[KUPANG] Gunung Egon (1.701 meter) yang terletak di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (15/4) malam sekitar pukul 22.15 Wita, mengeluarkan bunyi gemuruh disertai semburan debu yang cukup tinggi.
Bunyi gemuruh itu mengejutkan penduduk yang tinggal di sekitar lereng gunung tersebut. Mereka panik dan berlarian meninggalkan permukiman, serta mengungsi ke perkampungan sekitar yang dirasakan cukup aman.
Kapolsek Waigete, Aiptu Moh Suksin yang dihubungi Rabu (16/4), melalui telepon selularnya, mengatakan hanya satu kali terdengar bunyi gemuruh, namun semburan debu cukup tebal, sehingga masyarakat di sekitar lereng gunung menjadi panik dan berlarian meninggalkan tempat tinggalnya.
Sampai Rabu (16/4), tidak terlihat perkembangan yang berarti, sehingga Kapolsek bersama Camat Waigete, S Wilhelmus harus berkeliling ke perkampungan yang berada di kaki Gunung Egon untuk mengimbau warga tetap tenang dan kembali ke ke rumah masing-masing.
"Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus menunggu perkembangan lebih lanjut. Apalagi hari ini dilaksanakan pilkada di Kabupaten Sikka. Jadi kembali ke tempat masing-masing untuk memberikan suara di TPS masing-masing," kata Kapolsek
Sementara itu Bupati Sikka, Alexander Longginus, tidak dapat dihubungi karena telepon selularnya tidak aktif. Demikian juga dengan sejumlah pejabat lainnya. Diduga mereka sibuk dengan pelaksanaan pilkada, apalagi Longginus tercatat sebagai salah satu calon bupati yang ikut dalam pilkada hari ini.
Gunung Egon merupakan salah satu dari 15 gunung api aktif yang terdapat di Pulau Flores. Gunung Egon dan Gunung Lewotobi selalu dipantau petugas vulkanologi Bandung. Gunung Lewotobi yang terletak di perbatasan dengan Kabupaten Flores Timur, pada akhir 2003 lalu sempat meletus, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Fase Letusan
Hasil pengecekan tim tanggap darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) ke Dusun Bao Krenget, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak menemukan korban akibat letusan freatik (uap air, abu, serta material kecil) dari Gunung Egon, Selasa (15/4) sekitar pukul 22.15 Wita. "Ternyata mereka sudah mengungsi," kata Kepala PVG Surono kepada SP, Rabu (16/4) pagi.
Masyarakat di sana, papar dia, mengungsi ke ke desa Lere dan Desa Natakoli. Langkah mengungsi ini sudah sangat tepat. Pasalnya, semenjak tahun 2004 lalu, PVG sudah merekomendasikan kepada pemerintah setempat untuk merelokasi warganya dari Dusun Bao Krenget.
"Posisi mereka di arah bukaan kawah gunung. Berhadapan langsung. Kalau ada awan panas pasti kena. Jaraknya sekitar 1,8 kilometer," katanya.
Letusan freatik itu, sambungnya, masih terjadi hingga pagi ini. Selain itu hembusan asap dengan ketinggian 100 meter masih terlihat. Berdasarkan pengamatan, selain mengeluarkan letusan, gunung ini mengeluarkan suara gemuruh dari kawah. [120/153]