[SINGAPURA] Harga minyak di perdagangan Asia menurun, Rabu (16/4), setelah mencapai rekor tertinggi terdorong oleh kekhawatiran tentang pasokan, kata para dealer.
Dalam perdagangan pagi, kontrak utama New York minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Mei, turun 30 sen pada US$ 113,49.
Pada awal kontrak sempat melampaui US$114 dolar AS per barel untuk pertama kalinya mencapai US$114,08, setelah lantai perdagangan di New York Mercantile Exchange tutup pada Selasa.
Minyak mentah jenis Brent North Sea untuk pengiriman Juni turun 38 sen pada 111,20 dolar AS per barel.
Brent untuk Mei berakhir pada Selasa di sebuah rekor US$111,31 per barel setelah mencapai level tertinggi perdagangan harian US$112,08
Para analis mengatakan kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi bahwa laporan cadangan minyak dari departemen energi (DoE) AS yang akan dirilis Rabu, akan menunjukkan penurunan lagi untuk stok bensin dan minyak pemanas.
Pengurangan produksi baru-baru ini juga telah menambah kekhawatiran tentang pasokan minyak, kata para analis.
Terus Naik
Pengamat perminyakan Priagung Rakhmanto mengatakan, kenaikan harga minyak akan terus merangkak naik. Hal itu dipicu oleh lambannya perekonomian Amerika dan dolar melemah sehingga pemilik modal banyak berpindah ke pasar komoditas.
"Kenaikan harga minyak ini tidak bisa diprediksi akan naik atau turun. Kemungkinan pada tahun 2008 akan di atas angka US$ 100 per barel. Kita tunggu saja," katanya kepada SP di Jakarta, Rabu (16/4).
Priagung menilai kenaikan harga ini tidak akan mampu ditahan oleh APBN. Dikatakannya Ketika harga minyak di angka US$95 per barel saja APBN sudah mengalami defisit sebesar Rp 95,4 Triliun.
Menurutnya, mengatasi kenaikan harga minyak tersebut pemerintah sebaiknya menekan perhitungan alpha dalam perhitungan subsidi minyak. Saat ini, dalam perhitungan subsidi BBM pemerintah menggunakan formula harga minyak Singapura Mid of Platts Singapore/MOPS) ditambah alpha 9 persen.
Dikatakannya, agar kenaikan harga minyak dapat ditopang APBN pemerintah perlu menekan perhitungan alpha menjadi 5 persen.
"Dengan menggunakan alpha 5 persen perhitungan subsidi dapat ditekan dan diturunkan, pemerintah dapat menghemat APBN hingga Rp 10 triliun," paparnya.
Ditegaskannya, pemerintah juga harus memiliki komitmen dalam melaksanakan diversifikasi energi dan melakukan penggarapan energi alternatif. Subsidi langsung ke masyarakat miskin perlu di tata ulang sehingga tepat sasaran.
[DLS/M-6]