SUARA PEMBARUAN DAILY

2008, Ekspor Sepatu Ditargetkan Capai US$ 1,8 Miliar

[JAKARTA] Meski perekonomian dunia tengah bergejolak, Departemen Perindustrian (Depperin) optimistis raih target ekspor sepatu dan alas kaki tahun 2008 sebesar US$ 1,8 miliar Jumlah itu meningkat 10 persen dibanding tahun 2007 senilai US$1,6 miliar .

"Potensi ekspor sepatu kita masih sangat besar, terutama untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat yang menjadi pasar utama Indonesia," kata Direktur Industri Aneka Depperin Budi Irmawan dijumpai SP usai acara pembukaan pameran produk industri alas kaki dan peralatan olahraga di Gedung Depperin, Jakarta, Selasa (15/4).

Memang, lanjutnya, sebagian besar ekspor sepatu dan alas kaki Indonesia merupakan produk pesanan dari pemegang merek sepatu dunia, seperti Reebok dan Adidas. Tetapi, saat ini, industri sepatu dan alas kaki nasional juga telah mampu mengembangkan merek sendiri.

"Ada banyak industri sepatu skala menengah yang mampu melakukan ekspor, terutama untuk produk sepatu kasual yang terbuat dari kulit. Apalagi, craftmanship (buatan tangan) kita memang dikagumi dunia luar," tuturnya.

Menurut dia, ke depan, akan ada pengembangan industri sepatu nasional dan akan diarahkan ke produksi sepatu kasual yang pasarnya lebih menggiurkan. "Saat ini, permintaan sepatu keselamatan (safety shoes) cukup besar dari dalam negeri. Kami mendukung pengembangan sepatu untuk keamanan tersebut," ujar Budi.

Direktur Jenderal Industri Alat Transport dan Telematika Depperin Budi Darmadi menambahkan, sepatu kulit menjadi komoditi ekspor alas kaki Indonesia yang paling banyak digemari, terutama di Italia.

Tetapi, sambungnya, sepatu kulit tidak mudah untuk dikembangkan. Hal tersebut dikarenakan kesulitan dalam mendapatkan bahan bakunya. "Selain bahan bakunya yang sulit didapat, kami juga terbebani dengan PE (pungutan ekspor) yang mencapai 25 persen."

Investasi Baru

Di satu sisi, industri sepatu dan alas kaki di Indonesia dinilai membutuhkan investasi baru untuk mendorong perkembangan pada unit-unit terkecil. Apalagi, industri ini merupakan sektor yang padat karya dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang tinggi.

"Kita semua berkewajiban untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua investor yang telah dan berencana akan menanamkan investasinya di Indonesia. Hal ini harus kita lakukan untuk mengembangkan usaha dalam negeri, terutama industri kecil," ujar Budi yang berbicara mewakili Menteri Perindustrian Fahmi Idris.

Kepala Sub Direktorat Program Direktorat Industri Aneka Depperin AH Ginting mengungkapkan, nilai ekspor produk alas kaki yang mampu dikantongi Indonesia mencapai US$1,6 miliar pada 2007, sedangkan peralatan olahraga mencapai US$50,7 juta.

[CNV/M-6]


Last modified: 16/4/08