
SP/Ferry Kodrat
Para penari asal Jepang yang tergabung dalam Strange Kinoko Dance Company membawakan tari kontemporer berjudul "Touching Your Face While You Sleep" di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (15/4) dan Rabu (16/4).
Kehidupan manusia di dunia begitu keras dan berat. Bahkan pada saat tidur pun, manusia masih mengalami "kesibukan" dunia bawah sadar. Rutinitas manusia seolah tak memberi waktu cukup untuk istirahat.
emangat yang tinggi jika tidak dibarengi fisik yang prima tidak cukup untuk melakukan tari kontemporer seperti yang diperlihatkan lima perempuan asal Jepang, yang tergabung dalam Strange Kinoko Dance Company.
Bersama koreografer sekaligus sutradara, Chie Ito, empat penari lainnya, yaitu Masako Ide, Satomi Amada, Masayo Sato, dan Memi Shinozaki memperlihatkan gerakan-gerakan energik yang membutuhkan tenaga ekstra dalam pentas tari kontemporer "Touching Your Face While You Sleep" di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (15/4) hingga Rabu (16/4).
Selama 60 menit pergelaran, hampir tidak ada kata istirahat dari kelima penari tersebut jika sudah berada di atas panggung. Bukan hanya kaki dan tangan, melainkan hampir seluruh anggota tubuh mereka bergerak secara dinamis. Bukan itu saja, tari kontemporer yang mereka bawakan membutuhkan beberapa teknik, seperti teknik menjatuhkan diri, menggendong/mengangkat teman mainnya, jungkir balik/salto/koprol, merayap, melompat, atau memutar tubuh dengan cepat bak penari balet. Selama pertunjukan, para penari bertelanjang kaki.
Semua gerakan disesuaikan dengan lagu latar yang berjumlah lebih dari 10 lagu. Jika lagu bertempo lamban, seperti lagu love song, jazz, atau blues, maka para penari bergerak perlahan. Gerakan-gerakan tubuh yang elastis atau lentur itu tetap membutuhkan tenaga. Jika lagu latar bertempo cepat seperti rock and roll, hip hop, atau rock, mereka menari dengan sangat lincah dan terampil. Bahkan, otot-otot kaki dan tangan pun tampak menegang. Yang pasti, hampir tidak ada anggota tubuh yang diam, mulai dari kepala hingga kaki.
Tidak heran, bila setiap adegan demi adegan, napas mereka begitu tersengal-sengal dan keringat begitu deras menetes. Energi yang sudah begitu banyak terbuang tidak mempengaruhi intonasi suara mereka untuk tetap merdu dalam melantunkan lagu yang dalam Bahasa Indonesia berjudul "Kehidupan" karya Ammakasie Noka. Bukan hanya seorang penari saja, lagu ini dinyanyikan secara bergantian oleh seluruh penari sambil melakukan gerakan-gerakan yang energik.
Mereka juga berdialog dalam bahasa Indonesia, seperti halnya operet. Contohnya, Masayo Sato dan Memi Shinozaki berdialog "Tadi pagi makan apa? Dijawab, "Tempe. Saya suka makan tempe..." Kemudian, "Aduh lapar sekali...Mau makan nasi goreng. Mau makan ayam goreng. Mau makan sate ayam. Tapi, sate ayam di Indonesia sedikit pedas..." Begitulah salah satu dialog yang mereka bawakan sambil menari.
Tata panggung sederhana yang hanya berlatar kain berwarna kuning tua, kuning muda, dan oranye, yang menjulur dari atas sampai ke lantai panggung, namun permainan lampu yang dilakukan Yuuki Sugahashi membuat tarian menjadi indah. Kesederhanaan kostum yang dikenakan penari, terdiri dari celana pendek atau rok sebatas lutut dengan baju tanpa lengan, tidak mengurangi penampilan eksotika gerak kelima penari.
Kehidupan
Seusai pementasan, Chie Ito menjelaskan bahwa nafas yang tersengal-sengal serta keringat yang membasahi sekujur tubuh penari saat membawakan tari kontemporer melambangkan begitu kerasnya kehidupan di dunia ini.
"Apa yang saya tampilkan bersama para penari lainnya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari. Itu pulalah yang menjadi alasan kami mengapa lagu latar yang mengiringi para penari selalu berbeda-beda, ada yang lambat dan keras. Lagu yang berbeda-beda itu sesuai dengan kehidupan sehari-hari yang selalu berbeda-beda, karena setiap manusia memiliki perasaan yang berbeda," katanya.
Untuk mempersiapkan pementasan di Jakarta yang disponsori oleh Japan Foundation ini, menurut Ito, pihaknya tidak melakukan persiapan secara ekstra, sebab tarian serupa pernah dibawakan di Tokyo, Jepang, Agustus tahun lalu.
Soal tingkat kesulitan dalam melakukan tari kontemporer, perempuan kelahiran Tokyo tahun 1970 ini menjelaskan, yang tersulit adalah ketika mengangkat seorang penari. Tarian yang sama juga akan dibawakan di Yogyakarta pada 18 April dan Bandung pada 21 April. [F-4]