[JAKARTA] Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus berupaya menjaga kestabilan makroekonomi, agar sentimen negatif di pasar keuangan yang terjadi sekarang ini, tidak merambat ke sektor riil.
Sejauh ini, sentimen negatif di pasar keuangan belum merambat ke sektor riil, meskipun kondisi yang tidak stabil telah menyebabkan beberapa perusahaan menunda rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Selain melalui IPO, perusahaan bisa memperoleh dana melalui pinjaman bank untuk membiayai operasional mereka. Jadi sektor riil masih bisa bergerak," kata Presiden Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Kahlil Rowter, dalam diskusi mengenai Dinamika dan Prospek Pasar Saham Indonesia, di Jakarta, Selasa (15/4).
Menurut dia, sentimen negatif pasar keuangan selama triwulan I 2008, terutama terjadi di BEI karena investor menarik portofolionya dari saham dan obligasi. Selain itu, kondisi pasar saham yang tidak stabil, membuat sejumlah perusahaan menunda rencana IPO di BEI.
Namun dari sektor perbankan, tetap terjadi pertumbuhan kredit karena suku bunga dan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil. Hal itu menunjukkan pelaku usaha masih tetap meminjam untuk membiayai operasional mereka.
Dia mengungkapkan, sektor riil akan tetap bergerak, selama BI mampu menjaga suku bunga (BI rate) dan nilai tukar rupiah di kisaran stabil dan pemerintah dapat mengendalikan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan pangan.
Tapi kalau nilai tukar melemah dan BI rate naik, begitu juga inflasi akibat kenaikan harga tak mampu dikendalikan, kemungkinan pelaku usaha akan ragu meminjam ke bank untuk melakukan ekspansi usaha.
"Ini yang ditakutkan akan mengancam sektor riil, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Dia menilai, BI rate di level 8 persen dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 9.100 sampai Rp 9.200 cukup bagus untuk kondisi perekonomian saat ini dan dapat tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, meski tak sebesar tahun lalu.
Domestik
Sementara itu, pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, gejolak pasar keuangan yang membuat indeks tertekan adalah fenomena global. Dibandingkan negara-negara lain, BEI masih cenderung stabil.
"Year to date, bursa kita baru terkoreksi 17 persen, sedangkan bursa lain ada yang sudah terkoreksi hingga 25 persen. Secara year on year, indeks kita selama triwulan I 2008 masih positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Raden.
Diungkapkan, terkoreksinya indeks justru disebabkan kepanikan investor domestik daripada investor asing. Buktinya, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) bertambah sekitar Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun dari posisi sebelumnya Rp 80 triliun. [J-9]