[WASHINGTON] Tudingan-tudingan seputar rasisme dan elitisme semakin membara di tengah kampanye dua bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Rodham Clinton dan Barack Obama, Selasa (15/4), satu minggu sebelum diselenggarakannya pemilihan pendahuluan (primary) Pennsylvania pada 22 April mendatang. Kontes Pennsylvania dipandang banyak kalangan sangat menentukan bagi keberlangsungan pencalonan Hillary.
Kontes antara kedua calon kandidat semakin sengit, setelah masing-masing kubu saling membongkar kesalahan kampanye. Selama berhari-hari, Hillary menyerang Obama atas sejumlah pernyataan yang dinilai meremehkan para pemilih dari kalangan kelas pekerja, yang sesungguhnya blok penting di Pennsylvania.
Obama dalam pernyataan kontroversial pekan lalu menyebutkan, perasaan frustasi akibat kesulitan ekonomi orang-orang yang bermukim di kota-kota kecil semakin tajam, di mana mereka akhirnya mengekspresikan perasaan dengan menggunakan senjata atau agama. Ucapan Obama disampaikan pada sebuah acara penggalangan dana di San Francisco.
Senator Illinois itu berupaya untuk menjelaskan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya untuk memenangkan dukungan suara dari para pemilih di kalangan kelas pekerja. Menurut dia, kalangan kelas pekerja semakin frustasi dengan kesulitan ekonomi yang dihadapi.
"Maka, tidak mengejutkan, bahwa ketika kesulitan hidup semakin besar dihadapi, mereka akan lari ke senjata atau agama, bersikap antipati terhadap orang-orang yang bernasib lebih beruntung ketimbang mereka, ataupun mengobarkan sentimen anti imigran atau sentimen anti perdagangan sebagai cara menjelaskan rasa frustasi mereka," papar Obama.
Kritik kembali dilancarkan tim kampanye Obama terhadap sejumlah pernyataan dari seorang pendukung Hillary yang mengatakan Obama tidak akan unggul dalam kampanye-kampanye kepresidenan apabila dia orang berkulit putih. Obama saat ini memang berhasrat menjadi presiden AS berkulit hitam yang pertama.
Menampik
Obama di sisi lain juga menampik anggapan seorang pemilih yang menyebutkan kritik Hillary, bahwa senator Illinois itu seorang elitis, sudah mendekati "prasangka". "Ini politik. Inilah yang kita lakukan secara politik ketika memulai sebuah pertarungan. Kita mulai melakukan serangan," ucap Obama di balaikota.
Untuk sementara,Obama unggul atas Hillary baik dalam perolehan suara, delegasi, maupun negara-negara bagian yang telah dimenangkan sejauh ini. Saat ini masih ada 10 kontes terakhir yang harus dilampaui dua kandidat, termasuk primary Pennsylvania pada Selasa pekan depan.
Komentar-komentar pedas tentang ras Obama itu sendiri dikeluarkan oleh Bob Johnson, seorang milioner pendiri Black Entertainment Television, jaringan kabel. Pernyataan-pernyataan itu mencuat ketika Johnson, yang juga berkulit hitam, tengah mendiskusikan pernyataan serupa tentang Obama yang disampaikan sebelumnya oleh Geraldine Ferraro, juga seorang pendukung Hillary.
"Apa yang saya yakini dimaksudkan oleh Geraldine Ferraro adalah apabila Anda mengambil seorang senator baru dari Illinois bernama 'Jerry Smith' dan ia mengatakan 'Saya akan mencalonkan diri jadi presiden', apakah ia akan mendapat 90 persen suara orang kulit hitam? Jawabannya, kemungkinan tidak!" ucap Johnson.
Juru bicara kampanye Obama, Dan Leistikow, menyebut komentar-komentar tajam Johnson adalah bagian dari deretan panjang komentar absurd Bob Johnson dan pendukung Hillary lainnya yang tidak menyampaikan apapun atau bertindak apapun untuk memenangkan pencalonan. [AP/AFP/E-9]