[PORT-AU-PRINCE] Pedagang dan warga masyarakat di Haiti terlibat bentrokan terkait dengan harga beras, Selasa (15/4), tiga hari setelah pemerintah di negara itu mengumumkan kesepakatan untuk mengurangi harga beras sebesar 15 persen, setelah rangkaian kerusuhan selama sepakan, yang mengakibatkan sedikitnya lima orang tewas.
Para pedagang mengatakan, warga berharap harga beras turun secepatnya setelah pengumuman pemerintah, Sabtu (12/4), untuk memotong harga satu karung beras ukurang 50 Kg, dari US$ 51 menjadi US$ 43. Tetap dijualnya beras dengan harga mahal, memancing kemarahan warga Haiti yang sudah didera kelaparan.
Perselisihan pedagang dan warga itu membuat ketegangan tetap terjadi di negara yang sebagian besar warganya berpenghasilan kurang dari US$ 2 atau setara Rp 18.400 sehari. Belum ada laporan, apakah ada korban akibat bentrokan yang terjadi kemarin.
Parlemen mendesak pemerintah segera mengumumkan, kapan pengurangan harga akan sampai di pasaran, untuk menghindari bentrokan berlanjut. "Pemerintah dan para importir harus mengatakan, tanpa menunggu lebih lama lagi, kapan pastinya pemotongan harga beras akan diberlakukan," kata Jean Beauvior Dorson, anggota parlemen Haiti.
"Jika pemerintah gagal melakukan itu, maka akan terjadi insiden kekerasan lebih jauh antara pedagang dan warga," imbuhnya. [Reuters/B-14]