![]()
AP /Dmitry Lovetsky
Presiden Rusia Vladimir Putin sambil mengangkat kedua tangannya dan presiden terpilih Dmitry Medvedev (kiri) mengikuti pesta di Kongres Russia, Selasa (15/4).
[MOSKWA] Vladimir Putin yang akan menyerahkan posisinya sebagai presiden Rusia pada Mei mendatang, menerima jabatan ketua Partai Persatuan Rusia, partai yang berkuasa di Rusia. Penunjukkan Putin, yang akan menambah kekuasaannya sebagai perdana menteri itu, disetujui lebih dari 550 delegasi dalam kongres partai, Selasa (15/4).
Dalam pidatonya, Putin menyebut dengan dia menduduki posisi pimpinan partai dan perdana menteri, akan memastikan kepemimpinan politik dan birokrasi berfungsi sebagai satu tubuh untuk kebaikan rakyat. "Sekarang ini lebih dari sebelumnya, kita butuh konsolidasi kekuatan politik dan persatuan rakyat kita," katanya.
Dia merujuk keputusannya menerima posisi pimpinan partai sebagai langkah menyamai model demokrasi Eropa. Disebutnya, pemimpin partai menjadi perdana menteri adalah satu kepantasan, alami dan merupakan praktik yang lama terjadi pada negara-negara yang demokratis.
Tapi analogi yang disebutkan Putin tidak begitu tepat karena perdana menteri di Rusia ditunjuk oleh presiden. Sedangkan pada model demokrasi parlementer di Eropa, pimpinan partai pemenang pemilu, yang mendapat kursi mayoritas parlemen, otomatis terpilih sebagai perdana menteri.
Kritikus menilai argumen Putin sebagai upaya mencari legitimasi terhadap proses yang terjadi di negeri itu, yang tampak sebagai langkah kembali ke masa Uni Soviet, di mana Partai Komunis tidak punya lawan, dan pimpinan partainya merupakan pimpinan tertinggi negara.
Sebagian pengamat menyebut keputusan Putin memimpin partai sebagai manuvernya untuk menjadi pemimpin di balik layar, yang mengendalikan presiden terpilih Medvedev, dengan kekuasaannya di parlemen. Medvedev menolak tawaran untuk masuk dalam partai, yang akan membuatnya dalam struktur organisasi partai berada di bawah Putin.
Putin sendiri tidak pernah menjadi anggota partai sebelumnya, yang memperkuat citra dia layaknya kaisar yang berada di atas partai politik. Pengamat politik Rusia, Nikolai Petrov, menyebut diterimanya posisi pimpinan partai oleh Putin, menandai perubahan serius dalam sistem politik Rusia.
"Itu artinya menggeser kendali dari Kremlin ke perdana menteri," katanya.
Pengamat Rusia, Dmitry Oreshkin, mengatakan, sebagai pimpinan partai, Putin akan memiliki kontrol terhadap Medvedev. "Bahkan, Putin berusaha untuk membuat kuasa pemerintahan tetap ada padanya," tukasnya.
Kekuasaan Besar
Pengamat politik Vyacheslav Nikonov menambahkan, Partai Persatuan Rusia memiliki kekuasaan yang besar, yang membuat mereka bisa melakukan apapun, termasuk pemecatan presiden. "Sebaiknya dia (Putin) memiliki kekuasaan itu tetap di bawah kontrol," ucapnya.
Pada berbagai kesempatan, Putin telah berjanji untuk tidak mengalihkan kekuasaan presiden kepada perdana menteri, yang merupakan posisi kedua menurut konstitusi Rusia. Tapi dia tidak membantah mengenai rencananya menggunakan Duma atau parlemen untuk mewujudkan keinginannya setelah dia turun dari kursi presiden.
Terpilihnya Putin sebagai ketua Partai Persatuan Rusia untuk masa jabatan empat tahun, akan memberikannya kekuasaan kuat di parlemen dalam kepemimpinan Medvedev sebagai Presiden Rusia, dan berpotensi untuk menjadi papan loncatnya untuk kembali ke Kremlin pada 2012.
Konstitusi Rusia membatasi masa jabatan presiden hanya dua kali berturut-turut. Namun tidak dilarang untuk kembali menjabat sebagai presiden setelah diselingi satu periode kepresidenan. [AP/B-14]