, diduga menjadi pintu keluar ekspor gelap. Medan menjadi pintu keluar bagi beras yang berasal dari kawasan Sumatera, Surabaya untuk beras dari Jawa timur dan sebagian Jawa Tengah, sedangkan Makassar menjadi pintu keluar bagi beras asal Sulawesi. Sedangkan Jakarta hanya menjadi tempat transit beras yang berasal dari Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah, sebelum dikirim ke negara tujuan.
Kekhawatiran ekspor gelap juga dikemukakan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu. Mari menduga Filipina menjadi negara tujuan ekspor gelap, mengingat negara tersebut sedang dilanda krisis pangan, di tengah melambungnya harga pangan dunia. "Kita mencermati dengan disparitas harga saat ini, yang akan paling peka wilayah yang menuju ke Filipina. Harga beras Indonesia dan Malaysia hampir sama. Vietnam dan Thailand negara pengekspor," paparnya.
Saat ini Filipina memerlukan impor beras dalam jumlah tinggi untuk memenuhi cadangan beras dalam negerinya yang minim. Saat ini Filipina membutuhkan 1,5 juta ton beras, setelah merosotnya produksi pada 2007/2008. Adanya disparitas harga yang cukup tinggi dengan Indonesia membuat beras Indonesia diselundupkan ke sana.
Tak Dinikmati Petani
Berdasarkan pantauan SP di beberapa kawasan lumbung beras, seperti Indramayu, Cirebon , dan Brebes, harga beras di penggilingan padi untuk beras medium kelas I berkisar antara Rp 4.200 hingga Rp 4.300 per kilogram. Jenis beras ini kualitasnya jauh lebih bagus dibanding beras asal Thailand dan Vietnam dengan kadar pecahan (broken) hanya 5 persen.
Jika beras dibawa ke Jakarta, ada tambahan biaya transportasi Rp 100 per kilogram. Sementara untuk pengiriman ke luar negeri, biaya pengiriman diperkirakan Rp 200 per kilogram. Artinya, modal pedagang hanya sekitar Rp 4.500 per kilogram. Saat ini harga beras rata-rata di pasar internasional mencapai US$ 800 per ton. Dengan kurs Rp 9.200 per dolar, maka harga beras di pasar internasional saat ini sekitar Rp 7.300 per kilogram.
"Jika seorang pedagang mampu menyelundupkan 10.000 ton saja. Dengan hanya mengambil keuntungan bersih Rp 1.000 per ki- logram saja, Ia sudah meraup untung Rp 10 miliar. Siapa yang tidak tergiur," ujar Winarno.
Sedangkan di tingkat petani, harga gabah masih berkisar antara Rp 1.800 hingga Rp 2.100, bergantung kualitasnya. Para petani yang terikat dengan tengkulak, gabah kering panen (GKP)-nya hanya dihargai sekitar Rp 1.700 sampai Rp 1.800 per kilogram.
Sementara, para pedagang dari luar daerah, seperti dijumpai SP di area persawahan di pinggir jalur Pantura Brebes, berani membeli gabah petani dengan harga Rp 2.100 per kilogram. Dengan struktur harga seperti itu, kata Winarno, petani tidak ikut menikmati tingginya harga beras saat ini.
Dia mendesak pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebagai jalan untuk menutup celah terjadinya ekspor. "Jika disparitas harga tidak terlalu tinggi, ekspor gelap maupun resmi, menjadi tidak lagi menjanjikan keuntungan," ujarnya.
Kenaikan HPP, katanya, akan menggairahkan petani karena kini mereka bisa menjadikan gabah sebagai penopang hidup, bahkan meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, jika HPP gabah tinggi, petani akan lebih senang menjual beras ke Bulog. Hal itu tentu akan membuat cadangan beras di tangan pemerintah melimpah, sehingga gejolak harga beras lebih mudah diatasi.
Terkait hal itu, Menteri Pertanian Anton Apriyantono meminta aparat keamanan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat memperketat pengawasan terhadap upaya penyelundupan beras. Pengawasan terutama dilakukan pada jalur laut yang berdekatan atau berbatasan langsung dengan negara tetangga, seperti Filipina. [L-11]