[INDRAMAYU] Departemen Perdagangan baru saja mengumumkan aturan mengenai ekspor beras. Namun, banyak pihak menengarai praktik penyelundupan atau ekspor gelap sudah terjadi sejak Februari 2008.
Ketua umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengatakan, sinyalemen adanya ekspor gelap bisa dilihat dari volume perdagangan antarpulau saat ini.
"Dari pantauan kami di lapangan transaksi perdagangan beras antarpulau periode Januari-Maret 2008, naik tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu. Ini aneh karena kebutuhan dalam negeri setiap tahun sama," kata Winarno di Indramayu, Selasa (15/4).
Berdasarkan data KTNA, volume perdagangan beras antarpulau di Pasar Induk Cipinang pada Januari 2008 tercatat 120.000 ton, Februari naik menjadi 168.000 ton, dan berikutnya pada Maret melonjak tajam menjadi 368.000 ton.
Menurut Winarno, penyelundupan beras ke luar negeri dipicu selisih harga yang tinggi. Pekan lalu harga beras di pasar internasional sudah menembus US$ 800 per ton. Sinyalemen adanya penyelundupan juga dikemukakan pengusaha beras Brebes Jawa Tengah, Rifki.
Menurut pengusaha yang menjadi mitra Bulog itu, dua bulan terakhir cukup banyak pengusaha dari luar daerah yang aktif mencari beras ke sentra-sentra beras di Brebes dan Tegal.
Hal senada diungkapkan Kepala Subdivre Bulog Pekalongan, Hamid. Ia menuturkan, volume kontrak antara pedagang mitra Bulog dengan Dolog Pekalongan tahun ini menurun drastis bila dibanding tahun lalu. Jika pada Maret-April 2007 volumenya mencapai 1.000 ton per nilai kontrak, periode yang sama tahun ini hanya sekitar 150 ton per nilai kontrak.
Tolak Ekspor
Dalam dialog antara kalangan petani Jawa Barat dengan forum wartawan yang digelar Perum Bulog di Indramayu, Jawa Barat, Senin (14/4), muncul penolakan ekspor beras.
Meski pemerintah beralasan hanya memberi izin ekspor beras premium, menurut Ketua KTNA Indramayu, Sanusi, tetap akan mengurangi stok dalam negeri. "Saat ini semua jenis beras laku diekspor karena memang stok dunia sedang menipis," katanya.
Terkait hal itu, anggota KTNA Cirebon, Husein mendesak pemerintah segera menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani. Menurutnya, ada dua manfaat sekaligus jika HPP gabah dinaikkan.
Pertama, petani akan ikut menikmati keuntungan dari tingginya harga beras saat ini.
Kedua, kenaikan HPP gabah akan memperkecil disparitas harga di dalam dan luar negeri, sehingga akan mencegah ekspor gelap atau penyelundupan. Hal itu akan berdampak positif pada peningkatan volume cadangan beras nasional.
Ketua KTNA Majalengka, Boy Supangat mengusulkan HPP untuk gabah kering panen dinaikkan dari Rp 2.000 per kg menjadi Rp 2.500 per kg. Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) dinaikkan menjadi Rp 3.375 per kg, dan HPP beras menjadi Rp 5.500 per kg.
Menanggapi hal itu Menteri Pertanian, Anton Apriyantono meminta petani bersabar. "Masalah HPP gabah merupakan kewenangan Presiden, yang tentu saja banyak pertimbangan yang harus dilakukan," ujarnya.
Di tempat terpisah, staf pengajar Institut Pertanian Bogor Didin S Damanhuri menyarankan, pemerintah sebaiknya jangan terburu-buru mengekspor beras, karena masih banyak daerah yang justru kekurangan bahan pangan.
Dikatakan, persoalan krisis pangan yang banyak dibicarakan saat ini memang sangat kompleks. "Ini adalah problem jangka panjang, karena hal ini juga dipicu oleh kenaikan harga minyak bumi dan gas yang sudah melewati angka US$ 111 per barel," ujarnya.
Selain itu, negara-negara penghasil pangan, misalnya beras, sudah tidak mau lagi mengekspor beras, karena mereka sendiri pun berusaha mencukupi kebutuhan dalam negeri.
"Peningkatan yang didapat dari hasil beras kita memang sudah cukup, bahkan ada kelebihannya. Tapi yang perlu diingat, sebaiknya kita juga jangan terburu-buru mengekspor beras, karena sesungguhnya hal itu justru hanya akan menguntungkan para eksportir. Saya yakin keuntungan itu tidak akan turun ke tangan petani dan rakyat banyak," tambahnya.
Stabil
Sementara itu, harga beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta masih stabil. Harga beras ber- kisar antara Rp 4.200 sampai Rp 6.200 per kg, bergantung jenis dan kualitasnya.
Harga beras Pandan Wangi berkisar Rp 5.800 sampai Rp 6.600 per kg, lalu beras Rojo Lele berkisar Rp 4.800 sampai Rp 5.800 per kg, sedangkan Ramos berkisar Rp 5.000 per kg
"Kalau kualitas terendah itu harganya Rp 4.200, sedangkan kualitas tertinggi Rp 6.200 per kg," kata Djamalus, pedagang di Cipinang.
Sedangkan pedagang lainnya, Abdul Rauf, menyatakan harga beras sekarang memang relatif masih stabil. "Kenaikan harga beras itu dipengaruhi oleh musim. Kalau lagi musim paceklik, pasti harganya naik. Tetapi kalau lagi musim panen, harganya bisa turun. Untuk sekarang ini harga beras masih stabil, belum ada kenaikan atau penurunan yang drastis," ujarnya. [VAS/L-11]