[JAKARTA] Kerja sama pemerintah Indonesia sangat diharapkan oleh Pusat Kolaborasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO CC) dalam pengiriman sampel virus flu burung atau H5N1. Tujuannya menghimpun informasi mengenai perkembangan terakhir virus tersebut dan mengurangi pandemik yang makin meluas.
Demikian ditegaskan Direktur WHO Collaborating Centre (WHO CC) Anne Kelso saat "Workshop Kesehatan Manusia, Indonesia-Australia, Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (15/4).
"Mengingat virus H5N1 sangat cepat mutasinya dan berubah dalam waktu yang tak bisa diprediksi, maka diperlukan kerja sama dari semua negara untuk menyerahkan sampel dari kasus flu burung terbaru yang berguna untuk kepentingan umat manusia menghadapi penyakit ini," kata Anne.
Ia menambahkan, jika pemerintah Indonesia berhenti mengirim sampel virus, Indonesia dan dunia akan kekurangan informasi tentang virus tersebut. WHO CC dan pemerintah Indonesia akan terus berdialog untuk mencapai kesepakatan mengenai pengiriman sampel virus tersebut.
Anne memahami kekhawatiran pemerintah maupun negara berkembang lain akan kemampuan membeli vaksin. Namun, WHO dan perusahaan pembuat vaksin memiliki komitmen agar negara-negara berkembang bisa memperoleh vaksin.
Ia memastikan virus yang dikirim ke WHO tidak disalahgunakan. WHO telah melakukan pekerjaannya untuk meneliti potensi virus agar bermanfaat untuk situasi pandemik, sehingga akan berguna bagi siapa pun di dunia.
Empat Laboratorium
Saat ini ada empat laboratorium WHO CC, yakni Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan Australia. Anne mengepalai WHO CC di Melbourne, Australia yang saat ini melakukan riset dengan beberapa negara dengan konsep pertukaran dua arah mengenai informasi, sampel virus dan ilmuwan.
Pertukaran tersebut didasari kerja sama yang saling menguntungkan untuk mengatasi virus ini.
Sedangkan menurut Direktur Pusat Riset Biomedical Dr Endang Sedyaningsih, pertukaran sampel virus H5N1 dengan Australia tidak perlu dikhawatirkan akan disalahgunakan. [MYS/S-26]