Seorang siswa berusia 13 tahun di Jerman mengoreksi perhitungan Badan Antariksa Amerika Serikat, (NASA) mengenai kemungkinan tabrakan komet Apophis dengan bumi. Nico Marquardt, siswa tersebut, menggunakan teleskom milik Institut Astrofisika di Potsdam, untuk menghitung kemungkinan 1 berbanding 450.
Remaja tersebut membuat temuannya sebagai bagian dari kompetisi ilmiah regional, dengan makalah yang diberinya judul "Apophis, Komet Pembunuh". Sebelumnya NASA menyebut kemungkinan 1 berbanding 45.000, Apophis akan bertabrakan dengan bumi.
Apophis akan melintasi bumi pada ketinggian 32.500 kilometer. Jika Apophis mengenai salah satu planet saat melintas dekat dengan bumi pada 13 April 2029, maka garis edarnya akan berubah dan kemungkinan akan bertabrakan dengan bumi pada orbit berikutnya di 2036. Bola besi dan iridium dengan dengan diameter 30 meter, dan berat sekitar 200 miliar ton itu akan jatuh di laut Atlantik. Bertabrakannya Apophis dengan bumi itu akan mengakibatkan gelombang tsunami besar. [AFP/B-14]
Botol dan batu dilemparkan para pelajar SMA dari seantero Prancis dalam sebuah demonstrasi di Paris, Selasa (15/4). Demonstrasi yang menentang pengurangan pekerjaan guru menyedot kehadiran sedikitnya 20.000 pengunjuk rasa. Meskipun sebagian besar pengunjuk rasa tetap bertindak tenang, polisi menggunakan gas air mata dan menuduh sejumlah demonstran berupaya menyulut bentrokan antarkelompok pelajar dari sejumlah lingkungan yang saling berseteru. Beberapa orang ditahan. Tetapi belum ada kejelasan berapa jumlah yang pasti.
Demonstrasi para pelajar SMA di Prancis kemarin merupakan yang keenam kalinya dalam dua minggu terakhir. Para pelajar khawatir dengan rencana Presiden Nicolas Sarkozy untuk memangkas 11.200 pekerjaan dari sistem pendidikan nasional pada tahun ajaran mendatang. Sebanyak 8.800 pekerjaan yang akan dipangkas itu ada di tingkat SMP dan SMA. Para pelajar khawatir pemangkasan akan mengakibatkan kelas penuh sesak dan terjadi pembatasan jumlah mata pelajaran. [AP/E-9]
Para penjaga keamanan Tiongkok yang mengawal perjalanan estafet obor api Olimpiade, bisa menghadapi penahanan jika mereka ringan tangan terhadap para pengunjuk rasa, selama berada di Australia pada 24 April mendatang. Demikian disebut Ted Quinlan, ketua satuan tugas (satgas) pengamanan estafet obor Olimpiade di Canberra, Rabu (16/4).
Dia menegaskan, para pengawal dari Tiongkok tidak akan bertanggung jawab untuk masalah keamanan estafet obor Olimpiade selama di Canberra. "Jawabannya tidak, mereka tidak akan. Bahkan, mereka bisa ditahan jika mereka melayangkan tangannya pada siapapun," kata Quinland kepada radio Australia. Para petugas keamanan di sekitar obor Olimpiade telah menjadi isu panas sejak protes anti-Tiongkok berusaha memadamkan api yang dijadikan simbol Olimpiade. [AP/B-14]